Oleh: Prof Dr. Gempur Santoso, M.Kes

Direktur LPIK Universitas PGRI Adi Buana Surabaya
Managung Director Asosiasi Pendidikan dan Sosial (APENSO) Indonesia
Penasehat Swaranews

SETIAP semester saya ke Malang. Ke kampus Universitas Negeri Malang. Menemui seorang asesor laporan beban kerja dosen (BKD). Asesor itu adalah bapak Marji, seorang guru besar dibidang Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) otomotif. Asesor BKD memang harus dari seprofesi keilmuan. Bidang keilmuan saya adalah K3 Ergonomi.

Pagi sebelum pukul 9.00 saya sudah di kantor Dekan Fakultas Teknik UM. Pak Marji sudah menunggu. Perjalanan saya memang agak cepat. Lewat tol, turun pintu tol Pandaan. Jalur tol Pandaan Malang masih ditutup. Masih dalam perbaikan. Dulu saat lebaran, tol itu pernah dibuka. Ternyata tahap uji coba saja. Juga, menfasilitasi orang mudik lebaran.

Laporan BKD saya telah dibaca dan ditandatangani asesor. Oleh pak Marji, saya ditahan dulu, diajak ngobrol. Tak lama, teman saya H. Silocin hadir. Dia juga dosen di FT UM. Kami bertiga ngobrol.

Prof. Marji dan H. Solichin adalah teman sekelas saya saat kuliah S2. Sama sama jurusan Hygiene Perusahaan dan Kesehatan Kerja (hyperkes) di IKM Unair. Seangkatan 1997. Saking asyik ngobrol. Tempat ngobrol pindah dari ruang dekan ke kantin kampus.

Ya bisa ngobrol di ruang dekan. Karena, Prof Marji sebagai dekan FT. Sebelumnya dia sebagai Pembantu Dekan bidang kemahasiswaan. Sebelumnya lagi dia sebagai Ketua jurusan teknik mesin otomotif. Begitu pula H. Solichin pernah pula menjadi salah satu Wakil Dekan Teknik. H. Solichin usianya lebih tua dari kami berdua. Usianya sudah 63 tahun. 2 tahun lagi, H. Solicin akan pensiun. Kami berdua masih lama pensiun dari dosen. Saya dan pak Marji, usia menjelang/hampir 60 tahun.

Saat kami bertiga kuliah, sama sama kuliah dulu memang akrab. Saling membantu. Sampai sekarang. Kehadiran saya ini, mereka berdua, masing masing saya beri sebuah buku karya saya tentang ergonomi. Terbitan terbaru tahun 2019.

UM memang tergolong hebat. Akreditasi UM peringkat A versi pendidikan tinggi (dikti), peringkat teratas. Di FT UM semua jurusan dan program studi juga terakreditasi A.

Jumlah mahasiswa FT UM sekitar 5 ribu orang mahasiswa. Kini, dipersiapkan menuju akreditasi internasional. Bahkan FT akan menerima mahasiswa luar negeri beasiswa. Salah satu syarat, mahasiswa dari luar negeri harus bisa berbahasa Indonesia. Itulah jiwa nasionalis dekan FT yang kuat.

Sebelumnya FT UM memiliki kelas kerjama dengan Indomobil, sampai sekarang. Lulusannya diutamakan sebagai calon SDM engineering otomotif Indomobil. Bisa juga kerja di luar Indomobil, tidak mengikat.

Pendirian itu, awal dulu. Saya pernah membantu. Memperkenalkan pak Marji dengan teman saya Dita Maharohman. Teman kuliah saya, S1. Dia selaku manajer engineering UMC di JL. A Yani Surabaya. UMC termasuk jaringan Indomobil grup. Dari situ, kenal mengenal sampai ke Indomobil pusat, asembling Indomobil di Tambun Bekasi. Akhirnya Indomobil kerjasama dengan FT UM. Mendapat bantuan sarana dan sarana labroratorium otomotif dari Indomobil.

Kini, jurusan otomotif FT UM Malang mengembangkan mobil listrik. Masih terus berproses penelitiannya. Rencana, hasil temuan mobil listrik teknologi digital terbarunya akan digelar di Jl. Ijen Malang. Direncanakan bekerjasama dengan Pemerintah Kota Malang. Semoga berhasil untuk kemajuan teknologi otomotif Indonesia. Juga, untuk Indonesia. (GeSa)