Oleh: Kris Mariyono
Jurnalis/Pengamat Kesenian

 

PERSOALAN klasik “Prostitusi” atau bahasa populer sesuai kamus lama “Pelacuran ” kembali mengemuka di awal tahun 2019 membuat hati kang Gareng merasa galau dan kacau.

Kang Gareng merasa prihatin, bukan karena takut saudaranya terlibat namun banyak menyangkut publik figur “Artis dan foto model”.”
“Bajigur dicampur gula dan ketan…..publik figur selayaknya jadi panutan,” gumam Kang Gareng sedikit bernada tinggi sembari mengamati aneka jajan di Warkis (Warunge Cak Kis).

“Ke Batu makan dadar…itu bukan standar kang Gareng….karena artis juga manusia yang tidak terlepas dari khilaf, ” ujar Petruk yang tiba-tiba muncul dan bergabung di Warkis.
“Truk,siapa bilang artis itu bukan manusia. Karena manusia makanya memiliki akal dan pikiran. Kikir dan galah dibuat memukul landak ..berpikirlah sebelum bertindak,” kata Gareng bernada petuah.

“Kapur barus untuk sepatu…seharusnya begitu …tapi ingat kang Gareng… setiap orang memiliki watak dan nasib yang berbeda ..seperti halnya rambut sama hitam…pendapatnya tidak sama. Ke Benoa beli arang …main kasti di Belanda..semua orang pasti berbeda,” jelas Petruk sambil mengambil makanan “Springbed” (Martabak mini).

Kang Gareng terdiam sejenak kemudian menimpali omongan Petruk.” Memang Truk, setiap orang memiliki perbedaan. Kutu ada di Katul…..itu betul..perbedaan suatu keniscayaan yang layak kita hargai seperti halnya aneka ragam perbedaan yang ada di bumi Pertiwi..hanya saja perlunya kesadaran dan pemahaman dalam bersikap dan bertindak sesuai norma yang ada….norma ketimuran…lha masalah artis yang berbuat asusila tidak terlepas kondisi dan mental.

Ke Pasar Beli bunga keliru bantal. Dasarnya memang mental….Jelas Kang Gareng yang bernada petuah mirip motivstor Waringin Sungsang.
“Ke Merauke lewat Surabaya jam Tujuh…Oke saya setuju…persoalan mental harus menjadi perhatian utama dalam mengatasi persoalan sosial khususnya Prostitusi yang bukan rahasia lagi merambah kalangan bawah hingga artis…..dan persoalan mental ini memang elemennya tidak hanya satu tapi banyak…

Bawa gelas ke Jepara..Mau lebih jelas wani piro, ” urai Petruk penuh semangat.Kang Gareng setelah mendengarkan penjelasan Petruk dengan seksama kemudian menggeser letaknya duduknya berbarengan terdengar suara sreet….”

“Juangkrik genggong..celanaku sobek ..wualah kena paku …hai Cak Mis …paku kok dipelihara ..trus sobek begini dapat asurasi nggak…ya sudahlah yang sobek biar sobek…Kepiting diatas bantal….yang penting persoalan mental..memang elemennya banyak …termasuk keimanan dan komitmen diri,” tutur kang Gareng yang berekspresi galau karena celananya sedikit sobek kecantol paku.

Petruk terdiam sembari tertawa kecil melihat kang Gareng celananya sobek.”Celana sobek ibarat musibah begitupun artis dan foto model yang terseret.Porseline (Prostitusi On Line)…beli gabah sama kawat ya musibah yang dibuat…karena elemen keimannya lemah dan komitmen dirinya rapuh …

.Seharusnya seorang artis dan fotmo (foto model) sebagai publik figur memiliki landasan etika moral yang kuat sesuai tuntunan agama. Selain komitmen diri yang kokoh, sebagai panutan harus selalu mengedepankan sikap tindakan yang positip,” beber Petruk sambil mengingatkan perlunya melestarikan petuah Jowo Ojo Dumeh. Nerimo Ing pandum (menerima apa yang diperolehnya).

“Nggawa Tongkat sama batu bata …singkat cerita Truk …menjadi artis itu bekalnya mental dan komitmen diri….dan gangguan terbesar persilatan dunia ….kelihatan glamour belum tentu kenyatannya glamour..di filim -sinetron tidak bisa menjadi ukuran di dunia nyata….maka ingatlah bahaya merusak bangsa KKN…Korupsi…Prostitusi dan Narkoba,
“Ke Palur beli mentega sama babat angsa…dulur mari kita jaga martabat bangsa…,”ungkap kang Gareng sembari melirik Petruk.

“Hansip beli kelereng …sip kang Gareng …Kasus Artis Porseline …Ke Dayak beli goni dan gabus…Layak ditangani serius,” tandas Petruk sembari merogoh sakunyamembayar kopi dan kue nang Gareng.