Oleh: Prof. Dr. Gempur Santoso, M.Kes

SAAT Pandawa dan Kunthi ibunya. diberi istana dan tanah oleh Sengkuni. Dianggap sbg pembagian warisan. Ternyata itu rumah terbuat dari bahan mudah terbakar.

Saat pandawa dan ibunya, boyong. Semua sudah masuk istana megah. Pandawa tak tahu kalau istana itu terbuat dari bahan mudah terbakar.

Dibakarlah istana itu. Oleh kaki tangan sengkuni. Secara cepat istana luluh lantak. Menjadi bumi hangus.

Siaran pers…istana terbakar karena sebab paling gampang, mungkin karena listrik konslet.

Sengkuni dan teman-temannya. Grobolan para serakah. Bergembira. Berpestapora. Dikemas slameten orang wafat. Mengganggap menang, dikemas belasungkawa.

Dianggap semua anggota pandawa dan ibunya sudah ikut terbakar hangus dalam istana itu.

Ternyata…saat iatana terbakar. Pandawa dapat wisik. Ngrowoki (gangsir) tanah. Anggota pandawa dan ibunya masuk dalam tanah. Tanah terus di keruk, seperti trowongan kecil. Untuk lewat. Sampai ke hutan gung lewang lewung. Hutan yg belum pernah diambah manusia.

Dalam hutan. Masing-masing anggota pandawa 5 orang. Didatangi para dewa. Belajar ke para dewa. Pandawa makin sakti madraguna.

Tak diduga. Hadirnya para dewa. Gembleng  pendawa. Sebagai persiapan perang baratayuda. Merebut haknya yakni negara kesatuan Ngastina milik leluluhur pandawa.

Saat itu negara Ngastina “dikuasai” sengkuni. Demi adiknya dijadikan ratu Ngastina.

Politik bumi hangus sengkuni memang canggih dan tak kentara. Tetapi, atas berkat rahmad Tuhan Yang Maha Esa. Perang baratayuda dimenangkan Pandawa sang ksatria.

Bagaimana dengan perebutan istana/pemilihan pemimpin. Apa ada yg menggunakan politik bumi hangus Sengkuni?

Dunia wayang membuktikan, politik praktis “bumi hangus”. Tampak seolah menang, tapi menuju kekalahan.

Tuhan beserta manusia mengalah. Tidak pernah kalah. (GeSa)