Oleh: Prof. Dr. Gempur Santoso, M.Kes
Managing Director Asosiasi Pendidikan dan Sosial (APENSO) Indonesia

SEMUA manusia atau anak atau peserta didik punya watak. Berbagai jenis manusia ada pada watak masing masing. Guru harus bisa mendidik dan mengajar pada semua anak dari berbagai watak. Kuncinya memberikan kasih sayang secara sabar. Guru marah hanyalah metode, hati tetap sabar.

Sebagai guru sekolah swasta (partikelir). Apalagi murid diterima sekolah tanpa seleksi. Tentu, selain berbagai watak dan latar belakang keluarga. Berbagai latar belakang sosial ekonomi keluarga. Berbagai latar belakang potensi kecerdasan anak didik. Itu hebatnya sekolah swasta, mau mendidik semua anak usia sekolah.

Tentu, lain hal pada anak sekolah menengah negeri. Sekolah negeri hanya mau menerima anak anak yang cerdas saja. Diseleksi, ditest dulu.

Pada manusia, paling tidak ada empat jenis watak. Pertama, plegmatis. Ini murid yang suka damai. Tak banyak bicara. Penyabar. Suka menghidari konflik. Sedikit penakut.

Kedua, anak berwatak melankolis. Watak ini, suka rapi, suka sempurna (perfeksionis). Kreatif, analisis tajam. Hanya, saat ada masalah suka berfikir negatif (negitive thinking).

Ketiga, watak anak suka populer (sanguinis). Watak yang suka cari perhatian. Antusias menjadi orang berpengaruh. Suka bicara, suka diteploki. Gampang terpengaruh (jawa: gunggungan). Saya meduga siswa SMP swasta di Gresik. Kasus merokok di depan umum dalam kelas. Berani terhadap guru. Dugaan saya, dia anak berwatak sanguitis. Bapak guru menghadapi dengan sabar penuh kasih sayang. Itu tindakan tepat. Bisa mengambil hati siswanya.

Ke-empat, watak kuat (koleris). Anak didik watak ini, suka mengatur, cepat ambil keputusan. Suka memimpin dari pada dipimpin. Watak yang selalu ingin lebih baik dari pada hari sebelumnya. Memang watak ini kurang sabaran. Ingin cepat.
Itulah berbagai watak anak didik kita. Guru harus bisa menaklukkan (mengambil hati) murid. Guru harus jadi “pawang” murid muridnya. Sehingga para murid mau, bahkan senang gembira diajari/dididik.

Guru memberikan sesuatu bermakna bekal hidup siswa. Berguna sebagai dasar hidup siswa. Semua mata pelajaran adalah sebagai bekal hidup siswa. Suatu kebenaran. Kalau ilmu dari guru sangat dirasa murid sebagai yang berguna. Tentu, murid akan segan (hormat) pada guru.

Jika kita menjadi berguna, bisa memberikan hidup orang lain. Bisa memberikan bekal hidup pada orang lain. Tentu kita akan semakin hidup, disegani. Menjadi berwibawa terhadap sesama manusia lain ataupun murid kita.

Sebaliknya, jika kita suka merepotkan orang lain. “Memeras” orang lain atau murid kita. Tentu, orang lain atau murid akan menghina kita. Secara langsung atau tidak langsung.

Guru tugasmu mulia. Guru akan mulia, jika bisa merubah murid dari tidak baik menjadi baik. Dari gelap menjadi terang. Guru mulia, memberi bekal ilmu untuk kehidupan dan hidup murid. (GeSa)