Banyak kawan dan relasi menanyakan alasan saya untuk capres 2019 ini memilih Prabowo Subianto ketimbang Joko Widodo. Sekilas pertanyaan ini memuat banyak keingin tahuan dengan satu kondisi yaitu kebimbangan yang besar akan arah kedepan bangsa ini. Setelah melihat dan merasakan keadaan empat tahun lebih pemerintahan ini dan adanya perkembangan politik pilpres antara pasangan Jokowi – Maruf Amin dan Prabowo – Sandiaga Uno, telah menjadi semacam keterbukaan peluang yang besar bagi paslon penantang petahana untuk memimpin lima tahun kedepan.

Kebutuhan kepemimpinan lima tahun kedepan selain membutuhkan figur yang memiliki integritas yang kuat kepada bangsa dan negaranya, kecakapan wawasan yang luas, memahami arti adil dan makmur bagi rakyatnya, juga tak kalah pentingnya adalah kesiapan mempersiapkan regenerasi estafet suksesi yang kuat dan berkelanjutan serta kecerdasan menghadapi era masa depan dunia bersama-sama bangsa
lain. Pemilihan Jokowi kepada kyai Maruf Amin tentu sangat tidak mencerminkan kebutuhan akan suksesi regenerasi berkelanjutan itu. Sedangkan pilihan Prabowo kepada Sandiaga Uno jelas mencerminkan harapan itu.

Bila itu dijawab tunggu lima tahun lagi, maka sudah akan sangat terlambat. Ungkapan mengatakan, buah yang matang dipohon akan lebih ranum dan manis daripada dieram jerami. Ini tepat bagi Sandi Uno bila menjadi wapres. Belum lagi evaluasi terhadap model kepemimpinan selama empat tahun lebih ini menunjukan banyak celah-celah yang berpotensi tumbuhnya disharmoni bangsa. Slogan saya Pancasila, saya NKRI bukan membumi dihati rakyat banyak, malah berakhir menjadi semacam komoditas sekelompok elite penguasa yang tidak laku dijual.

Disharmoni lainnya semakin terindikasi dari banyaknya perbedaan pernyataan-pernyataan anggota kabinet Jokowi terhadap kebijakan-kebijakan konsumsi publik. Disisi lain generalisasi umat Islam yang beraspirasi menentang penistaan agama sebagai garis keras tidak mampu diajak berdialog dalam kesejukan koridor Pancasila, tetapi justru dipandang sebagai sebuah ancaman. Negara dengan multi etnis, agama, budaya dan kepercayaan ini tidak mungkin dapat dibangun hanya dari satu sisi kepentingan saja, memakmurkan rakyat harus dari sisi apa yang hadir dalam kehidupannya dan bukan dari kehendak penguasa semata.

Potensi disharmoni juga berjejak di masa kampanye Pilpres, tercatat hal yang penting adalah suara yang bergaung diantara para mantan Jenderal. Suatu hal yang tidak lazim setelah melalu tiga kali pilpres secara langsung. Penyerangan pribadi lawan berkumandang luas didunia medsos. Ini pertanda lunturnya kedewasaan wawasan demokrasi sehat apalagi dalam konteks sebagai pengawal dan cermin demokrasi Pancasila yang sehat, bermoral etika dan bermartabat.

Penguasa adalah pemimpin, dan pemimpin dimanapun di dunia ini adalah panutan dari rakyat banyak. Ketidakmampuan pemimpin menghadirkan sifat-sifat dasar filosofi bangsanya adalah sebuah kegagalan jati diri yang tidak boleh dialihkan menjadi perlawanan dengan berbagai intrik-intrik pembungkaman dan pembalasan secara negatif kepada pihak-pihak yang berbeda pilihan dan pemikiran. Pemimpin yang takluk dengan kehendak mempertahankan kekuasaan dengan segala cara adalah suatu kekalahan dimuka sebelum pertarungan yang sesungguhnya itu berlangsung. Adalah hal penting bahwa kepemimpinan yang benar dan kuat akan diikuti dengan sendirinya diberbagai bidang kehidupan lain baik ekonomi, sosial dan budaya.

Dengan dasar pandangan diatas, maka memilih Prabowo adalah satu-satunya peluang bagi bangsa ini melepaskan diri dari kesulitan masa depan kepemimpinan bangsa, adapun segala cerita-cerita yang mewarnai pribadi Prabowo hanya seperti kisah khayalan yang selalu dipakai lawan-lawannya yang terkadang tidak jelas entah apa yang dibencinya, atau barangkali memang ada suatu rahasia tersembunyi yang sungguh ditakuti sang lawan?

Teringat Prabowo pernah jadi Cawapres Megawati saat pilpres 2009 dan tidak ada itu fitnah-fitnah berseliwiran dimedsos, jadi apa bedanya Prabowo saat itu dan sekarang. Tak ada. Yang ada sekarang semacam ketakutan pihak-pihak dibelakang Jokowi melebihi Jokowi sendiri apabila Prabowo diberi mandat rakyat banyak untuk mengambil kemenangan demokrasi pada saatnya, tujuh belas april dua ribu sembilan belas. Mungkin akan ada banyak misteri aneh dibalik citra-citra pembangunan selama ini. Sejarah akan mencatatnya.

##Adian Radiatus.