Beranda blog

LEVIATHAN

Oleh: Dhimam Abror Djuraid*
Wartawan Senior,
Doktor Ilmu Komunikasi
Penasehat Swaranews

 

 

Jalan menuju demokrasi adalah jalan panjang, terjal, berbatu, licin, gelap, dan berbahaya. Di kanan kiri terdapat jurang menganga yang curam dan mematikan. Terpeleset ke kiri akan mati, terpelanting ke kanan akan tak bakal aman.

Jalan demokrasi ibarat lorong sempit yang tidak gampang untuk dilalui, sekali kita masuk ke dalamnya buka berarti kita akan aman dan bisa terus-menerus berada di jalurnya. Sedikit meleng saja kita akan terpelanting ke terperosok keluar dari koridor sempit itu dan kita akan terhempas kedalam jurang yang mematikan.

Di kiri kanan lorong sempit itu hidup sesosok monster ganas yang siap memangsa kita setiap saat. Thomas Hobbes (1588-1679l) menggambarkan mahluk itu sebagai Leviathan berbentuk monster laut, di tangan kanan memang pedang besar di tangan kiri memegang tongkat raja.

Leviathan, nama monster itu. Hobbes menjadikannya sebagai judul buku yang diterbitkan pada 1651. Hobbes menggambarkan manusia hidup selalu dalam kondisi ”Warre”, saling memangsa satu sama lainnya. Hidup digambarkan sebagai hidup yang “short, brutish, nasty, poor, solitary” (pendek, brutal, keji, melarat, dan sepi).

Karena kondisi yang buruk ini maka masyarakat butuh kekuasaan yang mengayomi. Siapakah pengayom itu? Monster Leviathan kah?

Namanya juga monster berwajah ganda? Leviathan bisa menjadi monster baik budi yang mewujudkan commonwealth, kesejahteraan umum. Tapi, kalau sisi jahat sang monster yang muncul maka masyarakat akan merasakan hiup yang “pendek, brutal, keji, melarat, dan kesepian”.

Hampir 450 tahun berselang sejak Hobbes memublikasikan Leviathan, kondisi hidup manusia modern ternyata tidak banyak berubah.Leviathan jahat masih tetap bermunculan dimana-mana. Kita semua masih harus terus berjuang menghadapi sang monster jahat.

Daron Acemoglu dan James Robinson (2019) melihat bahwa masyarakat dunia saat ini hidup dalam bayang-bayang Leviathan jahat. Setiap saat masyarakat bisa dicengkeram oleh monster itu. Mereka adalah masyarakat yang hidup di bawah rezim-rezim otoritarian dan diktatorial di pelbagai wilayah.

Dalam buku “The Narrow Corridor: State, Societies, and the Faith of Liberty” (2019) Acemoglu dan Anderson mengatakan bahwa demokrasi adalah lorong sempit (the narrow corridor) yang rumit dan sulit untuk dimasuki. Untuk bisa menembus lorong itu masyarakat harus bisa menjinakkan sang monster Leviathan jahat.

Jika Leviathan jahat berkuasa maka negara akan menjadi despotik, otoriter, dan anti-demokrasi. Hak-hak rakyat akan dikebiri dan hidup rakyat senantiasa dalam bahaya karena kebebasan (liberty) sudah diberangus. Negara menjadi terlalu kuat dan yang berkuasa pada keadaan seperti ini adalah monster Leviathan yang despotik (Despotic Leviathan).

Tapi, harus hati-hati. Jika masyarakat bisa menundukkan Leviathan maka tidak otomatis kondisi akan baik. Bisa jadi kondisi akan sama buruknya karena ketiadaan Leviathan diisi oleh kekuasaan masyarakat yang anarkis yang menghasilkan chaos karena absennya hukum karena monster Leviathan sudah tidak ada lagi (Absent Leviathan).

Lantas bagaimana solusi idealnya? Acemoglu dan Anderson menawarkan konsep keseimbangan antara kekuatan negara dan civil society (masyarakat madani), sebagaimana yang dikenal dalam konsep check and balances. Negara tidak holeh terlalu kuat supaya tidak menjadi despotik dan melahirkan Despotic Leviathan. Sebaliknya, masyarakat tidak boleh menjadi terlalu kuat karena akan terjadi anarki karena tidak adanya kekuatan Leviathan (Absent Leviathan).

Keseimbangan ini disebut sebagai “Efek Ratu Merah” (Red Queen Effect) yang diambil dari kisah klasik “Alice in Wonderland” dimana Alice seolah-olah tetap berjalan di tempat kendati sudah berlari kencang untuk mengejar Ratu Merah. Dalam terminologi modern sekarang Efek Ratu Merah ibarat orang berjalan di atas treadmill, tidak boleh terlalu cepat, tidak boleh terlalu lambat, harus selalu pas dan sejajar. Itulah kondisi ideal demokrasi, ketika kekuatan masyarakat dan negara berada pada keseimbangan.

Ketika tercapai keseimbangan itu maka koridor akan terbuka dan masyarakat akan menikmati kebebasannya.
Acemoglu melihat Amerika sebagai contoh ideal negara yang masuk dalam koridor demokrasi karena keseimbangan kekuatan negara vs masyarakat yang seimbang karena saling mengontrol. Sedangkan China dianggap berada di bawah kekuasaan monster Leviathan yang despotik karena kekuasaan negara yang terlalu kuat.

Dimana Indonesia berada? Adakah kita berada di dalam koridor sempit demokrasi? Beberapa perkembangan di tahun pertama periode kedua Presiden Joko Widodo ini menimbulkan kekhawatiran kita akan terpeleset ke kuadran Despotic Leviathan. Jokowi menunjukkan kecenderungan ingin menjadikan negara menjadi lebih kuat dibanding civil society.

Praktis tidak ada kekuatan oposisi yang efektif untuk mengontrol negara. Lembaga anti-korupsi seperti KPK akhirnya jatuh dalam kooptasi negara. Media yang diharapkan menjadi pilar keempat pengontrol kekuasaan sudah banyak dikebiri. Berbagai rancangan undang-undang baru yang dimunculkan–seperti undang-undang omnibus dan minerba–akan membuat kekuasaan negara makin digdaya dan masyarakat semakin lemah. Undang-undang ITE yang harusnya mengatur perputaran ekonomi digital malah lebih banyak dipakai untuk memberangus kebebasan berekspresi masyarakat.

Negara ini sudah menjadi terlalu kuat karena checks and balances dari oposisi tidak jalan. Masyarakat menjadi lemah karena dipersekusi dan ditakut-takuti dengan tuduhan sebagai radikal.

Negeri ini, pelan dan pasti, dikuasai oleh monster despotik Leviathan. ()

Prodi Kebidanan Universitas PGRI Adi Buana (UNIPA) Surabaya Tingkatkan Kemampuan Perseptor mentor Pembimbing Praktek Klinik Profesi Bidan

SURABAYA (Swaranews) – Rektor Universitas PGRI Adi Buana (Unipa ) Surabaya DR. Marianus Subandowo, MS.mengungkapkan ,alumni Prodi Kebidanan tidak hanya dituntut memiliki kompetensi sesuai tuntutan jaman namun juga harus memberikan pelayanan melalui pendekatan hati.

“Boleh saja memberikan pelayanan dengan memanfaatkan teknologi tapi harus dibarengi sentuhan hati,” demikian kata Rektor Unipa ketika memberikan sambutan sekaligus membuka Pelatihan Perseptor Mentor Pembimbing Praktek Klinik Kebidanan Unipa di Neo Hotel Sidoarjo (13/01). Diharapkan, dalam pelatihan yang berlangsung 2 hari itu, disamping mampu membekali para pembimbing praktek profesi kebidanan guna mewujudkan komunikasi efektif dengan mahasiswa Prodi Kebidanan.

Rektor UNIPA

“Pelatihan perseptor mentor kali ini tidak terlepas meningkatkan peran perseptor dalam aktifitas praktek dilapangan,” tandas Subandowo sapaan akrab Rektor Unipa Marianus Subandowo yang menambahkan pentingnya mewujudkan pendekatan psikologis secara optimal dalam memberikan pelayanan medis.

Ketua Panitia Pelatihan Mentor Perseptor Tetty Rihardini, SST, MKes. mengatakan dalam pelatihan tersebut pihaknya menghadirkan nara sumber Riza Amalia, SKeb.Bid, MKeb, Dwi Izzati Budiono Skeb.Bid, MSc. dan Dra.Jumiarni Ilya, MKes. “Pesertanya 29 orang berasal dari RS.Dokter Suwandi Surabaya, RSAL Surabaya, RS.Haji Surabaya, RSUD Sidoarjo, RS.Bhayangkara Surabaya, Puskesmas Jagir, Dupak, dan Simomulyo,” ujar Tetty Rihardini yang juga Kaprodi Kebidanan Fakultas Ilmu Kesehatan Unipa. Berbicara tujuan pelatihan kata Tetty, mengupayakan persamaan persepsi antara pembimbingan materi dikampus dan aktifitas praktek di lapangan. “Selama ini antara teori dari pembimbing di kampus dan pembimbing di lapangan sering kurang sinkron sehingga membingungkan mahasiswa”Ungkap Tety yang menambahkan adanya kondisi yang sinkron itu wajar dikarenakan adanya keterbatasan peralatan atau faktor lain. “Untuk itu cenderung dilakukan improvisasi yang perlu diantisipasi oleh mahasiswa prodi kebidanan,” tandasnya yang juga mengatakan aktifitas praktek dalam pelatihan ini diantaranya Pemeriksaan ibu hamil, Pertolongan kelahiran-persalinan dan perawatan Ibu nifas. Km

Pelukis S. Wandi Tetap Eksis Diantara Corak Ekpresionis dan Realis

SURABAYA (Swaranews) – Nama S.Wandi yang sudah malang melintang di ranah seni rupa-lukis tidak pernah jenuh meningkatkan bakat dan kreasinya sesuai tuntutan jaman.

“Saya melukis sudah sekitar 20 tahun dan memang awalnya saya menekuni corak realis tapi kemudian beralih ke corak ekpresionisme hingga sekarang,” ungkap S.Wandi yang alumni SMSR Surabaya (Sekarang SMKN 12 Surbaya) era 90 an.

Pelukis S.Wandi selain belajar melukis melalui jenjang pendidikan juga banyak menimba pengalaman kepada pelukis Sidoarjo Gus Lukman almarhum. Dalam mengarungi aktifitas seni lukis S.Wandi tidak hanya membidik obyek sosok manusia melainkan juga alam lingkungan. “Flora dan Fauna juga pernah menjadi sasaran obyek lukisan saya,” kenang S.Wandi yang asli kelahiran Sidoarjo.

Berbicara pameran S.Wandi telah mengikuti puluhan kali berpameran bersama didalam dan di luar Sidoarjo Surabaya, Jogyakarta dan Jakarta beberapa kali pameran tunggal. “Saya pernah pameran tunggal di salah satu galeri di Jogya,” kenang S Wandi yang kini mengumpulkan karyanya periode terbaru untuk persiapan paneran tunggal.

“Saya ingin pameran tunggal lagi,” tandas Wandi yang juga berupaya meningkatkan apresiasi seni lukis terhadap pelajar. “Km

Dialog Gareng Petruk (Digaruk) Ojo Dumeh

KANG Gareng merasa kaget mendengar kabar karibnya yang menjadi Adipati terciduk aparat petinggi hukum Negeri akibat memakai dana pembangunan fisik lingkungan untuk kepentingan pribadi. Kang Gareng sebagai sahabat karib pernah mengingatkan namun hasilnya tetap nihil disebabkan memiliki karakter mental yang kurang bagus.

“Sudah saya ingatkan berulang kali, tidak tembus tetap seperti dulu dan tampaknya hidup ini miliknya semua,” cerita Kang Gareng kepada Petruk ketika bertemu di Kedai BMKG (Badan Makanan Kopi dan Gorengan). “Ya Kang, namanya manusia kalau semuanya sudah tercukupi ya begitulah terlebih dia merasa kerja keras untuk menggapai ketenaran dan kekuasaan ..mentega telur dadar ..semoga sadar,” ucap Petruk sembari tersenyum kecil. “Ya sadar kalau sudah terciduk. Saya sebetulnya tidak perlu bingung mengingatkan Truk karena Romo Semar memiliki rumusnya petuah lama yang maknanya jos markejos..tanpa telur sudah jos,” kata Kang Gareng sembari berjoget kecil. “Ke Gresik lewat kota . ..Sik Ta kang ..obatmu itu habis ya..tiba-tiba berjohet..ee berjoget dan tertawa sendiri ,” ujar Petruk bernada tanya. “Obat habis gundul mu Truk..saya itu masih sehat…seger waras …tidak pernah obat tapi minum jamu ..hahaha..begini lho kegembiraanku tidak terlepas petuah pesan Romo Semar ..jadi manusia itu ingat dua kata “Ojo Dumeh”ada orang bilang tidak jauh dari kata sombong ..karena kata sombong itu bisa mencelakakan diri kita sendiri,” jelas Kang Gareng yang pernah ikut Pendidikan Budi Pekerti Tingkat Tinggi(BPPT). “Ya Kang ke Semarang beli donat..sekarang saya ingat ..petuah “Ojo Dumeh”itu mengingatkan kita kang jika kita menjadi penguasa, orang cendekia, orang sakti, orang kaya harus selalu menancapkan kata ojo dumeh agar tidak tergelincir atau terciduk..bahasa umumnya jangan sombong, jangan semena-mena jika memiliki kekuasaan, harta yang banyak karena itu barang titipan dari Pencipta dan Penguasa jagad ..,” tutur Petruk seperti Anggota Dewan Petinggi Negeri(DPN). “Ya Truk..sah-sah saja seorang memiliki kekayaan, kekuasaan selama mampu memanfaatkan dengan baik untuk kesejaterahan dan kemakmuran Negeri Karangkedempel Merdeka ..jika hanya untuk kesenangan pribadi tanpa tujuan jelas yang akan berakibat fatal ..dan akan diambil pihak yang menitipkan ..makanya kita harus hati-hati jika mendapatkan titipan ..titipan kekayaan..kekuasaan dan anak istri,” beber Kang Gareng yang hanya bisa berdoa saja kepada sobatnya yang sudah terciduk.

“Ya Kang itu pelajaran berharga…pandai-pandailah memegang amanah jika ingin damai bahagia seger waras,” ucap Petruk sembari pamitan menuju kudanya yang sudah siap ditunggangi. “Gelodak..dak ..kaki Petruk menabrak tumpukan lemari triplek milik kedai BMKG. “Hati-hati Truk kakimu ojo dumeh tidak.memiliki mata..terus nabrak-nabrak,” kata Kang Gareng sembari memandang tajam Petruk. “Jua ajur..ya kaki ya mempunyai mata kaki..menabrak itu namanya musibah ..Kang,” tandas Petruk sembari melangkah cepat. Km

Kepala Sekolah SDN Pucang III Sidoarjo Purna Tugas Wariskan Prestasi Adiwiyata Di Lahan Sempit

SIDOARJO (Swaranews) – Kepala Sekolah SDN Pucang III Sidoarjo Edy Setyawan, SPd, MPd. merasa bangga, setelah menjabat Kepala Sekolah SDN Pucang III Sidoarjo selama 5 tahun berjalan lancar dan penuh prestasi.

“Saya bersyukur berhasil purna tugas dengan sehat dan mampu mewariskan prestasi gemilang Sekolah Adiwiyata tingkat Kabupaten Sidoarjo,” ungkap Pak Edy sapaan akrab Edy Setyawan, SPd, MPd. di ruang kerjanya belum lama ini.

Prestasi Sekolah Adiwiyata yang diperoleh di tahun 2016 itu menurut Edy Setyawan, tidak hanya memerlukan pemikiran yang cemerlang dan strategi melainkan juga anggaran dana yang besar.

“Persoalan lain yang kami hadapi keberadaan lahan yang sempit sehingga kami harus berpikir ekstra untuk mencari terobosan termasuk masalah dana,”jelas Pak Edy yang Februari 2020 memasuki Purna Tugas.

Menurut Edy Setyawan, solusi mengatasi lahan sempit menjadi sekolah yang hijau dan bersih tidak terlepas dari memanfaatkan sudut-sudut lahan dan memperbanyak pemakaian aneka ragam bentuk pipa.”Ya alhamdullilah persoalan pendanaan dapat teratasi dengan adanya partipasi dari wali murid selain adanya kebersamaan semua peserta didik untuk mewujudkan sekolah Adiwiyata tingkat Kabupaten Sidoarjo,” tutur Pak Edy yang menambahkan persyaratan menjadi Sekolah Adi Wiyata bukan hanya menyangkut tanaman hijau dan lingkungan bersih namun juga harus mampu menumbuhkan kesadaran pentingnya cinta kebersihan dan lingkungan kepada peserta didik, pendidik dan tenaga kependidikan.

Berbicara prestasi akademi yang dicapai ketika Edy Setyawan menjabat Kepsek SDN Pucang III Sidoarjo, selain berhasil menampilkan peserta didiknya menjadi Siswa Teladan tingkat Kabupaten Sidoarjo juga memacu peserta didiknya Juara III Lomba Senam 02SN tingk Jatim.

“Ya prestasi tingkat Kabupaten cukup banyak seperti seni tari, lukis dan olahraga tapi sebatas juara III dan II,” ujar Pak Edy yang juga bangga di akhir tugasnya dapat mewujudkan minimalis yang dibangun secara mandiri bersama orang tua wali murid. “Meski lahan sekolahan kami sempit namun melalui berbagai upaya kami berhasil meraih predikat sekolah Adipura dan membangun mushola minimalis,” tandas Edy Setyawan yang pernah menjadi Guru Teladan tingkat Kabupaten Sidoarjo di era tahun 2000 an. Km

Seniman Ludruk Sabil Lugito Bergerilya Kembangkan Ludruk Masuk Sekolah Dasar

SURABAYA (Swaranews) – Seniman ludruk Sabil Lugito yang tercatat sebagai anggota grup Ludruk Irama Budaya Nusantara Surabaya berupaya mengembangkan seni ludruk di kalangan peserta didik di Kota Pahlawan.

Menurut Sabil yang mulai tahun 2008 hingga 2019 berkecimpung di ranah media televisi swasta di Kota Malang, peserta didik SD sangat tepat untuk pengembangan dan pelestarian seni tradisional ludruk.

“Peserta Didik SD itu daya ingat dan pemahamannya terhadap materi seni pertunjukan ludruk selain masih bagus juga belajar seni ludruk dapat mengangkat nama sekolah,” ungkap Sabil yang kini mengajar esktra kurikuler ludruk masih di beberapa SD di Surabaya, diantaranya SDN Kapasari 8, SDN Kaliasin 1, SDN Kedinding, SDN Airlangga dan SDN Gunung Anyar Surabaya.

“Sebenarnya permintaan dari Kepala Sekolah SD banyak tapi saya batasi sesuai kemampuan saya ,” tambah Sabil yang lulus dari Prodi Bahasa Sastra Indonesia Unipa 10 tahun lalu. Ia merasa prihatin keberadaan seni ludruk di Jawa Timur khususnya Surabaya belum masuk kurikulum terkait muatan lokal. “Ya semoga kedepan ludruk bisa masuk dalam kurikulum muatan lokal. Seandainya sudah masuk dalam bentuk klausal yang lain saya tetap berjuang agar ada kurikulum muatan lokal ludruk karena pemahaman ludruk sejak usia anak sangat penting sekali,” jelas Sabil yang juga tercatat sebagai pembina Sanggar Medang Taruna Budaya (MTB).

Berbicara prestasi ludruk binaannya kata Sabil, dari beberapa SDN yang ditangani, diantaranya grup ludruk SDN Kapasari 8 Surabaya berhasil menjadi Juara Lomba Seni Pertunjukan Rakyat se Kota Surabaya.

“Kalau MTB prestasinya juga lumayan pernah menjadi juara Lomba Seni Tradisional se Jatim dibidang garapan musik,” ungkap Sabil yang berkeinginan menggarap Festival Ludruk Anak Tingkat
Surabaya. Km

Guru SDN Gelam II Endang Kusmiani, SPd Juara Mendongeng Tingkat Nasional Prihatin Langkanya Lagu Anak

SIDOARJO (Swaranews) – Juara Mendongeng tingkat Nasional Endang Kusmiati, SPd yang juga tercatat sebagai guru SDN II Sidoarjo merasa prihatin dengan langkanya keberadaan lagu anak-anak dalam kurun waktu 15 tahun terakhir.

“Pasca jamannya lagu anak ciptaan Papa T. Bob yang populer di awal tahun 2000-an hingga kini belum ada lagi lagu anak-anak. Akibatnya anak-anak menyukai lagu-lagu yang tidak sesuai tingkat usia perkembangan anak,” ungkap Bu Endang sapaan akrab Endang Kusmiyati, SPd ketika ditemui di sekolahnya.

“Masak masih anak-anak sudah mnenyayikan lagu Bojo Loro,Tali Kutang, Enak tuku satene daripada weduse dan masih banyak lagi,” tambah Bu Endang yang kini telah menciptakan 15 lagu. 5 lagu diantaranya yang siap disosialisasikan ke masyarakat.

Menurut Bu Endang yang pernah meraih predikat juara I Lomba Cipta Anak tingkat Jatim, 5 lagu tersebut, memiliki karakter sesuai usia anak dan selaras dengan kegiatan anak-anak selama satu hari. “Lima lagu yang saya ciptakan itu berjudul “Kidung Sehari” berisikan kegiatan anak-anak dari bangun tidur hingga kembali tidur malam hari,”kata Bu Endang yang juga dikenal sebagai guru yang kreatif dan inovatif.

Bu Endang merinci, mengenai 5 lagu dalam Lagu Kidung Sehari, mulai Bangun Pagi Bersyukur, Pergi Sekolah, Memohon Doa Restu dari Orang Tua Hari, kemudian siang hari tentang Bersyukur Setelah Belajar Di Sekolah dan malam hari Pergi Mendengarkan Dongeng dari Ibu atau Ayah dan Berdoa serta memohon perlindungan dari Allah Maha Pemurah,” jelas Bu Endang yang mengungkapkan sosialisasi 5 lagunya pada akhir Januari 2020.

Perangkat Pendidikan Inovatif

Endang Kusmiyati, SPd tidak hanya aktif menciptakan lagu anak melainkan juga piawai membuat terobosan perangkat pendidikan untuk peserta didik SD. Ia selain mengupayakan inovasi mapel bernuansa numerasi juga literasi. “Perangkat pendidikan ini saya buat dengan menggunakan bahan daur ulang,” ujar Bu Endang sekaligus menambahkan pembuatan inovasi perangkat pendidikan tersebut selain menumbuhkan semangat belajar peserta didik juga mewujudkan proses belajar yang tidak menjenuhkan. “Puluhan unit perangkat inovasi belajar yang saya buat diantaranya yang paling disukai anak -anak Paska dan Suka-suka,” bebernya sambil
menunjukan perangkat Paska. Dijelaskan, Paska kependekan dari paduan kata pasangan angka yang digunakan untuk belajar matematika dan pendekatannya permainan yang dilakukan diruang terbuka. “Anak-anak sangat senang dengan paska karena sifatnya bermain sebagian anak membawa kertas yang terkait angka yang dijumlahkan sebagian memegang hasil angka yang dijumlahkan dan mereka saling mencari pasangannya ,” jelas bu Endang yang juga memaparkan Ber Suka-Suka pendekatan literasi susun kata-susun kalimat. “Anak-anak yang memegang kata -kata tertentu harus mencari padanannya untuk mewujudkan sebuah kalimat ,” tambah Bu Endang yang sebelumnya pernah mengajar di TK.

Bicara literasi digital, kata Bu Endang alumni Prodi PGSD Unipa Surabaya, perlu diupayakan seiring perkembangan jaman dan harus ekstra selektif. “Jangan sampai penerapan Digital literasi tanpa pengawasan yang ketat dan jangan sampai berdampak kurang bagus terhadap peserta didik ,” tandas Endang Kusmiyati yang pernah menjadi juara I Lomba Guru Berprestasi tingkat Kabupaten Sidoarjo. Km

PIKNIK PENDIDIKAN SINERGI

Oleh: Prof. DR. Gempur Santoso, M.Kes

Managing Director Apenso Indonesia

Rekreasi bersama. Piknik. Darmawisata, wisata. Itu merupakan kegiatan sosial. Sekarang semarak. Saat hari libur. Apalagi saat libur besar, orang berwisata “berduyun duyun”.

Tempat tempat wisata penuh keramaian. Tempat wisata lama ataupun yg baru. Termasuk wisata relegi. Juga, reuni. Semua semarak.

Di kampung kampung. Masyarakat urunan (ngumpulkan dana). Pesan bis (bus) di treval wisata. Jiarah wali, jiarah lainnya, ke tempat wisata. Bersama . Biaya jadi ringan. Kalau sendirian, biaya lebih tinggi.

Masyarakat sosial memang beda degan segerombulan manusia. Sama, orangnya banyak, maknanya beda.

Gerombolan manusia. Hanya banyak orang tidak saling mengenal. Tidak saling kontrol. Tidak saling menjaga. Tidak saling melindungi. Intinya, tidak saling ada ikatan batin dan moral.

Masyarakat sosial. Juga gerombolan orang. Banyak orang. Orang banyak itu ada ikatan batin (hati) dan moral, saling kenal, sampai kenal latar belakangnya. Memiliki semangat kebersamaan.

Negeri kita, Indonesia, yang dibangun adalah masyarakat sosial. “Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia”. Ini kekuatan yg tak tertandingi.

Kalau masyakat individual, jelas mudah terpecah belah. Individualis, hanyalah memikirkan dirinya. Kurang mengerti orang lain. Bahkan lupa kalau dirinya sama dengan orang lain, yakni: manusia.

Lupa kalau manusia diciptakan Sang Maha Pencipta, Tuhan. “Sama manusia dihadapan Tuhan, yang membedakan hanyalah ketaqwaannya”.

Sosok manusia. Sebagai mkhluk individu dan makhluk sosial. Manusia punya privasi individu yg harus dihormati dan lindindungi. Sekaligus makhluk sosial berhubungan (sinergi) dengan orang lain “hablum minannas”.

Dalam masyarakat sosial. Hubungan sosial. Kita bisa sinergi dengan siapa saja. Dimana saja. Kapan saja. Dengan mudah. Apa kuncinya: jangan sakiti hati orang lain dan jaga kesadaran akal.

Selamat berwisata, banyak teman, banyak rejeki.

(GeSa)

Tito Karnavian Terima Penghargaan dari Presiden Singapura, Khofifah Turut Bangga

 

JAKARTA (Swaranews) – Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menyampaikan ucapan selamat dan apresiasi setinggi-tingginya atas penghargaan Darjah Utama Bakti Cemerlang atau “The Distinguished Service Order”, yang diterima oleh Mendagri Tito Karnavian.

Penghargaan ini diserahkan langsung oleh Presiden Singapura Halimah Yacob kepada Mendagri Tito Karnavian, di Istana Singapura, pada Rabu (15/1/2020).

“Atas nama pribadi dan juga Pemprov Jawa Timur saya menyampaikan selamat dan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada bapak Mendagri Tito Karnavian atas penganugerahan penghargaan tertinggi dari Pemerintah Singapura,” ujar Khofifah di sela kunker di beberapa Kementrian, Jakarta, Kamis (16/1/2020).

Menurut Khofifah, Mendagri Tito Karnavian sangat tepat mendapat penghargaan internasional tersebut. Hal ini bisa dilihat dari berbagai keberhasilannya dalam menjaga keamanan dan kondusifitas di Indonesia saat masih menjabat Kapolri.

Utamanya, kata Khofifah, saat maupun pasca pelaksanaan pilpres, pileg maupun pilkada serentak. Serta berbagai inovasi dalam memimpin kementerian dalam negeri.

“Kita semua bisa melihat saat pelaksanaan pilpres, pileg dan pilkada di Indonesia, semua berjalan dengan baik dan lancar. Bahkan, keamanan juga tetap bisa terjaga baik hingga pasca pelaksanaan,” katanya.

Selain itu, berkat profesionalitas Mendagri Tito Karnavian, juga terbukti berhasil meningkatkan kerjasama bilateral antara Indonesia-Singapura. Sehingga, sering dilakukan kerjasama dalam penanganan berbagai masalah dan kasus. Khususnya, dalam hal pemberantasan kejahatan transnasional dan operasi kontra terorisme.

“Sekali lagi, ini merupakan kebanggaan bagi kita karena putra terbaik bangsa yang saat ini menjabat Mendagri berhasil meraih penghargaan dari Presiden Singapura. Kami harap ini bisa menjadi inspirasi bagi seluruh kepala daerah di Indonesia,” pungkasnya. (Msa)

Satu Abad NU, RMI PWNU Jatim Bakal Gelar Daurah Santri Muassis

SURABAYA (Swaranews) – Dalam memperingati Satu Abad Nahdlatul Ulama, Rabithah Ma’ahid Islamiyyah (RMI) PWNU Jawa Timur bakal menggelar ‘Daurah Santri Muassis’ di Pondok Pesantren Al-Hamdaniyah, Siwalan Panji-Buduran, Sidoarjo.

Rencananya, acara tersebut diselenggarakan selama tiga hari yaitu pada Jumat sampai Minggu, 31 Januari – 2 Februari 2020 mendatang, dan dihadiri oleh ratusan pengasuh pondok pesantren se-Indonesia.

Ketua RMI PWNU Jatim, Kiai M. Zakki Hadzik mengatakan peringatan satu abad Nahdlatul Ulama di Jatim sebagai bentuk penguatan Ukhuwah Ma’hadiyah (Persaudaraan pondok pesantren) di Indonesia, khususnya Jatim.

Daurah Santri Muassis ini nantinya bakal dihadiri para pengasuh pondok pesantren yang tersebar di Indonesia.

“Daurah Santri Muassis ini adalah sebuah pendalaman kajian yang amanah didalamnya berkumpul para pemangku pesantren, dimana outputnya nanti untuk  memperkuat jalinan pesantren,” ujar Kiai Zakki saat menghadiri rapat di Kantor PWNU Jatim, Rabu (15/1/2020).

Dijelaskan, dipilihnya pondok tersebut sebagai tempat peringatan Satu Abad Nahdlatul Ulama, karena merupakan salah satu pondok yang pernah ditempati Pendiri Nahdlatul Ulama, Kiai Hasyim As’ari.

“Perkiraan ada 300 an pengasuh pondok pesantren dari berbagai wilayah, seperti Jawa Barat, Lampung, Kalimantan, Jawa Tengah, termasuk Jawa Timur,” jelas cucu Kiai Hasyim Asy’ari tersebut.

Menurut Pengasuh PP. Al-Masruriyah Tebuireng Jombang ini, nantinya ada beberapa acara yang bakal dilakukan saat peringatan Satu Abad Nadhlatul Ulama, salah satunya ngaji kitab At-Tibyan, dimana didalamnya membahas tentang dawuh-dawuh pendiri NU, Kiai Hasyim Asy’ari maupun Qonun Asasi NU.

“Harapannya, NU tetap menjadi payung bangsa, menjadi NU yang mandiri, baik dari kalangan warga maupun kalangan santri NU sendiri menjadi unsur masyarakat yang mandiri secara ekonomi. Disamping itu, melalui NU dan Pesantren di Indonesia juga bisa menjadi garda terdepan dalam menjaga keutuhan NKRI,” pungkasnya.

Pada peringatan Satu Abad Nahdlatul Ulama nantinya juga dihadiri Ketua Umum PBNU, Kiai Said Aqil Siradj, Rais A’am PBNU, Kiai Miftakhul Akhyar, Ketua PBNU, Kiai Marsudi Syuhud, Ketua PWNU Jawa Timur, Kiai Marzuki Mustamar, dan pembuka acara bakal dipimpin langsung Kiai Syaifullah Yusuf (Gus Ipul). (Msa)