Beranda blog

Sidak Keliling Surabaya, Wali Kota Risma Pastikan Lapangan Tembak Internasional Rampung Tahun ini

SURABAYA (Swaranews) –  Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini mengajak jajaran Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman Cipta Karya dan Tata Ruang (DPRKPCKTR) Surabaya sidak ke beberapa tempat di Kota Surabaya. Dalam sidak ini, turut serta Kepala Badan Perencanaan dan Pembangunan Kota (Bappeko) Surabaya Ery Cahyadi dan juga Kepala Dinas Pekerjaan Umum Bina Marga dan Pematusan ErnaPurnawati dan jajaran Pemkot Surabaya lainnya.

 

Wali Kota Risma mengawali sidaknya ke kawasan Balai Pemuda yang saat ini sedang dilakukan pembangunan Alun-alun Suroboyo. Saat itu, ia memberikan arahan kepada jajaran DPRKPCKTR untuk penyempurnaan desain alun-alun yang nantinya juga dibangun di bawah tanah.

 

Selanjutnya, rombongan ini melanjutkan kunjungan ke kawasan Jalan Blauran dan mengecek beberapa gang dan diminta untuk diperbaiki saluran dan pavingnya. Kunjungan berikutnya berlanjut di SDN Pegirian Kecamatan Semampir yang lokasinya masuk ke gang rumah warga. Di sekolah itu, Wali Kota Risma langsung meminta untuk melakukan renovasi sekolah menjadi tiga lantai. Bahkan, saat itu Wali Kota Risma sempat memberikan baju seragam kepada beberapa siswa yang dinilainya kurang layak.

 

Sidak berikutnya, rombongan ini melihat langsung progres pembangunan Lapangan Tembak Internasional yang ada di Kedung Cowek. Saat itu, Wali Kota Risma memastikan arena untuk latihan menembak itu ditargetkan rampung tahun ini dan diusahakan bisa berfungsi tahun ini. “Tapi ini masih ada satu lagi yang harus kita bangun, tapi insyallah tahun ini kelar semuanya,” kata Wali Kota Risma di lokasi.

 

Bagi dia, pembangunan lapangan tembak internasional ini sangat penting karena ternyata Kota Surabaya sudah dipercaya dan sudah dikenal oleh para shooter professional. Bahkan, beberapa waktu lalu rencananya Surabaya dijadikan tempat kejuaraan dunia menembak, tapi karena lapangan itu belum selesai, maka dibatalkan dulu. “Nah, kalau nanti ini sudah selesai, saya nanti akan tawarkan ke mereka, mungkin tahun 2020 kejuaraan dunia menembak bisa dilakukan di sini,” kata dia.

 

Selain itu, Wali Kota Risma juga menilai pembangunan lapangan tembak internasional itu sangat potensial karena banyak shooter professional dari dalam dan luar negeri sering menggelar acara di Surabaya. Oleh karena itu, apabila lapangan ini sudah selesai, maka nanti bisa disewakan dan saat ini sudah disusun Perda untuk sewa lapangan itu. “Yang jelas kita memanfaatkan lahan lahan kita, karena tidak ada yang tahu barangkali suatu saat nanti Surabaya bisa jadi tempat untuk Olimpiade, makanya di sini dibangun lapangan tembak ini,” ujarnya.

 

Sementara itu, Kepala Bidang Bangunan Gedung DKPCKTR Surabaya Iman Krestian Maharhandono menjelaskan lapangan tembak internasional itu dibangun di atas lahan seluas 3 hektare milik Pemkot Surabaya. Dalam satu lokasi, akan dibangun dua arena lapangan tembak “outdoor” (luar ruangan) dan “indoor” (dalam ruangan).

 

“Yang outdoor atau blok A, sudah kita bangun tahun lalu dan sudah selesai strukturnya. Tahun ini hanya sedikit pekerjaan struktur lanjutan dan ada pekerjaan mekanikal elektrikal, plumbing dan finishing,” kata Iman ditemui saat mendampingi Wali Kota Risma.

 

Nantinya, gedung yang outdoor ini akan terdiri dari dua lantai, yang mana lantai pertama akan ada arena tembak prestasi 25 meter yang terdiri dari 32 line, arena tembak prestasi 50 meter yang terdiri dari 30 line, arena tembak reaksi 8×20 yang terdiri dari 3 arena, arena tembak reaksi 12×20 yang terdiri dari 2 arena, dan arena tembak reaksi 20×20 yang terdiri 1 arena.

 

Sedangkan di lantai 2, akan ada arena tembak reaksi 8×20 yang terdiri dari 6 arena, arena tembak reaksi 12×20 yang terdiri dari 4 arena, arena tembak reaksi 20×20 yang terdiri dari 2 arena dan fasilitas penunjang lainnya.

“Jadi, tahun 2018 kami menyelesaikan pematangan lahan secara keseluruhan, pemagaran dan penyelesaian struktur blok A. Sedangkan tahun 2019 ini, kami akan melanjutkan finishing dan mep blok A dan saat ini proses lelangnya sedang berlangsung,” kata dia.

 

Di samping lelang itu, ia mengaku juga sedang mempersiapkan perencanaan lapangan tembak yang indoor atau blok B. Rencananya, lelang terpisah ini juga dilakukan tahun ini. Di blok B ini, akan dibangun 3 lantai yang terdiri dari lantai pertama atau basement yang bisa digunakan untuk parkir mobil sebanyak 65 unit dan beberapa fasilitas penunjang lainnya.

Lantai dua atau lantai ground bisa digunakan untuk arena menembak prestasi 10 meter sebanyak 60 line, dan lantai tiga atau lantai Rooftop bisa digunakan untuk multifunction perkantoran dan fasilitas penunjang lainnya. “Sesuai arahan Bu Wali, semuanya ditargetkan rampung tahun ini, mohon doa untuk semuanya,” pungkasnya. (mar)

Giat Non Fisik TMMD dalam Penyuluhan Kanker Servik, dapat apresiasi dari warga

LAMONGAN (Swaranews) – Sejumlah perangkat Desa Kelorarum, Kecamatan Tikung , berharap adanya penyuluhan kesehatan lagi dari Kodim 0812 Lamongan, pasca pelaksanaan penyuluhan tentang penyakit kanker servik, yang merupakan bagian dari pelaksanaan sasaran non fisik TMMD ke -104 Kodim 0812 Lamongan di desanya. Rabu 20/03/2019

”Penyuluhan tentang kanker servik yang telah digelar Kodim Lamongan dengan mengandeng Dinas Kesehatan (Dinkes) Lamongan sangat berguna bagi warga Desa Kelorarum.

Untuk itu kalau boleh usul, di kegiatan non fisik, Kodim lamongan mau kembali menggelar penyuluhan tentang kesehatan lainnya,” Karena memang warga kami membutuhkan hal itu, misalnya tentang penyakit Demam Berdarah yang lagi marak, atau mungkin penyuluhan tentang penyakit HIV/AIDS,” ungkap Kaur Desa Kelorarum kepada Tim Pendim Lamongan.

Dijelaskan, warga Desa kelorarum sebagian besar profesinya sebagai petani, sehingga terkadang pengetahuan akan berbagai penyakit, baik yang berbahaya atau tidak sangat kurang,”Belum lagi, tidak pedulinya warga akan pentingnya kesehatan, diperparah loksi rumah sakit atau puskesmas cukup jauh, sehingga dibutuhkan penyuluhan kesehatan secara menyeluruh kepada warga Desa Kelorarum. (pendim0812/sub)

Non Fisik TMMD Tuban : Peraneka Ragaman Komsumsi Pangan dan Peningkatan Keamanan Segar

TUBAN (Swaranews) – Brangkal sebuah desa yang terletak di Kecamatan Parengan dengan luas wilayah 275 ha, yang 95% nya adalah lahan pertanian, sisanya adalah pemukiman dan fasilitas umum.
Salah satu program kegiatan non fisik TMMD 104 Kodim 0811 Tuban adalah penyuluhan pertanian dengan materi “Program Peraneka Ragaman Komsumsi Pangan dan Peningkatan Keamanan Segar” Selasa, (19/03/19).

Materi ini sengaja disosialisasikan ke warga desa sasaran TMMD, Desa Brangkal Kecamatan Parengan, mengingat sebagian besar warganya bermata pencaharian sebagai petani padi maupun jagung. Lahan pertanian warga di Desa Brangkal adalah sawah dan ladang. Untuk itulah penyuluhan TMMD akan memaksimalkan pekarangan rumah warga untuk lebih menunjang perekonomian serta gizi keluarga.

Kodim 0811/Tuban bekerjasama dengan Dinas Pertanian Kabupaten Tuban, mensosialisasikan pemanfaatan lahan pekarangan rumah untuk menanam sayuran dan pembuatan pupuk organik dari limbah rumah tangga kepada warga Desa Brangkal dalam kegiatan non fisik TMMD 104 kali ini.

Budidaya Sayuran di Polybag/Pekarangan Rumah.
Polybag, adalah solusi bagi masyarakat dengan keterbatasan atau ketiadaan lahan untuk berkebun atau bercocok tanam. Lahan sempit pekarangan, bahkan emperan rumah pun bisa dijadikan tempat berkebun tanaman hortikultura, seperti cabai, terung, sawi, kemangi, tanaman obat, bumbu maupun tanaman lainnya.

Teknik penanamannya, bisa ditanam langsung di tanah pekarangan maupun dengan menggunakan plastik polybag atau pun pot-pot tanaman. Sedangkan manfaatnya antara lain : sebagai sumber tambahan penghasilan keluarga, pengendali iklim sekitar rumah, penyerap karbondioksida guna menghasilkan oksigen, tempat resapan air hujan dan air limbah keluarga ke dalam tanah, pelindungi tanah dari kerusakan erosi, tempat pendidikan bagi anggota keluarga tentang pentingnya tanaman serta estetika keindahan sebuah rumah yang juga akan mendatangkan kenyamanan penghuninya.
Sunardi penyuluh pertanian Kecamatan Parengan mengungkapkan

“Saya akan membagi ilmu dengan masyarakat Desa Brangkal tentang pemanfaatan lahan pekarangan rumah, termasuk Pastisida. Semoga sedikit ilmu yang saya miliki dalam menanam sayur-sayuran dan pembuatan pupuk organik dapat bermanfaat dalam meningkatkan pendapatan dan gizi keluarga,” cetusnya.

Semoga apa yang dilakukan oleh TNI dalam membangun desa dapat meningkatkan kesejahteraan keluarga, terutama gizi bagi keluarga di Desa Brangkal. (Pendim 0811/Tbn/sub)

Program 99 Hari Kerja, Gubernur Jatim Akan Siapkan Bumi Perkemahan Pramuka Jawa Timur

SURABAYA (Swaranews) – Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menghadiri Pembukaan Jambore Pandu Sekolah Model dalam rangka penguatan pendidikan karakter dan ekspresi kebudayaan Provinsi Jawa Timur, di Gedung Lembaga Penjaminan Mutu Pendidkan (LPMP) Ketintang, Surabaya, Rabu (20/3/2019).
Dalam kesempatan itu, Gubernur Khofifah menyampaikan kepada seluruh tingkatan lembaga pendidikan di Jawa Timur untuk membangun karakter kebangsaan melalui kegiatan ekstrakurikuler pramuka.
“Saya mohon masing-masing sekolah mulai dari SD, SMP, SMA, SMK, Aliyah, Tsanawiyah, semua bersama-sama bisa memberikan muatan ekstrakurikuler membangun kepanduan, membangun kerelawanan, membangun bangunan nasionalisme melalui karakter kebangsaan. Pintu masuk yang paling sederhana adalah melalui Pramuka,” kata Khofifah.
Gubernur perempuan pertama di Jatim ini juga menyatakan bahwa ia akan menyiapkan Bumi perkemahan Jawa Timur di daerah Cerme, Gresik, bagi anak-anak yang aktif dalam kegiatan pramuka.
“Saya sendiri akan melakukan koordinasi Insya Allah, bahkan di dalam 99 hari kerja saya sudah mengkomunikasikan dengan Pemprov dan dengan tim keluarga Pramuka Jawa Timur, Kita ingin menyiapkan Bumi Perkemahan Pramuka Jawa Timur,” jelas mantan Menteri Sosial dalam Kabinet Kerja itu.
Hal itu diharapkannya bisa mengintroduksi lebih substantif bangunan nasionalisme dan karakter bagi anak yang aktif dalam kegiatan tersebut.
“Sehingga anak-anak yang aktif di Pramuka mereka punya tempat di mana mereka bisa melakukan outbound, dimana mereka bisa melakukan Jambore dan kegiatan lain, supaya bangunan nasionalisme dan bangunan karakter itu bisa kita introduksi lebih dalam lebih substantif,” pungkasnya. (Msa)

Rumah Selesai Direhab, Kakek Atem dan Putranya Sujud Syukur

SUMENEP (Swaranews)  – Berbagai keberhasilan Satgas dalam menangani keluhan setiap warga di daerah terisolir, terus dibuktikan.
Salah satunya, Satgas TMMD Kodim 0827/Sumenep yang telah berhasil menyelesaikan renovasi rumah milik salah satu warga di Desa Larangan Kerta, Kabupaten Sumenep.

Kakek Atem (74), terlihat sangat bahagia ketika Satgas merehab rumah milikinya. Ia mengungkapkan, tak menyangka jika kondisi rumahnya lebih baik dari sebelumnya.

“Saya ini sudah tua, apalagi sering sakit-sakitan. Kondisi ekonomi kami sangat terbatas jika digunakan untuk membangun rumah. Tapi Alhamdulillah, saya bersyukur impian saya di wujudkan oleh bapak-bapak Tentara,” ungkap Atem, haru. Rabu, 20 Maret 2019.

Dengan didampingi sang Putra, Atem pun tak segan-segan bersyujud ketika ia melihat rumahnya usai di renovasi oleh Satgas TMMD.

“Sangat bagus sekali pak. Jauh dari kondisi sebelumnya,” tuturnya. (sub)

Membangun Konsepsi Pendidikan Nasional

Siapa pun yang aktif dan berkecimpung dalam ranah pendidikan tidak perlu khawatir akan kehabisan masalah. Akan ada banyak persoalan yang dihadapi karena di dalam praksis pendidikan yang diurusi adalah manusia dengan segala karakternya. Di dalamnya terdapat spektrum yang sangat luas dengan beragam sisi yang harus saling menopang demi tegaknya proses pendidikan yang bermutu. Jika salah satu sisi mengalami gangguan sudah bisa dipastikan bahwa proses itu tidak akan bisa mencapai target yang diinginkan. Jika budaya dalam pendidikan belum berada pada jalur yang benar maka tujuan yang akan dicapai juga akan melenceng.

Ambil contoh terkait guru yang sampai saat ini masih menyisakan banyak persoalan. Masalah kesejahteraan saja belum terselesaikan sampai saat ini. Pengakuan guru sebagai sebuah profesi yang disertai dengan pemberian tunjangan profesi pendidik pada awalnya dimaksudkan untuk mengangkat derajat dan martabat guru. Namun yang terjadi sebaliknya, meminjam istilah Sidharta Susila, guru malah dianggap sebagai budak yang justru menghancurkan martabat serta kehidupan guru.

Persyaratan untuk memperoleh tunjangan yang terkesan kurang rasional mengakibatkan banyak persoalan pada guru. Seringkali terjadi gesekan dan guru menjadi galau yang akhirnya menjadi pribadi yang mudah merampas hak-hak dari teman sejawatnya.Belum lagi beban guru yang bersifat administrasi yang menggeser peran utama guru.

Contoh lain adalah terkait penerapan kurikulum yang penuh dengan revisi. Akibatnya esensi dari kurikulum itu tidak tersampaikan karena disibukkan dengan perubahan-perubahan  yang tidak substantif. Ada analogi yang menarik di kalangan guru saat ini bahwa kita sudah berada di tahun 2019 dengan perubahan yang sangat besar di berbagai bidang tapi kita masih memakai Kurikulum 2013. Di sinilah kemudian muncul masalah baru bahwa apa yang diberikan oleh guru sesuai dengan kurikulum ternyata tidak sesuai dengan kebutuhan murid pada abad ini.

Kondisi seperti ini pernah disinggung oleh Wakil Presiden Boediono pada saat itu dalam tulisannya di Kompas, 27 Agustus 2012. Di tulisan opini dengan judul Pendidikan Kunci Pembangunan tampak kemasygulan yang dirasakan oleh Boediono karena  pendidikan di Indonesia tidak punya konsepsi yang jelas mengenai substansi pendidikan. Karena tak ada konsepsi yang jelas, maka timbullah kecenderungan untuk memasukkan apa saja yang dianggap penting ke dalam kurikulum. Akibatnya terjadi beban berlebihan pada murid dan tidak jelas apakah murid mendapatkan apa yang seharusya di peroleh dari proses pendidikannya.

Ketiadaaan konsepsi yang jelas dalam pendidikan tentu memberikan dampak yang sangat besar. Dengan pengelolaan yang ala kadarnya mengakibatkan output yang dihasilkan kurang bisa memenuhi kebutuhan bangsa. Hasil survey yang dilakukan United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) pada tahun 2011 terkait pendidikan di Indonesia menyatakan bahwa output pendidikan nasional yang mampu bersaing secara global hanya sebesar 6 persen. Murid yang memiliki output sesuai Standar Nasional Pendidikan (SNP) hanya sekitar 24 persen dan 70 persen memiliki output dibawah Standar Pelayanan Minimal (SPM).

Begitulah, dua contoh tersebut di atas di mana guru dan murid seharusnya menjadi subyek pendidikan malah menjadi obyek kebijakan. Proses pendidikan yang seharusnya menggembirakan dan menjadi tempat terbaik untuk memberikan pengalaman-pengalaman positif bagi pelaku pendidikan malah lebih banyak memberi beban.

Azyumardi Azra pernah mengkritisi bahwalembaga pendidikan kita saat ini umumnya cenderung lupa pada fungsinya sebagai tempat sosialisasi dan pembudayaan murid (enkulturisasi). Akibatnya, hampir tidak tersisa lagi ruang bagi murid untuk mengembangkan imajinasi, potensi,serta kreativitas pengetahuan, keterampilan, dan sikapnya. Lebih parah lagi, interaksi yang berlangsung di sekolah telah hampir kehilangan human dan personal touchnya. Kemuliaan pendidikan yang seharusnya memanusiakan manusia telah hilang.

Berbagai persoalan dalam pendidikan saat ini tidak bisa hanya kita sikapi secara kariatif. Perlu dilakukan transformasi pendidikan dalam hal filosofi, pengelolaan, kebijakan, dan program pendidikan. Pembangunan pendidikan sudah selayaknya didasarkan pada pemahaman bahwa persoalan pendidikan tidak sekadar sesuatu yang penting dan vital, namun juga harus dipandang sebagai hidup matinya bangsa Indonesia. Dalam konteks inilah, sangat penting membangun sistem pendidikan yang kuat untuk menyemai benih yang berkualitas.

Pertama,konsepsi pendidikan nasional harus mengusung nilai utama suci hati dan momong (among). Among mengandung makna tut wuri handayani, ing madya mangun karsa, ing ngarso sung tuladha.Landasan inilah yang oleh Ki Hadjar Dewantara digunakan untuk mengembangkan pendidikan di Tamansiswa. Dan ini masih sangat relevan untuk kita kembangkan sesuai dengan kebutuhan dan arah pendidikan saat ini dan masa yang akan datang. Konsepsi ini menjadi kunci bahwa mendidik murid pada ranah pikiran tanpa menyentuh hatinya sama saja dengan tidak ada edukasi.

Kedua, kebijakan pembangunan pendidikan harus didasarkan pada konsep yang jelas dan implementasinya berkelanjutan. Harus ada perbaikan kebijakan baik pada tataran konsep maupun praktik. Hal ini supaya para praksis di tataran bawah ada pedoman yang jelas dan menghindari kebijakan tersebut tidak tuntas karena menyisakan persoalan. Disinilah pentingnya pengambilan kebijakan pendidikan harus memperhatikan potensi dan khasanah bangsa Indonesia.

Ketiga, mengembangkan dan membuka peluang terciptanya proses pendidikan yang humanis dan ramah sosial. Proses pendidikan saat ini sangat membelenggu tidak hanya murid tapi juga guru. Beban kurikulum yang berat menjadikan murid kehilangan jati dirinya. Proses pendidikan humanis inilah inti dari pencapaian yang membuat murid itu ngerti,ngroso,nglakoni (memahami, merasakan, melakukan).

Keempat, pembangunan pendidikan harus didasarkan pada keadaban dan kebudayaan bangsa Indonesia sendiri. Suatu bangsa dinilai keberadabannya sejauh mana penghormatannya terhadap pendidikan. Ketika Jepang mengalami kehancuran luar biasa akibat Perang Dunia II, Kaisar Jepang saat itu berbicara dengan rakyatnya. Salah satu yang ditekankan adalah  dia mengajak rakyat jepang memposisikan guru di posisi terhormat, dan mengajak para guru untuk berjuang bersama membangun kembali jepang. Demikian halnya yang dilakukan oleh bapak pendidikan dari Vietnam Ho Chi Min. Dia mengatakan no teacher no education, no eduacation no economic and social development.

Kelima, Dibutuhkan harmonisasi dari segi tiga emas pendidikan, yaitu sekolah, keluarga, dan masyarakat. Sekolah sebagai lembaga pendidikan formal hanya mengisi 30 persen ruang belajar anak. Maka ruang yang memiliki porsi lebih besar harus diisi oleh peran keluarga dan lingkungan masyarakat. Sinergi segi tiga emas menjadi pilar untuk membekali anak-anak kita guna menghadapi kehidupannya kelak.

Hanya melalui pendidikan dapat dibangun roadmap pembangunan bangsa ini secara keseluruhan. Perubahan akan terjadi ketika bertolak pada pembangunan pendidikan berbasis aktualisasi hati nurani. Perubahan itu akan mengantarkan pada terciptanya masyarakat Indonesia yang memiliki masa depan jauh lebih baik. Semoga.

 

Penulis adalah guru di SMKN 1 Sidoarjo

 Nama                   : Abdul Majid Hariadi, S.Pd.

Asal Sekolah          : SMK Negeri 1 Sidoarjo

Alamat Sekolah      : Jl. Monginsidi Telp. 8965636 Sidoarjo 61218

No. HP                  : 081230004059, 082332644445

Email                    : majidsmkn1_sda@yahoo.com

ROMY

ROMY Romahurmuziy dicokok KPK. Mahfud MD langsung teriak di twiter, “I told you so”, gue bilang juga apa.

Mahfud kelihatan seperti orang yang lega, karena, kabarnya, Romy dan seorang sahabatnya yang juga ketua umum parpol, yang menjegal pencapresan Mahfud. Ketika itu, Mahfud yang dipermalukan mengeluarkan pernyataan bernada mengancam terhadap Romy.

Ternyata apa yang pernah dilontarkan Mahfud jadi kenyataan, Romy ditangkap karena dugaan makelaran jabatan di jajaran departemen agama.

Tak perlu dimungkiri lagi. Tak perlu debat lagi. Kita harus legawa mengakui, korupsi Indonesia berada pada stadium empat. KPK sudah menyegel kantor menteri agama karena ada indikasi keterlibatan sang menteri. Kalau ini terjadi, kita hanya bisa istighfar.

Prabowo Subianto pernah mengatakan bahwa korupsi di Indonesia berada pada stadium empat. Memang ini pernyataan politis, tetapi bukan tanpa dasar.

Prabowo bukan orang pertama mengungkapnya. Buya Syafii Maarif jauh-jauh hari sering memakai istilah korupsi stadium empat. Ketika dikonfirmasi mengenai hal itu Maarif tanpa ragu berkata, “Korupsi Indonesia memang berada pada stadium empat”.

Romy tidak akan menjadi yang terakhir. Masih akan berjatuhan korban cokokan KPK, baik dari kalangan eksekutif dari berbagai tingkatan, maupun dari kalangan anggota dewan dari daerah sampai pusat. Mereka bisa berasal dari partai manapun, yang pro atau yang anti-pemerintah.

Sebelumnya KPK mencokok tiga kepala daerah; Rendra Kresna bupati Malang, Setiyono Walikota Pasuruan, dan bupati Bekasi Neneng Hasanah Yasin. Ada benang merah disitu. Mereka beremigrasi ke partai pendukung pemerintah untuk mendapatkan “political sanctuary”, perlindungan politik, karena kemungkinan mereka punya problem hukum.

Dalam kasus para kepala daerah itu bisa dilihat bahwa mereka mencari perlindungan politik dengan menyeberang ke parpol tertentu yang dianggap bisa memberi perlindungan hukum.

Romy sendiri merasa punya benteng yang kokoh karena kedekatannya dengan kekuasaan.

Jelas sudah bahwa perlindungan itu tidak ada. Buktinya mereka masih tetap dicokok KPK juga. Jadi, sia-sialah kepala daerah yang pindah partai karena mengharap perlindungan politik. Ibarat masuk sarang laba-laba mereka terperangkap dan dimangsa. Romy juga terperangkap di sarang laba-laba.

Kita harua berani mengakui bahwa mentalitas bangsa kita sedang bobrok. Otokritik ini tidak ada hubungan dengan soal nasionalisme. Hanya mereka yang berkuping tipis saja yang tidak siap mendengar otokritik dan kemudian menuduh pengritik sebagai tidak nasionalis.

Mahathir Muhammad menulis otokritik “The Malay Dilemma” (1970) mengritik bangsa Melayu yang disebutnya lembek dan malas, serta tidak suka bersaing. Sebelas tahun berselang Mahathir menjadi perdana menteri dan ia mengeluarkan kebijakan affirmative action untuk membantu bumiputra Melayu bersaing dengan non-bumiputra. Mahathir juga tegas terhadap korupsi karena dia tahu bangsa Melayu yang lembek cenderung suka suap menyuap.

Budayawan dan wartawan Mochtar Lubis menulis “Manusia Indonesia; Sebuah Pertanggungjawaban” (1977) mengritik bangsa Indonesia yang disebutnya munafik, tak bertanggung jawab, suka cari kambing hitam, dan feodal. Di dalam sifat-sifat itu korupsi tumbuh subur.

Lee Kuan Yew menulis memoir empat volume “From the Third to First” (2000) membelejeti sikap warga Singapura yang jorok dan suka suap-menyuap.

Baik Lee maupun Mahathir dikenal tegas, dan bahkan dianggap bertangan besi ketika memerintah. Terbukti, tetangga kita jadi lebih maju dari kita.

Contoh pemberantasan korupsi yang melegenda muncul dari Perdana Menteri Cina Zhu Rongji yang pada 2007 mengatakan, “Siapkan 100 peti mati, 99 untuk koruptor satu untukku kalau aku korupsi”.
Ribuan orang dieksekusi termasuk pejabat tinggi.

Di Malaysia, Singapura, dan Cina korupsi sudah berada di stadium empat. Pemimpin yang tegas menjadikan negara itu bersih. Dibutuhkan pemimpin yang tegas untuk memeberantas korupsi. Pemimpin lembek tidak akan bisa melakukannya.

Di negara lain koruptor, pencoleng duit rakyat, dihukum mati atau dipotong tangan. Di Indonesia malah dipotong masa tahanan. (*)

Satgas TMMD Ke 104 Kodim 0824/Jember Juga Bangun Pos Kamling

JEMBER (Swaranews) –  Berbagai pembangunan fasilitas umum yang dibangun oleh Satgas TMMD Ke 104 Kodim 0824/Jember salah satunya juga membangun sarana Pos Keamanan Lingkungan (Pos Kamling), sebanyak 5 Unit Pos Kamling salah satunya untuk warga Dusun Ajung Babi Desa Gunungmalang Kec Sumberjambe Kabupaten Jember.

Pos Kamling yang ada tersebut sebelumnya terbuat dari bambu, kini oleh Satuan Tugas (Satgas) TNI Manunggal Membangun Desa ( TMMD) langsung dibedah dan dibangun Pos Kamling yang lebih representatif dengan bangunan tembok.

Dengan Pos Kamling yang lebih memadai tersebut diharapkan masyarakat lebih giat melaksanakan pengamanan dilingkungannya karena keamanan merupakan kebutuhan mendasar dalam mewujudkan kemakmuran dan kesejahteraan hidup masyarakat.

Komandan Kompi Satgas TMMD Kapten Inf Suwarno saat kami temui pada Rabu 20/03/2019 menyampaikan, bahwa disetiap titik Pos Kamling ada 3 orang anggota Satgas TMMD yang bertugas melakukan percepatan pembangunannya.

Untuk material di semua titik hingga saat ini tidak terdapat kendala ketersediaannya, namun kendalanya hanya pada pengangkutan untuk mendekatkan dilokasi pekerjaan, yang harus diusung secara manual oleh anggota Satgas TMMD bersama maasyarakat setempat. Pungkas Komandan Kompi Satgas TMMD Ke 104 Kodim 0824/Jember tersebut. (sub)

Unas Tak Perlu, Muspro Dalam PBM, Belajar Lebih Penting

Oleh: Prof. DR. Gempur Santoso, M.Kes
Managing Director APENSO Indonesia

KELULUSAN Siswa ditentukan Dewan Guru (ujian sekolah). Sudah tepat. Tahu anak tersebut sudah bisa, layak lulus. Tentu yang tahu gurunya yg ngajar/mendidik, bukan pemerintah (dikbud).

Evaluasi kualitas pendidikan dan kualitas layananan pendidikan oleh negara berbentuk Ujian Nasional (Unas) jelas tidak tepat.

Selama ini Unas, dibilang untuk pemetaan pun muspro. Ada intervesi apa setelah pemetaan? Kayaknya hasil unas pun ditumpuk bgt saja sbg arsip, bukti telah unas.

Nyatanya problem pendikikan tetap itu2, saja sejak dulu:
Banyak gedung sekolah tak layak,
Banyak sekolah kekurangan guru.
Banyak guru status honorer/gtt honor rendah,
Kekurangan/minim sarana sumber belajar.
Kualitas murid/output/outcome rendah.
Pengangguran terpelajar numpuk efek kualitas rendah.
DLL

Sebaiknya dana UNAS dialihkan ke yg lebih bermakna. Misal guru segera diangkat statusnya. Perbaikan proses belajar mengajar (PBM). Sarana prasaran sumber belajar diperbaiki, dilengkapi. Itu lebih utama.

Evaluasi pendidikan, cukup ambil data dari pengawas sekolah dan komulatif indeks prestasi (IP) siswa saja. Tak perlu Unas yg harus mengeluarkan biaya lagi. Kalau hanya untuk pemetaan.

Beberapa negara maju Unas sudah dihapus. Tak perlu lagi banyak jenis ujian. Sekolah terlalu banyak jenis ujian sangat tak berguna. Lebih berguna sekolah itu murid lebih banyak belajar.

Yang ngotot Unas tetap ada. Diduga mereka yang diuntungkan proyek Unas. Dana sangat besar. Padahal Unas itu muspro.

Pada dasarnya anak usia sekolah sangat haus belajar. Rasa ingin tahu lebih kuat. Sayang jika dipermainkan kepentingan proyek Unas, melemahkan semangat murid.

Majulah generasi muda. Majulah pendidikan. Bisa maju harus belajar, belajar, dan belajar.

(GeSa)

Kasiter Korem 083/Bdj Cek Pengerjaan Sasaran TMMD Ke 104 Kodim 0824/Jember

JEMBER (Swaranews) – TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) ke 104 Kodim 0824/Jember memang tidak lepas dari pengawasan baik dari pihak Pemerintah Daerah maupun dari Struktural Komando Atas seperti Korem 083/Bdj.

Seperti yang dilakukan pada Selasa 19/03/2019 oleh Kepala Seksi Teritorial (Kasiter) Korem 083/Bdj Mayor Inf Anton Prasetyo yang turun langsung ke lokasi kegiatan TMMD Ke 104 Kodim 0824/Jember di Desa Gunungmalang Kec Sumberjambe Kab Jember.

Seluruh titik sasaran Kegiatan TMMD Ke 104 dilakukan pengecekkan langsung, hal tersebut tentunya dalam rangka melihat langsung pengerjaan yang dilakukan oleh Satuan Tugas TMMD Ke 104 tersebut, utamanya menjelang dilakukannya penutupan pada 27/03/2019 nanti, dalam arti dengan kurun waktu yang ada untuk dilakukan optimalisasi pengerjaan sehingga sasaran kegiatan dapat terselesaikan seluruhnya.

Kedatangan Mayor Inf Anton Prasetyo didampingi oleh Komandan Kompi Satgas TMMD Kapten Inf Suwarno serta Perwira Seksi Teritorial (Pasiter) Kodim 0824 Kapten Inf Sondah Krisyamto dan mengantarnya keseluruh titik kegiatan, termasuk sasaran pengerjaan jembatan di Dusun Karang Kebun yang tidak lepas dari pengecekkan.

Komandan Satgas TMMD Ke 104 Kodim 0824/Jember Letkol Inf Arif Munawar sekaligus Komandan Kodim 0824 yang sedang melaksanakan kegiatan dinas ke Surabaya saat dikonfirmasi membenarkan, bahwa sejak senin kemarin beliau memang berada di Jember dalam rangka melihat langsung progres pengerjaan TMMD.

Terkait hal tersebut Letkol Inf Arif Munawar menyampaikan bahwa suatu kehormatan kegiatan Satgas TMMD menerima kunjungan Kasiter Korem 083/Bdj, sehingga bisa tahu langsung perkembangan pekerjaan TMMD Ke 104 Kodim 0824/Jember ini, meskipun terkendala cuaca namun dilakukan upaya-upaya percepatan termasuk dangan lembur malam hari. (sub)

Ads