Oleh: Prof. Dr Gempur Santoso, M.Kes
Managing Director Asosiasi Pendidikan dan Sosial (APENSO) Indonesia.

PEMIMPIN publik saat alam demokrasi, harus terbuka (elegant). Masih calon pun harus mengumumkan harta kekayaan. Terpublish.

Walau menunjukkan harta kekayaan itu, tidak lagi dianggap pamer. Dalam alam demokrasi, memamerkan tidak dilarang. Tidak haram. Bahkan wajib pamer.

Setelah jadi pemimpin. Segala aktivitas, juga wajib terpublish. Agar tidak dianggap kerjanya duduk saja. Menikmati kenikmatan fasilitas tahta. Progress kemajuan pun harus ada, terpublish. Itu bukan pamer atau riya’ kesombongan. Tapi, alam demokrasi yg mewajibkan. Itu sebagai akuntabilitas kerja pemimpin.

Alam demokrasi. Saat pemilihan calon pemimipin. Muncullah tim sukses (timses). Mempositifkan calon yang diusung. Membentuk image positif. Bahkan membuat “serbuan” (say war) melemahkan lawan. Bahkan opini hoax (fitnah), mirip-mirip benar, dilakukan. Dalam alam demokrasi, hoax (fitnah) meluas, tak terhindarkan.

Alam demokrasi. Caci-maki pun tak terhindar. Kasihan para hewan. Menjadi simbul cacian. Ada kecebong, dianggap hewan yg cuma bisa ngomong (ngorek). Meloncat loncat. Cari makan. Nggak mikir. Tentu saja hewan kan tak punya akal, tak bisa mikir.

Ada pula, kampret, hewan saat hinggap, kepalanya di bawah, kebalik. Otaknya terbalik. Ya macam-macam hewan jadi korban simbul hinaan. Itu semua, saling caci maki, saling menghina, muncul di alam demokrasi.

Simbul kesucian. Simbul agama. Juga tak terlepas sebagai say war di alam demokrasi. Mempublish sholat. Mempublish jubah. Mempublish kalimat tauhid. Mempublish bacaan kitab suci. Bahkan bisa disebut “menjual ayat” ataupun menjual “agama”.

Dalam alam demokrasi muncul, agama dianggap bukan way of life. Tapi alat untuk kemenangan tahta. Meraih tahta. Banyak yang mengenal agama, semakin banyak tak mengenal Tuhan-nya.

Anak-anak. Peserta didik kita. Diajari untuk tidak melakukan pamer. Tidak melakukan riya’. Tidak melakukan fitnah. Tidak saling mencaci maki. Kalau dilakukan, dosa, semua itu perbuatan dibenci Tuhan.

Justru pendidikan di masyarakat semua terbalik. Terbalik dari pelajaran agama yang diajarkan. Pastilah peserta didik kita ada yang bingung. Anak yang bingung itulah yang berfikir. Akan mencari kebenaran, mana yang benar. Bukan berarti makin bingung makin berfikir. Mungkin anak didik kita makin “pusing”.

Demokrasi, tak terhindar. Efek negatif demokrasi juga tak terhindar. Mengapa konsep demokrasi seperti saat ini (pilsung) masih digunakan? Dengan bangga.

Padahal, berdemokrasi ingin menemukan pemimpin yang baik, berakhlak mulia, mampu mimpin, dan berpolitik untuk kesejahteraan melindungi rakyatnya secara berkeadilan sosial. Kita menyia-nyiakan demokrasi Pancasila.

Mari, tetap ingat dan waspada. Pepatah Jawa “sak bejo bejone wong lali, isih bejo wong sing eling lan waspodo” (seberuntungnya manusia lupa, masih beruntung manusia yang selalu ingat “kebenaran Tuhan” dan waspada). (GeSa)