Oleh: Gempur Santoso

Ibu. Bisa kata benda. Bisa kata sifat. Ibu sebagai wujud adalah benda, makhluk perempuan. Kodrat mengandung, menyusui tak bisa digantikan kaum pria. Ibu, bersifat lembut, tidak malas kewajibannya. Seolah tak lelah. Secara biologi tentu lelah tiada henti ngerjakan urusan rumah tangga. Gak wegahan (tidak malas).

Istriku, anak perempuanku sudah menjadi ibu. Tentu ibuku sendiri juga ibu kakak adik adikku. Ada kesamaan mereka bertiga. Sama, sebagai ibu. Bangun paling pagi. Sebelum semua bangun, ibu sudah di dapur. Memasak, korah korah (bersihkan peralatan dapur), bikin wedang (minuman) dan sebagainya. Khusus hari ibu, hari ini . Saya tawarkan masak nasi. Saya lakukan. Dia bangga.

Saya bisa masak. Walau masak seadanya. Maklum pernah menjadi anak kost. Masak sendiri. Setelah nikah, punya istri. Saya hampir tak pernah masak sendiri. Istri saya selaku ibu, lebih puas dia membutkan masakan untuk saya. Saat dipuji, masakannya enak. Dia bangga.

Tapi istriku ini suka bertanya. Rasa masakannya, bumbu kurang apa. Saat itu, saya baru mau katatakan. Kurang asin, pedas, kurang gurih termasuk kurang enak. Kalau sudah pas, enak ya saya katakan enak. Lidah saya memang lebih peka.

Terutama. Sehabis daei restoran bersama. Mencoba makan menu baru. Istriku di rumah pasti mencoba membuatnya. Saya bagian tester. Dasar istri hobi masak. Lebih lebih dia hobi buat kue juga. Suka rebyek. Beli kan pratis. Tapi, dia puas masak memasakan keluarga.

Sebelum subuh, kadang, kalau saya bangun duluan. Dia masih tidur pulas. Saya minta wedang. Pasti langsung. Dibuatkan.

Ibu saya dulu seperti itu juga. Tidak wegahan. Sebelum subuh sudah masak. Menyiapkan sarapan untuk saya. Saya pagi sekali bangun. Berangkat sekolah pagi sekali. Jauh. Dari Kunjang ke Pare. Jarak sekitar 20 km. Ngonthel sepeda kumbang. Sekolah di STN (Sekolah Teknik Negeri) Pare.

Saat SD. Pagi buta. Numbuk jagung. Ngampok. Untuk makan. Saat itu makanan pokok sehari hari nasi jagung. Saya membantunya. Setelah masak, sholat subuh. Saya sama ibu ke pasar. Ibuku saya bonceng sepeda. Rengkek, ditali ditaruh di samping boncengan sepeda. Kulakan belanja.

Ibuku, di rumah memang jualan pracangan. Jualan segala bahan makannan mentah. Gula, kopi, sayuran, bumbu dapur, lengo gas (minyak tanah) dan sebagainya.

Anakku yang sudah jadi ibu pun begitu. Ngurusi anak mereka. punya 2 anak. Semua balita. Kini sudah punya rumah sendiri. Pujisyukur.

Kadang sambang ke kami, nginap sekeluarga. Rebyek ngurusi anak anaknya. Dulang (nyuapi), nyusui, anak berak nyewoki. Anak pipis, rewel, nangis. Saat ke rumah kami, tentu dibantu uti (mbah putri)nya. Saat di rumahnya sendiri dibantu Yu Siti, tetangga.

Pastilah, saya waktu balita dulu juga dirawat ibuku. Seperti itu. Cucuku dirawat anakku sebagai ibunya. Saya mbah kung cucu cucuku. Saya senang. Bagian bergurau, ngemong cucu cucuku. Saat saya ada di rumah.

Saya belajar ke cucu cucuku. Belajar sabar, belajar memberi kasih sayang. Belajar disuruh anak kecil sekecil balita. Asyik mengasikan. Tampaknya semakin tua wajib belajar disuruh anak kecil. Agar makin sabar, makin ikhlas hidup ini.

Ibuku, istriku, anak perempuanku. Semua nenjadi ibu anak anaknya. Mereka, memiliki naluri melahirkan manusia generasi baru. Penuh lembut, tak wegahan.

Kasat mata, kukira melelahkan. Ternyata ibu ibu bahagia dan makin bahagia bisa melahirkan telah sukses menjadi ibu yang sempurna.
GeSa, 22/12/18