Oleh: Kris Mariyono
Director Jurnalism
Asosiasi Pendidikan dan Sosial (APENSO) Indonesia.

KANG Gareng tertunduk lesu ketika mendengar keponakannya tercinta yang semata wayang putranya Petruk menganiaya gurunya di sekolah.

Kang Gareng secara samar melihat seorang siswa dengan bangganya melecehkan gurunya dan disebarluaskan melalui media secara vital..bukan yang betul Viral. “Lha iya, Truk cerita dan realitasnya kok berbeda…bedak campur arang ..tidak jarang menceritakan bahwa anaknya yang duduk di bangku Taman Pendidikan Menengah di sekarang SMP sikapnya adap asor sopan santun dan.menghargai orang tua,” tutur kang Gareng kepada cak No selaku CEO Warno (Warung Cak No) yang sibuk meracik kopi Lunget (Luwak Anget).

Ketika kang Gareng sedang menikmati Roti Bantal Mini (RBM) dikejutkan kehadiran Petruk yang penuh ekpresi kegembiraanya. “Hallo Kang apa kabar, kripik ditaruh meja …baik-baik saja, ” ujar Petruk penuh semangat.. “Baik…..”Jawab Kang Gareng singkat sembari sinis tanpa melihat wajah Petruk.

“Hawane Panas kok Mendung ….lho Kang Gareng… Sambutanmu .. mangkok beli di Kalianak …kok Gak Enak …ada masalah apa…,” ujar Petruk sembari memandang wajah kang Gareng”.

“Ngak ada masalah ..apa-apa …bro Truk,” kata Gareng bernada tinggi. Petruk merasa bingung melihat suasana tidak seperti biasanya ada kesan beku seperti es batu yang belum cair.

“Hai. Kang Gareng jujur saja…ada ganjalan apa. Jangan ada dusta diantara kita …. Jujurlah padaku …,” ujar Petruk bernada canda sekaligus untuk memecah kebekuan. “Jujur Truk …pret..pret… hidup ini memang penuh panggung sandiwara…cocok iwak endok memang lagumu benar untuk ..pret,” jelas kang Gareng yang bicaranya mulai mencair.

Petruk mulai dapat menangkap kesinisan kang Gareng kepadanya.
“Yo kang Gareng …saya bisa memahami apa yang terjadi ..kejujuran…pret …apa memang saya selama ini bersikap penuh topeng begitu..kalau berani beberkan …,” tantang Petruk penuh percaya diri. “Yo Truk, Pramuka bersahaja… terbuka saja…bagaimana sebenarnya caramu mendidik anak ..pakai pola apa yang kamu terapkan ..sampai anakmu semata wayang ..ya keponakanku tersayang sampai seperti insan yang kehilangan akal sehatnya..padahal.anakmu itu manusia bukan satwa,”jelas Kang Gareng sembari matanya berbinar-binar. “Ke Gresik… ketemu Dewi Persik …sik…sik… ya persoalan apa.. Kok sampai menyangkut anakku kang Gareng,” tandas Petruk.

“Ya anakmu bukan persoalan rahasia lagi …anakmu sudah membuat heboh mayapada alias dunia ..jelasnya anakmu yang kamu banggakan sudah mencemarkan keluarga besar romo Semar ..memang nasi sudah menjadi bubur…Truk,” beber kang Gareng dengan berapi-api.

“Nasi sudah jadi bubur ya diibuat Bubur ayam Amarta yang kini terkenal dengan bubur Ayam Jakarta ….hahaha..lha warta anakku menghebohkan dunia maya ..ya menghebohkan apa kang ..wong anakku ..wong mendem makan bayem…adem ayem, “ucap Petruk penuh ekpresi.

“Wong sudah jelas menghebohkan .. kok ya masih mangkir ….Petruk..Petruk… ponakanku itu …melecehkan gurunya dikelas …berani menganiaya .. bahkan memegang kepala Gurunya yang gajinya 450 Ribu Rupiah….terus sanksi ..apa bagimu anakmu yang kurang ajar itu, Truk,” urai Gareng sembari tangannya memegang kepala.

“Wuallah …wuallah …tidak mungkin anakku semata wayang berbuat sekurang ajar itu kang …kalau memang buktinya mana dan peristiwanya terjadi di mana,”jelas Petruk, sembari memandang tajam wajah kang Gareng.

Kang Gareng dengan penuh keyakinan memberikan bukti keterlibatan anak Petruk berbuat kekerasan di sekolah. “Bukti sudah jelas Truk..masyarakat sudah melihat secara viral…peristiwanya terjadi di Kadipaten Wiringanom ..opo kurang jelass ..,” ujar Gareng bernada tinggi.

“Okey ..memang bukti ada ..jelas tapi ya tidak jelas ..pasalnya itu belum tentu anak saya kang …,” tutur Petruk dengan tenang.

“Lha sudah jelas kok kamu masih tidak percaya Truk..,” kilah kang Gareng sembari tersenyum.

“Terus terang itu bukan anak saya ..anak saya sekolah di Karang Kadampel dan yang di viral sekolahnya dimana Kang,” kata Petruk bernada tanya.

“Anak yang berani melawan guru..sekolah di Wiringanom…dan anakmu di Karang Kadampel..berarti bukan anakmu Truk…,” ujar kang Gareng bernada sendu. “Yo Tukang las dadakan….ya jelas bukan Kang….Petruk itu tetap komitmen dalam mendidik percuma anak pinter tidak memiliki budi pekerti luhur..etika. . estetika…setrika itu hahaha,” tegas Petruk sembari tersenyum.

“Etika ..estetika…setuju tapi kalau ..Setrika..nanti dulu ..yang penting … ponakannku ..tetap terjaga dari perbuatan tercela..semoga menjadi calon penerus pemimpin yang cerdas dan berkarakter …ke Krian lewat Telasih naik truk…sekian trima kasih Petruk…maaf yo truk..,” kata kang Gareng sedikit menyesal atas sikapnya yang gegabah.

“Yo kang..makanya .. jangan banyak makan pisang mentah… hahahaha..agar lebih jitu kalau mengkaji sesuatu.. Berpikirlah sebelum bicara kang…ya sekali saya maafkan meski belum lebaran,” pungkas Petruk sembari membetulkan kuncirnya. (Km)