Negara sama dengan tubuh manusia. Cara beroperasi negara sama dengan cara tubuh manusia beroperasi. Karena itu, dikenal istilah
Body Politics. Negara ibarat tubuh manusia. Ada nutrisi yang masuk ke dalam tubuh melalui makanan dan minuman yang kemudian menjadi energi dan tenaga.

Tubuh manusia bisa sehat dan tidak sehat. Kadang kita sakit dan menjadi serius kalau tidak cepat mendapatkan intervensi medis. Kalau kemudian kita ke dokter dan laboratorium lalu hasilnya buruk ya kita harus terima.

Jangan kemudian ketika kolesterol tinggi lalu tidak terima dan minta dokter mengubah data. Kalau tekanan darah kita terlalu tinggi kita minta hasil lab diubah. Kalau detak jantung kita lemah kita minta hasilnya diubah.

Apa begitu? Tidak bisa. Kita harus percaya bahwa para dokter memang ahli. Hasil lab memang akurat. Tapi, kadang-kadang dukun bisa juga lebih efektif….Nah jangan diplintir omongan saya. Nanti saya diadu domba sama dokter dibilang Prabowo sarankan orang pergi ke dukun. Maksud saya kadang-kadang orang percaya ke dukun seperti dukun tulang.

(Tiba-tiba satu di antara dua mike ngadat, Prabowo minta diperbaiki. Cukup satu mike atau dua? Prabowo bertanya kepada hadirin. Hadirin menjawab dua..dua..sambil mengacungkan dua jari).

Sudah berpuluh tahun kekayaan nasional kita mengalir keluar. Ini bisa diukur matematis. Pemerintah sekarang mengakui bahwa uang kita lebih banyak yang di luar daripada di dalam.
Pemerintah mengakui ada belasan triliun uang kita di luar negeri. Menkeu menyebut ada 11 triliun. Kalau saya menyebut begini jangan marah.

Kalau badan tiap hari kehilangan darah 10 cc setiap hari beberapa bulan kita akan mati. Kalau uang bocor terus keluar negeri negara kita akan bahaya.
Tidak akan bisa kita menghidupi 260 juta mulut penduduk kita dan jutaan lagi yang lahir tiap tahun.

Untuk menjadi bangsa yang unggul, untuk menjadi bangsa yang maju kita harus bisa memenuhi kebutuhan kita sendiri. Swasembada. Paling utama adalah swasembada pangan.

Saya tentara serdadu tapi mengerti arti penting ekonomi. Saya pelajari semua sejarah perang karena merebut sumber daya pangan, energi, dan lahan air.
PBB meramal sebentar lagi dunia krisis air dan perang nanti berebut air. Karena air sumber kehidupan tidak mungkin ada pangan tanpa air.

Dari yang kita pelajari dalam sejarah, negara berhasil karena swasembada pangan untuk rakyat sendiri. Negara yang merdeka tidak boleh ada rakyatnya kelaparan, tidak boleh ada anaknya kurang gizi.

Kedua harus swasembada energi untuk bisa memenuhi kebutuhan kita sendiri. Apa bisa kita memenuhinya, tentu bisa. Kita tidak hanya mengandalkan sumber energi alam kita harus beralih ke sumber energi terbarukan.

Kemudian, negara yang kuat dan maju harus kuat lembaga-lembaganya.
Kita harus punya lembaga-lembaga yang kuat yang mandiri dan profesional yang unggul. Birokrasi harus tangguh dan unggul tidak bisa disogok oleh siapapun. Eksekutif dan judikatif harus kuat dan sejahtera, sehingga tidak bisa disogok.
Tapi, kalau sudah sejahtera masih juga mau disogok, masih mau korupsi, enaknya diapakan…jangan..jangan bicara tembak mati. Ini banyak kamera menyorot saya…

Perumusan kesejahteraan ini harus konsepsional. Gaji harus dinaikkan dan kesejahteraan dijamin. Kalau sudah gaji tinggi dan sejahteran masih korupsi mau diapakan…saya harus hati-hati ngomong karena banyak kamera…

Kalau sudah sejahtera apa masih akan ada yang rusuh dan radikal? Tidak ada. Masyarakat kita damai dan rukun tidak suka ribut. Di Prancis ada disparitas gini ratio 1 persen menguasai 20 persen kekayaan. Tolong diverifikasi saya harus selalu disklaimer karena selalu ada yang menunggu saya kepeleset.

Amerika GINI ratio 1 dibanding 32 persen. Mana pakar saya yang botak? Ihsanudin Nursy berdiri. Nah ini pakar saya yang botak-botak. Mana pak Rahmat Pambudy, lepas dong pecinya…

Nah saya harus serius karena ini pidato kebangsaan tidak boleh banyak canda. Tidak boleh joget-joget…

Saya tahu situasi kita sulit. Saya diskusi dengan pakar-pakar yang botak sampai saya nyaris botak juga. Saya selalu diberi kursus sampai kadang klenger. Utang-utang kita besar, tapi kalau pemerintahan kita bersih dan tidak ada korupsi kita bisa mengatasi problem negara.

Yang tidak kalah penting adalah pertahanan yang kuat. Kita tidak akan mengancam negara manapun tapi kita tidak mau dijajah. Kita cinta damai tapi kita lebih cinta kemerdekaan. Kita tidak mau dijajah kembali.

Kita berprinsip seribu kawan terlalu sedikit dan satu lawan terlalu banyak. Ingat kita tidak akan pernah dikasihani negara lain. Kalau kita kena bencana kita akan dibantu makanan, pakaian, atau selimut. Tapi jangan berharap dikasihani kalau kita sedang sulit.

Saya bukan pesimistis, saya justru sangat optimistis karena saya yakin putra-putri terbaik Indonesia mampu menyelesaikan permasalahan kita. Saya tidak membedakan asal usul partai atau agama.

Setap kali saya datang kepada kiai atau pemimpin agama saya tidak pernah minta dukungan saya hanya mohon doa restu. Kenapa, mereka guru tidak bisa digurui mereka memikirkan apa yang terbaik untuk muridnya. Kalau kami mendapatkan mandat kami akan melaksanakan dengan penuh amanah dan tanggung jawab.

Problem kita sangat berat. Emak-emak jangan berharap hari ini saya dilantik kemudian besok harga-harga turun. Tapi saya bersumpah akan turun harga secepat-cepatnya.

Ojo dumeh ojo adigang adigung ojo ngoyo..tapi ojo wedi. Jangan takut. Saya tidak pernah takut. Siapa yang berani dialah yang menang. Dengan keberanian dan keyakinan kita yakin Indonesia akan Menang.

Saya terinspirasi Bung Tomo ketika diancam asing dia jawab lebih baik hancur daripada menyerah. Allahu Akbar…Allahu Akbar..
Merdeka! (*)

(Laporan: Dhimam Abror, dari Semarang, 15 Februari 2019)