Beranda blog Halaman 3

Risma Paparkan Surabaya Dalam Ajang The Guangzhou International Award 2018

GUANGZHOU (Swaranews) – Dihadapan 400 juri dan 14 finalis The Guangzhou International Award 2018, Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini menyampaikan paparan presentasinya, bagaimana perkembangan Surabaya dari masa ke masa yang terus berinovasi menuju kota Sustainable Development Goals (SDGs).

Ia mengungkapkan, pada tahun 2003, Surabaya mengalami masalah besar sampah. Saat itu, Surabaya dikenal sebagai kota yang panas, kering, dan sering banjir selama musim hujan. Hampir 50 persen dari total wilayah Surabaya banjir pada waktu itu.

“Mengatasi masalah ini, kami mengajak partisipasi masyarakat yang kuat untuk bekerja bahu membahu dengan pemerintah kota dalam melakukan pengelolaan limbah. Karena kami memiliki masalah besar untuk diselesaikan, tetapi dengan anggaran terbatas yang tersedia,” kata Wali Kota Risma saat menyampaikan paparannya dalam Guangzhou International Award di China, Kamis, (6/12/2018).

Oleh karena itu, pihaknya kemudian menciptakan berbagai macam program dan kebijakan untuk menyelesaikan masalah ini, agar tidak membebani anggaran lokal. Diantaranya yakni, mengajak masyarakat untuk ikut berperan serta bersama pemerintah mengatasi permasalahan sampah. Warga mulai diajarkan bagaimana mengelolah sampah secara mandiri, yang berkonsep pada 3R (Reuse, Reduce dan Recycle). “Partisipasi publik yang kuat menjadi faktor utama keberhasilan Kota Surabaya dalam mengatasi permasalahan sampah,” ujarnya.

Metode pengomposan sederhana dengan biaya rendah juga diperkenalkan ke masyarakat dengan menggunakan keranjang Takakura di setiap rumah. Bahkan, warga mulai diajak mendirikan bank sampah, dimana orang dapat menjual sampah anorganik mereka secara teratur dan menarik uang ketika mereka membutuhkannya. Banyak bahan dari sampah yang digunakan kembali sebagai dekorasi kampung, pot bunga, pohon natal, dan sebagainya. Orang-orang juga mendaur ulang sampah anorganik menjadi produk yang bernilai ekonomis untuk dijual dan mendapatkan penghasilan tambahan.

Ia mengatakan Surabaya juga bekerja sama dengan mitra internasional dalam metode pengelolaan limbah, termasuk Kota Kitakyushu untuk pengomposan dan pemilahan sampah, serta Swiss untuk penggunaan lalat hitam dengan tujuan mengurangi sampah organik. “Metode lalat hitam dilaksanakan di tingkat rumah tangga. Sementara pengomposan, dilaksanakan di tingkat kelurahan dan kota,” jelasnya.

Wali Kota Risma menuturkan, untuk mengatasi masalah lingkungan, Pemkot Surabaya juga membangun waduk-waduk sebagai resapan air selama musim hujan dan berfungsi sebagai cadangan air selama musim kemarau. Sebanyak 58 waduk telah diciptakan dan 28 ribu hektar hutan bakau sedang dikonservasi di wilayah pesisir timur. “Pembangunan waduk dan konservasi hutan bakau ini sangat penting untuk melindungi kota dari banjir,” katanya.

Selain itu, Wali Kota Risma menyampaikan Pemkot Surabaya juga melakukan penanaman ribuan pohon untuk membuat 45.23 hektar hutan kota dan 420 taman kota yang tersebar di seluruh wilayah Surabaya. Pembangunan tidak hanya di pusat kota, tetapi juga di daerah padat penduduk. Sebagai hasilnya, masyarakat dapat menikmati peningkatan indeks kualitas udara dan air, mengurangi volume limbah rumah tangga, mengurangi area banjir dari hampir 50 persen menjadi hanya 2 hingga 3 persen, penurunan tingkat penyakit dan penurunan suhu rata-rata 2 derajat celcius.

“Semua program ini sangat terkait dengan tujuanSustainable Development Goals (SDGs) 3, 6, 7, dan yang paling penting SDG 11, yaitu membuat kota dan pemukiman manusia inklusif, aman, tangguh, dan berkelanjutan,” tutupnya.

Usai menyampaikan presentasinya, beberapa finalis pun mengapresiasi paparan dari Wali Kota Risma itu. Diantaranya, finalis asal Repentigny, Kanada, yang terinspirasi dengan program-program yang telah digagas oleh wali kota perempuan pertama di Surabaya ini. “Peran seorang pemimpinan yang luar biasa, program berdampak. Sangat menyenangkan dan sangat menginspirasi,” kata finalis asal Kota Repentigny, Kanada.

Hal yang sama juga disampaikan oleh salah satu finalis asal Sydney Australia. Ia pun mengapresiasi sosok kepemimpinan Wali Kota Risma yang mampu mendorong masyarakatnya untuk ikut serta membantu pemerintah dalam pengelolaan sampah. “Pemimpin yang menginspirasi. Mengubah perilaku masyarakat pastilah sangat sulit, apalagi bertahan dalam waktu yang lama,” pungkasnya.

Surabaya menjadi satu-satunya kota di Indonesia yang menjadi finalis The Guangzhou International Award 2018. Dalam ajang ini, Surabaya berkompetisi dengan 14 kota lain. Yakni, Sydney (Australia), Repentigny (Canada), Milan (Italy), eThekwini (South Africa), Guadalajara (Mexico), Utrecht (Netherlands), New York (USA), Yiwu (China), Santa Ana (Costa Rica), Kazan (Russia), Mezitli (Turkey), Santa Fe (Argentina), Salvador (Brazil), dan Wuhan (China). (mar)

16 Calon Direksi PD Pasar Surya Jalani Fit And Proper Test

SURABAYA (Swaranews) – Proses rekrutmen direksi PD Pasar Surya memasuki babak akhir. Setelah melalui proses penyaringan seleksi administrasi, uji assesmen kompetensi psikologi, observasi pasar dan uji makalah, dari ratusan pelamar direksi PD Pasar Surya kini tinggal 16 orang.

Dari 16 orang ini mereka akan menjalani fit and proper test yang akan dilaksanakan Jumat-Sabtu (7-8 Desember 2018). Fit and proper test akan dilaksanakan di kantor PD Pasar Surya. Nantinya masing-masing pelamar akan menjabarkan visi dan misi di hadapan tim penguji yang terdiri Prof Dr Djoko Mursinto SE, M.Ec, Ir Don Rozano SP., MM, Doddi Madya Judanto SE, MSc, Drs Kresnayana Yahya MSc, dan Agus Widyantoro SH MH.

“Setelah pemaparan visi misi akan dilanjutkan dengan tanya jawab antara masing-masing pelamar dengan tim penguji,” ungkap Ketua Badan Pengawas PD Pasar Surya Rusli Yusuf, Kamis (6/12/2018).

Ia menjelaskan fit and proper test dilaksanakan dalam dua hari. Di hari pertama, Jumat (7/12/2018), mereka yang menjalani fit and proper test adalah empat calon direktur utama (Dirut) dan dua calon direktur Direktur Administrasi Keuangan (Dirkeu).

“Kemudian di hari kedua, Sabtu (8/12/2018), akan dilanjutkan dengan 10 pelamar yang lain, yakni dua Dirkeu, empat Direktur Pembinaan Pedagang dan empat Direktur Teknik dan Usaha,” terangnya.

Rusli Yusuf yang juga ketua tim rekrutmen direksi PD Pasar Surya ini menambahkan proses fit and proper test di hari pertama akan dimulai pukul 13.00 hingga selesai. Sedangkan di hari kedua dimulai pukul 10.00 hingga selesai.

“Teknisnya, masing-masing calon dirut dan direktur akan presentasi secara bergantian satu persatu di depan tim penguji. Waktu presentasi dan tanya jawab estimasinya masing-masing selama 45 menit,” ujarnya kembali.

Proses rekrutmen direksi PD Pasar Surya ini sendiri sudah dimulai sejak 1 Oktober 2018 lalu. Ada 300 lebih lamaran yang diterima tim rekrutmen dengan posisi yang berbeda-beda.
Dari jumlah itu, hanya 37 pelamar yang dinyatakan lolos seleksi administrasi. Selanjutnya, dari 37 pelamar menjalani uji assesmen kompetensi psikologi (29-30 Oktober 2018), observasi pasar (16-18 November 2018) dan uji makalah (19 November 2018). Melalui tiga seleksi itu, dari 37 pelamar yang lolos sebanyak 17 orang. Namun karena satu pelamar menyatakan mengundurkan diri, maka kini jumlah pelamar tinggal 16 orang.

BERIKUT 16 NAMA CALON DIREKSI PD PASAR SURYA YANG AKAN MENJALANI FIT AND PROPER TEST:

Direktur Utama
1. Angga Primadi Purbianto
2. RM Muchlissaleh Diponegoro
3. Zandi Ferryansa
4. Teguh Wijayanto

Direktur Administrasi Keuangan
1. Muhammad Eddy Rosyadi
2. Yanuar Budianto
3. Fajar Raharjo
4. Sutjahjo

Direktur Pembinaan Pedagang
1. Roy Hermawan W
2. Wahyu Siswanto
3. Abdulloh
4. M Taufikurahman

Direktur Teknik dan Usaha
1. Heru Rachim Kurniawan
2. Muhibudin
3. Yusuf Wibisono
4. Rakhmad Yulianto  (mar)

Tetesan Darah Anggota 082/CPYJ, Sambut Kedatangan Hari Juang Kartika dan HUT Kodam Brawijaya

KOTA MOJOKERTO (Swaranews) – Tidak seperti biasanya, Sunrise Mall Kota Mojokerto terlihat lebih ramai ketimbang hari-hari biasanya. Bagaimana tidak, pagi ini, Danrem 082/CPYJ, Kolonel Arm Budi Suwanto, S. Sos, menjadikan mall tersebut sebagai pusat digelarnya bakti sosial, donor darah dalam rangka menyambut datangnya Hari Juang Kartika ke-73, dan HUT Kodam Brawijaya ke-70 tahun.

Dengan didampingi oleh beberapa pejabat teras di wilayah Korem 082/CPYJ, sontak, kedatangan orang nomor satu di tubuh Makorem itu, langsung disambut oleh para relawan Palang Merah Indonesia (PMI) Kota dan Kabupaten Mojokerto, yang sudah berbaris rapi di mall tersebut.
Tanpa ragu-ragu, Danrem 082/CPYJ, Kolonel Budi langsung membaringkan tubuhnya ke salah satu velbed yang sudah disediakan oleh pihak PMI Kota Mojokerto.

Melihat orang nomor satu di tubuh Makorem itu bersiap diri untuk mendonorkan darahnya, para prajurit dan PNS di wilayah tugasnya pun, secara serentak langsung mengikuti hal yang sama dilakukan oleh Danrem.

Kolonel Budi mengungkapkan, kegiatan dalam rangka menyambut HJK dan HUT Kodam Brawijaya saat ini, memang sengaja digelar secara sederhana, namun memiliki makna tersendiri bagi masyarakat.

Menurutnya, tetesan darah yang disumbangkan oleh para prajuritnya tersebut, dinilai sangat berguna bagi masyarakat yang membutuhkan.

“Setetes darah dari prajurit kami, sangat berarti bagi nyawa manusia,” ungkap Kolonel Budi Suwanto.

Danrem menyebut, kegiatan itu memang sengaja digelar oleh dirinya. Selain dalam rangka menyambut datangnya HJK dan HUT Kodam, bakti sosial yang diikuti oleh seluruh prajurit dan PNS Korem tersebut, merupakan suatu bukti jika TNI-AD sangat peduli terhadap masyarakat.

“Mudah-mudahan, dalam rangka menyambut HJK dan HUT Kodam, Kemanunggalan TNI-AD dan rakyat di Jawa Timur semakin kokoh,” kata Danrem. (sub)

Pasca Matinya Walisongo Media

Oleh: Dr H Dhimam Abror Djuraid
Wartawan Senior
Doktor Ilmu Komunikasi

BANYAK yang mengira media adalah organisasi sosial yang seharusnya setia kepada idealisme.

Padahal, media adalah perusahaan yang tidak ada bedanya dengan perusahaan-perusahaan lain–bertujuan mencari untung.
Banyak yang mengira pemimpin redaksi adalah pengambil keputusan tertinggi yang menentukan berita apa saja yang bisa ditayangkan atau tidak.

Padahal, penguasa tertinggi dalam organisasi media adalah pemilik (owner). Dia yang menentukan arah kebijakan redaksi media. Sang owner yang menentukan berita ini boleh tayang, berita itu jangan tayang.
Otoritas yang dimiliki oleh pemimpin redaksi tidak terlalu besar, karena levelnya hanya setara dengan kepala divisi. Kalau agak beruntung levelnya dinaikkan menjadi wakil direktur, atau, naik lagi menjadi direktur pemberitaan.

Ada juga–meskipun hanya satu dua–yang diangkat menjadi direktur utama. Tapi, di atas direktur utama masih banyak berjajar para bos, mulai dari komisaris, komisaris utama, dan komisaris paling utama yakni sang owner.
Ada pula pemimpin redaksi yang beruntung mendapat hadiah saham dari perusahaan. Tapi, paling banter hanya beberapa persen saja sehingga otoritasnya pun terbatas.
Banyak yang mengira bahwa wartawan beda dengan pekerja lainnya, karena wartawan bekerja berdasarkan idealisme yang dipandu oleh kode etik jurnalistik.

Padahal, praktiknya, wartawan diperlakukan sama dengan pekerja lainnya dalam hal jenjang kepangkatan, sistem penggajian, tunjangan, bonus, pensiun (kalau ada), dan sistem remunerasi lainnya.
Sama dengan karyawan lainnya, kinerja wartawan diukur dengan KPI (key performance indicator), berapa banyak dalam sehari berita disetorkan dan berapa banyak yang ditayangkan. Dia harus mengisi presensi dengan finger print dan kalau sakit harus ada izin dokter.

Ada perusahaan media yang memberi tunjangan ekstra kepada wartawan, untuk membedakannya dari karyawan lain. Tapi, dalam sistem pemberian bonus, wartawan diperlakukan sama dengan karyawan lainnya, mereka akan mendapat bonus kalau perusahaan laba. Kalau perusahaan tidak laba wartawan tidak akan dapat bonus meskipun prestasi jurnalistiknya hebat.

Banyak yang mengira wartawan tidak boleh menerima amplop. Anda benar. Kode etik jurnalistik melarang wartawan menerima pemberian dalam bentuk apapun supaya menurunkan atau tidak menurunkan berita.
Banyak yang mengira wartawan bergaji (lumayan) tinggi. Padahal, banyak yang seperti pekerja pabrik digaji UMR, dan banyak sekali yang tidak bergaji tetap.

Karena itu berat sekali menghadapi godaan amplop. Apalagi para penyuap menyebut amplop dengan sebutan macam-macam supaya tidak dianggap menyuap; ada sebutan uang kopi, uang lelah, uang transport, uang kehormatan, dan masih banyak sebutan lain.
Banyak yang mengira berita tidak bisa diperjualbelikan. Padahal, sekarang banyak sekali cara untuk mengakali berita supaya bisa diperjual belikan. Ada yang namanya “advertorial”, “pariwara”, “adv”, “native ad”, dan nama-nama lain untuk menjustifikasi pembayaran. Dengan membayar jumlah tertentu Anda bisa mendapatkan kontrak supaya berita-berita Anda bisa ditayangkan.
Dulu ada teori “Tembok Api”, Firewall Theory, yang memisahkan aktivitas redaksi dengan urusan bisnis. Di antara keduanya seperti ada tembok api yang tidak bisa ditembus. Sekarang tembok itu sudah tidak ada lagi, atau sudah banyak dibuat pintu bobolan untuk menerobosnya.

Banyak yang mengira pemilik perusahaan media adalah wartawan. Betul. Di zaman old para pemilik media adalah wartawan, seperti Mochtar Lubis, Rosihan Anwar, B.M Diah, dan berlanjut pada generasi Jacob Oetama, Goenawan Mohamad, dan Dahlan Iskan. Tapi, di zaman now para taipan media tidak punya latar belakang wartawan. Hary Tanoesoedibjo, Surya Paloh, Aburizal Bakrie, Chaerul Tanjung, James Riyadi, Eddy Sariatmaja, Anthony Salim, Erick Thohir. Mereka tak punya latar belakang wartawan dan sulit diminta untuk bisa menghayati idealisme media.

Mereka juga punya partai politik atau berafiliasi dengan kekuasaan untuk membentuk “deadly combination”, kombinasi maut, antara media, modal, dan kekuasaan politik.
Banyak yang mengira negara mengatur media. Dalam hal kebebasan pers negara tidak boleh mengatur. Tetapi, dalam hal kepemilikan media negara harus mengatur. Dan khusus untuk televisi dan radio negara wajib mengatur karena memakai frekuensi udara yang menjadi milik publik.

Praktiknya, sekarang nyaris tidak ada aturan yang membatasi kepemilikan media. Media-media sekarang menjadi konglomerasi besar sampai ratusan media dan merambah ke bisnis lain diluar media. Para konglomerat non-media bebas membeli dan menguasai media. Hubungan kepemilikan media saling terkait secara rumit satu dengan lainnya, sehingga satu media dengan lainnya bisa mempunyai bos yang sama pada satu titik.
Di Amerika dan Eropa kepemilikan silang media dilarang oleh undang-undang. Pemilik koran tidak boleh memiliki radio atau televisi, dan sebaliknya. Di Indonesia aturan ada tapi tidak jalan. Seorang pemilik koran bebas memiliki radio, televisi, dan online.

Dulu ada Wali Songo media; B.M Diah, Rosihan Anwar, Mochtar Lubis, A. Aziz, A. Hetami, Atang Ruswita, Jacob Oetama, Wonohito, Mohamad Said. Sekarang ada “Seven Magnificent” penguasa media; Surya Paloh, Edy Sariatmaja, Hary Tanoesoesibjo, Jacob Oetama, Chaerul Tanjung, Ciputra, Erick Thohir.
Dulu mereka sakti karena idealisme sekarang sakti karena modal.

Banyak yang mengira media netral dan objektif. Tidak. Media punya kepentingan politik dan bisnisnya masing-masing. Sering keduanya tak bisa dipisahkan. Kalau peristiwa Reuni 212 tidak diberitakan di sejumlah media, itu karena kepentingan bisnis dan politik.
Kalau ada media yang setiap saat melakukan pemlintiran, sehingga muncul berita Prabowo soal tampang Boyolali, ojek online, soal korupsi stadium empat, dan terbaru soal kekecewaannya terhadap media (5/12), itulah bukti adanya kepentingan bisnis dan politik para pemilik media.
(Dhimam Abror Djuraid)

Upacara Piodalan di Merajan Agung dari Keluarga I Gusti Made Gunung

BALI (Swaranews) – Upacara Piodalan di Merajan Ibu atau Merajan Agung dari keluarga kami Purusa I Gusti Made Gunung dilaksanakan pada 25/10/2018 pk. 17. 00 WITA.. Dihadiri oleh keluarga besar I Gusti Putu Santa anak sulung dari I Gusti Made Gunung yang diwakili oleh putranya I Gusti Agung Wardhana dan putrinya Gusti Ayu Kusuwardhani serta keluarga besar I Gusti Mawa.
Acara ritual ini dipimpin oleh mangku I Gusti Ngurah Agung. Piodalan merupakan ulang tahun pura kami sebagai peringatan mengenang jasa leluhur dan melestarikan tradisi leluhur dengan ritual persembahan Banten, Pejati, Ajuman, Tebasan, Baiwan, perangkatan berupa aneka jajan, bunga, buah sebagai kramaming dipersembahkan kepada Batara Brahma, Wisnu, Siwa, Batara Surya, Batari Sri serta Batara-Batari lainnya. Mendiang I Gusti Made Gunung merupakan leluhur keturunan Ariya Kepakisan, keturunan dari Raja Sri Aji Kresna Kepakisan Takmung, Klungkung, Bali.
“Persembahan ini sebagai bentuk bakti kepada dengan niat baik, ketulusan dan keikhlasan untuk leluhur,” jelas Mangku I Gusti Ngurah Agung.
Kemudian acara Rainan Kajeng Kliwon pada tanggal 6/11/2018 di Merajan Agung yang sama, I Gusti Agung Wardhana kerawuhan saat ritual memanggil arwah leluhurnya. “Saat kita berdoa dengan ketulusan dan keikhlasan maka kita akan merasakan kedamaian dalam hati,” ujar I Gusti Agung Wardhana. Sun

Bakti Sosial di Panti Sosial Tresna Werda Wana Denpasar

DENPASAR (Swaranews) – Kegiatan bakti sosial wartawan Swaranews Sunardi Sutanto, I Gusti Agung Wardhana dan Gusti Ayu Kusumawardhani membagikan 40 kain sewek di panti sosial Tresna Werda Wana Seraya Denpasar , 16/10/2018.
Acara pembagian ini sebagai bentuk pelimpahan jasa kepada leluhur nenek Njoo Giok Hua dan kakek Njoo Jiok asal Denpasar yang meninggal 2004 di Surabaya.
“Pelimpahan jasa sebagai bentuk berbakti dan pengabdian kepada leluhur dengan berbuat kebajikan jasanya dilimpahkan kepada leluhur demi kebahagiaan leluhur di alam baka agar kesalahan leluhur di masa lalu semasa hidupnya dimaafkan oleh dewa Khiam Lo Ong. Semoga kegiatan ini dapat menjadi teladan bagi generasi muda Tionghoa yang melestarikan tradisi budaya berbakti kepada leluhur, ” ujarnya. Sun

Upacara Pratima di Puri Surya Majapahit

MOJOKERTO (Swaranews) – Upacara Pratima dipimpin eyang Surya Sri Wilatikta Brahma Raja XI di Puri Surya Majapahit pada tanggal 22/10/2018. Prosesi ritual religi diawali Melasti yaitu mengelilingi desa dimulai dari puri Surya Majapahit mengelilingi kolam Segaran mengelilingi candi Bajang Ratu lalu kembali ke astana. Dilanjutkan membersihkan astana leluhur di pagoda puri Surya Majapahit. Puncak acara Pratima yaitu memasukkan kimsin Avalokitesvara di tempat yamg maha tinggi sebagai bentuk penghormatan kepada para leluhur.
Eyang Suryo mengkritisi carut marutnya kondisi indonesia saat ini sesuai ramalan Raden Jayabaya dalam bahasa Jawa wong jujur dadi kujur, wong jahat dadi lunjak-lunjak, ukum yudha sedaya artinya orang jujur jadi hancur dan orang jahat jadi gembira dan hukum membela yang salah.
“Kekacauan ini akibat hawa nafsu, keserakahan, kebencian yang tinggi terhadap sesama manusia serta banyak manusia nusantara yang melupakan leluhurnya dari keturunan Sriwijaya dan Majapahit yang berjaya di masa lalu. Jika banyak manusia sadar leluhurnya maka i
Indonesia akan berjaya saat ini maupun masa mendatang. Slogan NKRI Harga Mati merupakan realita kembalinya kejayaan nusantara saat ini, ” pesan eyang Surya Sri Wilatikta Brahma Raja XI. Sun

Perayaan Ulang Tahun ke 193 Klenteng Eng An Kiong Malang

KOTA MALANG (Swaranews) – Perayaan ulang tahun ke 193 klenteng Eng An Kiong Malang, 18/10/2018 dilaksanakan ritual kirab ruwatan bumi mengelilingi Kota Malang.
Kirab ini dihadiri 26 perwakilan klenteng se Indonesia. Hadir sejumlah tokoh masyarakat, diantaranya Aji Sutiadji Walikota Malang, Ida Wahyu Made Wahyuni Kadisbudpar Malang, Kompol Suko Wahyudi Kapolsek Kedungkambang, Eyang Suryo Wilwatikta XI dari Puri Surya Majapahit, Oei Gin Koen Perwakilan PTITD Komda Jatim serta tokoh lintas agama lainnya.
Dalam sambutannya Walikota Malang mengajak masyarakat mengembangkan sikap toleransi saling menghormati yang berbeda keyakinan. Liem Wan Jang selaku ketua Klenteng Eng An Kiong Malang mengharapkan,” Kebersamaan yang terjalin mesra ini terus berlanjut dalam membangun kehidupan bersama yang damai dan harmonis.”
Kebhinekaan tunggal ika tercermin dalam atraksi tarian Bhayangkari, Liang Liong oleh Kodim Malang, reog Ponorogo, barongsai dan lainnya bersatu dalam kebhinekaan tunggal ika. Atraksi lainnya dari Puri Surya Majapahit Graha Wisnu Kencana Jimbaran Bali yang menampilkan ritual Siwa Buddha menambah semaraknya suasana kirab tersebut.
Kerukunan terlihat saat perwakilan Nacha Malang sempat pingsan kemasukan arwah gentayangan dibantu penyembuhan oleh ibu Wulan, spiritualis dari Bali. “Anak itu kondisi pikirannya sedang kosong dan kelelahan fisik sehingga masuklah arwah gentayangan orang yang meninggal kecelakaan di jalanan,” ujarnya. Melalui mantera yang diucapkan bu Wulan, anak tersebut siuman kembali.
Kirab ritual ini diikuti 26 klenteng se Indonesia diantaranya 3 klenteng dan satu lithang asal surabaya yaitu klenteng Shiang You Wei, Sam Poo Sing Bio, Hong San Koo Tee dan Lithang Pa Kik Bio. Sedangkan klenteng luar Jawa yang hadir Ching Kuan Sie Jimbaran Bali, Ampenan Lombok dan lainnya. Sun

Wakil Gubernur Bali Mengajak Pererat Kesatuan dan Persatuan Dalam Kebhinnekaan di Acara Senam S3 Andrie Wongso

BALI (Swaranews) – Memperingati hari Sumpah Pemuda 28 Oktober 2018, Puputan Margarana dan hari pahlawan 10 November 2018 Paguyuban Sosial Marga Tionghoa Bali bersama Perhimpunan Indonesia Tionghoa Bali, Pexi Bali, FKPEN, Gema Perdamaian, Legiun Veteran Republik Indonesia Bali dan Korps Bela Negara Republik Indonesia menyelenggarakan Senam S3 dengan bintang tamu Andrie Wongso, motivator nomor satu Indonesia.
Hadir Wakil Gubenur Bali Tjokorda Oka Artha Wardhana dalam sambutannya ia mengajak masyarakat Bali untuk mempererat persatuan dan kesatuan bangsa dengan mengembangkan sikap toleransi dalam kebhinekaan tunggal ika.
Acara diawali dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya dan parade baju adat nusantara dilanjutkan atraksi barongsai. “Tujuan acara ini untuk mempersatukan seluruh elemen komponen masyarakat Bali dari berbagai latar belakang suku, agama dan ras demi menegakkan negara kesatuan republik indonesia,” kata Mudji Raharto, ketua panitia.
Acara kebersamaan ini dikemas dalam Senam S3 bersama Andrie Wongso di lapangan Bajra Sandhi Renon dihadiri sekitar 5 ribu masyarakat Bali pada tanggal 11/11/2018. Dengan slogan Sehat Semangat Senang, Andrie Wongso mengajak masyarakat Bali hidup sehat melalui senam untuk menjaga kebugaran tubuh, kesehatan nomor satu. Sun

Rekreatif Cegah Nisokomial

Oleh: Prof. Dr. Gempur Santoso, M.Kes
Direktur LPIK Universitas PGRI Adi Buana Surabaya
Managing Director Asosiasi Pendidikan dan Sosial (APENSO) Indonesia, Penasehat Swaranews.

 

AKHIR-akhir ini saya mengajak istri dalam aktivitas saya. Paling tidak, sudah dua kali. Ke Jakarta. Kali ini, 21 Oktober 2018, ke Bali. Sebagai nara sumber seminar nasional.
Mengapa istri mulai sering diajak, karena istri di rumah sendirian. Ketiga anak anak kami sudah jarang di rumah. Ada yang sudah rumah sendiri. Ada yang kerja, pulang tidak tiap hari. Ada yang tinggal di tempat kerjanya.
Pagi. Kami sampai di Bandara. Akan ke Bali. Check in tiket. Saat ini tidak lagi melalui loket. Check in sendiri melalui komputer yg telah disediakan. Layar besar. Tinggi layar pas, sesuai tinggi badan saya. Sehingga tak perlu membungkuk. Ergonomis.
Setelah tiket istri saya. Kemudian tiket saya. Semua sudah langsung print out. Seperti kalau di atm. Tombol yes, dapat print out tanda pengambilan uang.
Menunjukan tiket, masuk. Chek barang, penumpang. Melalui sinar ex-ray.
Jalan lagi, menuju loket bagasi, check tiket disertai KTP. “Mbak tolong kursi duduk saya dekat cendela, jejer kursi istri saya” permitaan saya. Jawab petugas “tidak bisa pak, sebab sistem ceck in di komputer, acak”.
Saya dapat kursi depan, istri di belakang. Akhibat sistem acak komputer.
Penumpang tak bisa pilih. Saya usul “agar bisa duduk jejer istri bagaimana?”, permintaan saya. “Bisa pak, bayar lagi, bapak pilih yg harga Rp. 60 ribu atau Rp. 110 ribu”, jawab petugas. Lho dulu, pilih tempat duduk kan tak bayar mbak. Jawab petugas ” sekarang tidak bisa, sebab diacak oleh sistem komputer. Ya saya bayar saja, pilih harga yang murah. 2 orang total Rp. 120 rb Yang penting bisa duduk berdampingan dengan istri. Dalam pesawat.
Perjalanan sekitar 1 jam sudah sampai Bandara Ngurahrai Bali. Dijemput 2 orang panitia. Sekitar 15 menit sampai kampus temapat seminar.
Langsung diajak ke ruang Ketua Program Studi Kesehatan Lingkungan. Poli Teknik Kesehatan Bali. Perkenalan sebentar. Kemudian, ke ruang seminar.
Tema yang diberikan Evaluasi Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja untuk Pencegahan Infeksi Nosokomial.
Nosokomial merupakan infeksi terkait layanan kesehatan dan fasilitas kesehatan. Infeksi itu akibat mocroorganisme: virus, bakteri dan makhluk halus (micro) lainnya.
Pasien dan petugas kesehatan berisiko besar terkena infeksi nosokomial. Secara patologis, masuknya microorganisme dalam tubuh, mengalami infeksi lokal. Selanjutnya, bisa menjadi gejala klinis sistemik. Badan panas, tekanan darah rendah, menggigil. Bahkan gangguan mental: tidak tenang.
Tak segera ditangani. Bisa menyebar dalam tubuh. Keracunan dalam darah. Mengalami kematian. Hal itu perlu preventif.
Komitmen manajemen tempat layanan kesehatan menjadi penting. Komitmen bisa terlaksana ditentukan utama oleh pimpinan manajamen. Jika tidak, sistem manajamen keselamatan dan kesehatan kerja akan mandek. Resiko, salah salah satunya, mewabah nosokomial.
Pencegahan risiko harus dilakukan. Petugas kesehatan wajib cuci tangan sebelum dan sesudah menangani pasien.
Segala alat yang dimasukan tubuh pasien, berisiko. Suntikan, kateter dan sebagaianya. Alat itu wajib steril, dan segera diganti. Penggunaan antibiotik jumlah over dan melebihi 10 hari. Itu membuat resiten.
Bersihkan dan sterilkan ruangan. Kontrol tempat tidur pasien, sterilkan. Setelah operasi dan bagian mokusal resiko tinggi berkembangnya microarganisme membuat infeksi nosokomial.
Mari sehat. Cegah jangan sampai sakit. Mari berkomitmen untuk sehat semua. GeSa