Oleh: Prof. Dr. Gempur Santoso, M.Kes
Direktur LPIK Universitas PGRI Adi Buana Surabaya
Managing Director Asosiasi Pendidikan dan Sosial (APENSO) Indonesia, Penasehat Swaranews.

 

DUNIA pendidikan kita. Hampir dimana-mana. Tren, membahas revolusi industri 4.0. Tema lain yang mirip “jaman/era milenial”. Sebelumnya yang ngetrend tema “globalisasi” dan sebagainya. Bentuknya macam macam: seminar, diskusi, panel dan sejenisnya.
Semua ingin tahu. Semua tak ingin dianggap ketinggalan jaman. Dunia pendidikan kita, seperti tergopoh-gopoh. Padahal sangat beda pendidikan dan industrialisasi. Walau itu simbiosis.

Pendidikan tujuan utamanya adalah membentuk manusia menjadi cerdas intelektual, cerdas emosional (cerdas rasa), cerdas berbuat. Hal itu, sering disebut kognitif, afektif, dan psikomotorik. Kalau filsafat pendidikan Jawa: cipto, roso, karso. Atau istilah lain: daya nalar, daya kolbu, dan daya hidup. Sehingga berakhlak baik.

Industrialisasi tujuan utamanya melipatgandakan modal dengan menjual produk yang diproduksi pada industri tersebut. Agar industri efisian dan untung, maka menggunakan peralatan dan sistem temuan terbaru. Pada induatrialisasi 4.0 saat ini. Temuan terbarunya adalah peralatan dan sistem serba digital dan model artifisial inteligence.
Banyak yg mendefinisikan industrialisasi 1.0 ditandai ditemukannya mesin uap. Industrialisasi 2.0 ditandai ditemukannya energi sinar dan listrik. Indrustrialisasi 3.0 ditemukannya komputer. Industrialisasi 4.0 munculnya model digital dan artifisial inteligence.

Sebetulnya sebelum indutrialisasi 1.0 sudah ada industri menggunakan tenaga hewan dan manusia. Itu mungkin bisa disebut 0.0.

Apa kaitan pendidikan dan industrialisasi?. Pendidikan tetap membentuk manusia berakhlak mulia. Memupuk kognitif, afektif, psikomotorik manusia.
Dari segi kognitif, peserta didik harus terus memperkaya keilmuan, meneliti dan sebagainya. Menemukan sesuatu konsep baru. Meramu berbagai konsep keilmuan. Menjadi konsep baru untuk kemaslahatan hidup.

Ketika mampu menemukan sesuatu terkait kemajuan produk industri, suatu saat. Harus peduli (secara afektif) tidak merusak manusia dan alam. Berperilaku (psikomotirik) memiliki etik dan etika.

Pada industrialisasi 4.0. Muncul generasi milenial. Generalisasi paham digital gadget. Segala aplikasi dalam gadget: fb, WA, dan medsos serta aplikasi lainnya. Generasi serba ingin cepat. Ingin tidak repot. Ketergantungan terhadap gadget, “no life no gadget”. Di sisi lain, sebagai generasi merepotkan orang tua, sulit dikontrol.

Segi positif temuan industrialisasi 4.0. Misal temuan drone yang dikendalikan digital remote kontrol. Bisa dimodifikasi untuk pertanian. Menyebarkan pupuk. Menyebarkan air. Suporting pengelolaan produksi pertanian.

Misal lagi. Traktor alat pengolah tanah pertanian (singkal, garu). Digabung dengan digital remote kontrol. Sehingga traktor cukup dikendalikan dari jauh. Sambil santai. Petani tidak lagi kepanasan, dan blepotan tanah lahan tanaman (leleran).
Kegiatan ekonomi bisnis saat ini pun banyak beralih ke digital.

Pada proses belajar mengajar. Temuan gadget dan aplikasinya. Dapat sebagai alat media pembelajaran, komunikasi, dan sumber belajar.

Hanya bahayanya industrialisasi 4.0, suatu saat. Ketika artifisial digital sudah menggantikan semua fungsi manusia, robot. Semua suka robot. Robot robot pengganti manusia. Istri diganti robot, maka populasi manusia akan punah. GeSa