Oleh: Kris Mariyono
Director Jurnalist APENSO INDONESIA

KANG Gareng kaget terperanjat secara serius bukan basa-basi untuk sekadar pencitraan diri ketika mendengar Woro-Woro Radio Bergambar Chanel Karangkedempel. Berita tentang terbunuhnya warga Karangkedempel di negeri Sabrang Jiran Sentono secara tidak wajar dan memprihatinkan.

“Wualah..wualah…Dicegat wong dodol nanas…. Jagad kok tambah panas … persoalan Pinjol (Pinjaman On Line) lagi marak …ditambah lagi masalah ..Muntiani …ee mutilasi yang sangat biadab,” keluh Kang Gareng sembari kongkow di Warmis (Warunge Cak Mis) .

“Kang Gareng minumnya ..Mbok nom (Sinom) apa teh angak,” suara stereo Cak Mis sembari memandang kang Gareng. “Mbok Enom saja,”jawab kang Gareng penuh semangat.

“Yo Kang Gareng …kapur barus digondol tikus…….terusno…terusno kalau ingin dibungkus..mmm..gara-gara mbok Enom (Istri muda),” kilah Petruk yang tiba-tiba duduk didekat Kang Gareng.

.”Nang toko pojok tuku kelapa…ojok salah tanpa…ini mbok Enom..paling segar dan joss,” ujar Kang Gareng sembari menggoda Petruk.

“Jelas..jelas ini harus dilaporkan Nyonya besar Gareng…biar terjadi ekstra Brantayuda asalkan tidak saling membunuh ,” tandas Petruk sembari memandang tajam setajam gendewa kepada Kang Gareng.

“Kang Gareng, bicara persoalan membunuh sekarang ini sangat memprihatinkan antar insan bisa saling tega membunuh,” ungkap Kang Gareng penuh haru. Kang Gareng termenung mendengar cerita persoalan menghilangkan nyawa manusia. “Wuallah Nang Argasonya makan juwet …Ndonya iki kok tambah Ruwet..perkara hutang dan tersinggung harga diri saja kok tega-teganya menghabisi sesama saudara,” tutur Kang Gareng penuh ekpresi.

“Ya kang, manusia hidup diberi insting saling mengasihi, tidak saling menghilangkan.. perkara kecil yang seharusnya dibicarakan yang enak sama minum kopi gitu,” ujar Petruk sembari menambahkan sebagai manusia itu jangan terpengaruh hawa nafsu yang menyesatkan.

“Ya Truk, pendapatmu benul..e betul..tapi rambut sama hitam tapi pemikirannya berbeda ..apa tidak prihatin rambut sama hitam tapi tega memotong-motong saudaranya menjadi dua puluh satu bungkus ..atau membunuh pacarnya kemudian dikubur dalam rumah …dan jenisnya masih banyak lagi ..kalau begitu dimana letak perikemanusian, truk..boleh dikata perikemanusian sudah hilang berganti perkewanan,” jelas Kang Gareng sembari mengusap matanya karena dihampiri satwa Sambermata.

“Oallah satwa Sambermata kepingin kenalan…tapi ya mataku pedas Truk,” tambah kang Gareng sedikit kesal. Petruk melihat mata Kang Gareng yang kena satwa kecil Sambermata selain kasihan juga menahan ketawa.

“Hidup ini harus selalu bersyukur dan ingat untuk apa kita hidup dan jangan lupa harus banyak diisi berbuat kebajikan…ingat menanam itu…menuai .. menanam kebaikan juga akan memanen kebajikan .. menanam jagung juga akan memanen jagung ….jadilah orang yang sabar dan mampu mengendalikan diri…karena penyesalan datangnya belakangan ya, Kang,” beber Petruk penuh filosofi.

“Ya, Truk ..klemben buatan Yu Paenah…Tumben kok nggenah omonganmu… memang manusia yang berbudi luhur itu harus mampu mengelola amarah menurut pandita linuwih Gempur Prakoso kembarnya Guru Agung Gempur Santosa agar tidak menjadi mata gelap,” tutur Kang Gareng yang dilengkapi referensi. “Ke Gresik lewat Surabaya …sik Ya ..

“Kang Gareng ….mata gelap sama gelap mata apa bedanya..menurutku kok sama,” kilah Petruk serius.

“Truk ya jelas beda …kata-kata mata-dan gelap nya sama ..tapi maknanya tidak sama …mata gelap ..bukan matanya yang gelap tapi juga hatinya maka berani berbuat keji seperti membunuh… bukan hanya hewan tapi juga sesamanya… Mata gelap adalah mata yang tertutup kain atau kaca mata hitam dan lebih gelap lagi kacamata kuda,hahaha,” ungkap Kang Gareng sembari berpesan jangan suka makan otak Sapi.

“Kenapa Kang,” sahut Petruk. “Enak, Truk …empuk,” kata Gareng sambil berpamitan. Ke Krian lewat Telasih ..terima kasih. “Jangan lupa bersyukur …,” pesan Petruk singkat. (Km)