Pemimpin Redaksi Swaranews
0878 5249 7378

 

PRESIDEN RI Joko Widodo saat menghadiri perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) Bukalapak ke-9, mengatakan jumlah usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) di Indonesia ada 56 juta. Baru ada 4 juta UMKM yang menjadi mitra Bukalapak. Meski angka 4 juta tidak sedikit, namun masih banyak peluang yang dapat digaet oleh Bukalapak. Itu disampaikan Jokowi di Jakarta Convention Center, 10/1 lalu.

Selama ini, kata Jokowi, UMKM kerap menemukan banyak problem saat ingin berkembang. Mulai dari membangun brand, membuat desain, hingga mengemas produk menjadi barang yang dapat menarik perhatian pembeli. dapat mengembangkan usahanya supaya bisa lebih besar.

Apakah UMKM yang 56 juta memiliki kemampuan mengikuti jejak UMKM yang sudah bergabung di Bukalapak atau perusahaan online sejenis lainnya. Tentu butuh pemahaman teknologi informasi untuk mengoperasikannya. Itu butuh pendampingan untuk mengarahkan UMKM atau para pedagang kecil dan menengah ini yang mayoritas masih menggunakan pemasaran konvensional.

Sejauh ini saya tahu teman-teman yang bergerak di organisasi nirlaba sudah memulai memberikan pelatihan kepada para pedagang menjalankan usahanya secara online. Minimal mereka sudah berpromosi di media sosial, seperti facebook, Instagram atau pemasaran melalui gojek atau grab.

Persaingan yang begitu tinggi di dunia usaha, tidak semua menuai keuntungan sesuai harapan. Ada yang berhasil, ada yang biasa saja, ada yang gagal. Mereka yang setengah hati menjalankan bisnis online ini akhirnya kembali ke pemasaran offline. Bisnis online dijalankan sebagai pelengkap usaha konvensionalnya.

Berita dalam minggu ini, Hero super market salah satu bisnis retail besar di Indonesia menutup 56 outlet mereka. Terjadi pemutusan hubungan kerja melibatkan 560 an pekerja. Yang punya kreativitas di bidang pemasaran, mereka bisa banting setir menjadi UMKM. Menjalankan usaha mandiri memasarkan secara online dari mana saja.

Satu per satu bisnis konvensional besar mulai rontok di belahan dunia lain, termasuk di Indonesia akibat kemajuan teknologi informasi. Usaha super market pun memulai gabungan antara usaha offline (jual secara biasa di outlet supermarket) dengan usaha online. Mereka memberikan layanan online dengan fasilitas free ongkir (alias bebas ongkos kirim). Seperti salah satu tagline perusahaan online “jangan biarkan kita semakin jauh karena ongkir”.

Kita harus menggali kreativitas dalam memasarkan usaha kita. Jangan mudah menyerah karena persaingan usaha yang semakin ketat.