Oleh: Prof. Dr. Gempur Santoso, M.Kes
Direktur LPIK Universitas PGRI Adi Buana Surabaya
Managing Director Asosiasi Pendidikan dan Sosial (APENSO) Indonesia, Penasehat Swaranews.

 

AKHIR-akhir ini saya mengajak istri dalam aktivitas saya. Paling tidak, sudah dua kali. Ke Jakarta. Kali ini, 21 Oktober 2018, ke Bali. Sebagai nara sumber seminar nasional.
Mengapa istri mulai sering diajak, karena istri di rumah sendirian. Ketiga anak anak kami sudah jarang di rumah. Ada yang sudah rumah sendiri. Ada yang kerja, pulang tidak tiap hari. Ada yang tinggal di tempat kerjanya.
Pagi. Kami sampai di Bandara. Akan ke Bali. Check in tiket. Saat ini tidak lagi melalui loket. Check in sendiri melalui komputer yg telah disediakan. Layar besar. Tinggi layar pas, sesuai tinggi badan saya. Sehingga tak perlu membungkuk. Ergonomis.
Setelah tiket istri saya. Kemudian tiket saya. Semua sudah langsung print out. Seperti kalau di atm. Tombol yes, dapat print out tanda pengambilan uang.
Menunjukan tiket, masuk. Chek barang, penumpang. Melalui sinar ex-ray.
Jalan lagi, menuju loket bagasi, check tiket disertai KTP. “Mbak tolong kursi duduk saya dekat cendela, jejer kursi istri saya” permitaan saya. Jawab petugas “tidak bisa pak, sebab sistem ceck in di komputer, acak”.
Saya dapat kursi depan, istri di belakang. Akhibat sistem acak komputer.
Penumpang tak bisa pilih. Saya usul “agar bisa duduk jejer istri bagaimana?”, permintaan saya. “Bisa pak, bayar lagi, bapak pilih yg harga Rp. 60 ribu atau Rp. 110 ribu”, jawab petugas. Lho dulu, pilih tempat duduk kan tak bayar mbak. Jawab petugas ” sekarang tidak bisa, sebab diacak oleh sistem komputer. Ya saya bayar saja, pilih harga yang murah. 2 orang total Rp. 120 rb Yang penting bisa duduk berdampingan dengan istri. Dalam pesawat.
Perjalanan sekitar 1 jam sudah sampai Bandara Ngurahrai Bali. Dijemput 2 orang panitia. Sekitar 15 menit sampai kampus temapat seminar.
Langsung diajak ke ruang Ketua Program Studi Kesehatan Lingkungan. Poli Teknik Kesehatan Bali. Perkenalan sebentar. Kemudian, ke ruang seminar.
Tema yang diberikan Evaluasi Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja untuk Pencegahan Infeksi Nosokomial.
Nosokomial merupakan infeksi terkait layanan kesehatan dan fasilitas kesehatan. Infeksi itu akibat mocroorganisme: virus, bakteri dan makhluk halus (micro) lainnya.
Pasien dan petugas kesehatan berisiko besar terkena infeksi nosokomial. Secara patologis, masuknya microorganisme dalam tubuh, mengalami infeksi lokal. Selanjutnya, bisa menjadi gejala klinis sistemik. Badan panas, tekanan darah rendah, menggigil. Bahkan gangguan mental: tidak tenang.
Tak segera ditangani. Bisa menyebar dalam tubuh. Keracunan dalam darah. Mengalami kematian. Hal itu perlu preventif.
Komitmen manajemen tempat layanan kesehatan menjadi penting. Komitmen bisa terlaksana ditentukan utama oleh pimpinan manajamen. Jika tidak, sistem manajamen keselamatan dan kesehatan kerja akan mandek. Resiko, salah salah satunya, mewabah nosokomial.
Pencegahan risiko harus dilakukan. Petugas kesehatan wajib cuci tangan sebelum dan sesudah menangani pasien.
Segala alat yang dimasukan tubuh pasien, berisiko. Suntikan, kateter dan sebagaianya. Alat itu wajib steril, dan segera diganti. Penggunaan antibiotik jumlah over dan melebihi 10 hari. Itu membuat resiten.
Bersihkan dan sterilkan ruangan. Kontrol tempat tidur pasien, sterilkan. Setelah operasi dan bagian mokusal resiko tinggi berkembangnya microarganisme membuat infeksi nosokomial.
Mari sehat. Cegah jangan sampai sakit. Mari berkomitmen untuk sehat semua. GeSa