SURABAYA (Swaranews) -Menjelang perayaan Imlek, masyarakat Tionghoa mengenang sosok almarhum KH. Abdurrahman Wahid yang akrab disapa Gus Dur mantan presiden keempat Republik Indonesia.

Meskipun beliau telah wafat namun kenangan indah selalu dikenang oleh masyarakat Tionghoa di Indonesia. “Berkat jasa kebaikan beliau yang menjunjung tinggi pluralisme dan humanisme terhadap kaum minoritas Tionghoa. Meskipun seorang kyai namun beliau menghargai kemanusiaan tanpa membedakan sekat suku, agama maupun ras sehingga pantas disebut Bapak Pluralisme Indonesia,” ujar WS Bingky Irawan, Ketua Umum MATAKIN Pusat.

Sebagai rohaniawan Konghucu, Bingky kerap mengalami hal diskriminasi saat orde baru. Diantaranya pembatasan terhadap tata peribadatan hingga mengurus KTP, Akte yang dipersulit. Menjadi traumatis yang sulit dilupakan warga Tionghoa hingga saat ini. Di era Gus Dur, Konghucu disahkan menjadi agama secara nasional sehingga mempermudah umat Konghucu dalam beribadah maupun mengurus akte lahir, KTP dan sebagainya.
Kedekatan Bingky dengan mendiang Gus Dur saat keduanya aktif dalam tokoh lintas agama, saat itu Gus Dur aktif di ponpes Tebu Ireng Jombang, sedangkan Bingky menjadi rohaniawan Konghucu yang sering berkunjung bahkan menginap di ponpes Jombang tersebut.

“Suatu ketika saat pertama kali datang ke ponpes Tebu Ireng saya disambut dengan sangat ramah oleh para santri Gus Dur dan mereka sangat menghormati perbedaan. Seminggu sebelum meninggal, Gus Dur tiba-tiba menelpon Bingky agar datang ke Tebu Ireng dan setelah datang di Tebu Ireng Bingky kaget karena Gus Dur berpamitan akan pergi jauh dan memohon maaf apabila ada kesalahan dirinya. Ternyata menjelang tutup tahun Gus Dur pergi meninggalkan kita semua. Inilah teladan Gus Dur dimata masyarakat Tionghoa,” kenangnya.

Kini memasuki sincia (tahun baru Imlek, red) ke sembilan tahun tanpa kehadiran Gus Dur. Selamat jalan Gus! Sun