SURABAYA (Swaranews) – Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa akan membentuk tim reaksi cepat atau quick response yang bertugas melayani pertanyaan dari masyarakat terkait pelaksanaan Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) SMA/SMK Tahun 2019 pada Mei 2019 mendatang. Hal itu disampaikan Khofifah saat memimpin rapat terbatas (ratas) terkait Pendidikan di Gedung Negara Grahadi, Jumat (5/4/2019) sore.

“Tim ini akan memberikan quick response kepada masyarakat, khususnya orang tua yang sedang mencari sekolah terbaik untuk anaknya yang ingin masuk ke SMA/SMK,” katanya.

Mantan Menteri Sosial tersebut mengatakan, tim quick response dibutuhkan karena masyarakat membutuhkan pelayanan informasi dan konsultasi secara tepat dan cepat terkait PPDB, khususnya terkait informasi zonasi, baik yang berada didalam maupun diluar zona, kemudian yang berada didalam maupun diluar kota.

Ia juga menambahkan, bahwa tim quick response tersebut kedepan juga bertugas untuk melayani informasi terkait program Sumbangan Pembinaan Pendidikan (SPP) gratis, maupun informasi tentang Guru Tidak Tetap (GTT), dan Pegawai Tidak Tetap (PTT).

Selanjutnya, agar informasi tersebut valid, Khofifah juga meminta disiapkan press release resmi. Berikutnya, disiapkan rilis terkait SPP gratis dan GTT PTT agar referensinya jelas, dan tidak terjadi perselisihan atau dispute.

Dalam kesempatan ini, gubernur mengajak para stakeholder, yakni pemerintah, dunia usaha, dan dunia industri untuk bersama-sama memperkuat program pendidikan dual system SMK. Diantaranya adalah memperbarui MoU, kurikulum, dan kerjasama magang.

“Kerjasama ini bisa diperluas, misalnya menyiapkan anak-anak magang bisa sampai sepuluh bulan,” kata Khofifah.

Persoalan magang, juga dikeluhkan oleh perusahaan, salah satunya attitude-nya kurang baik, tidak terbiasa bekerja sampai sore, dan lainnya. Oleh karena itu, dalam kurikulum yang baru, diharapkan ada perbaikan attitude, tanggung jawab, kedisiplinan, dan team work. Hal ini juga harus didukung oleh dunia industri, agar anak-anak SMK bisa magang lebih lama, sehinga kelak bisa lebih siap masuk ke dunia kerja.

“Jadi sudah mulai diperluas, misalnya untuk menyiapkan anak-anak magang dalam waktu yang cukup lama, misalnya bisa sampai sepuluh bulan, sehingga ikut membentuk attitude, tanggung jawab, dan bekerja dalam tim,” lanjut orang nomor satu di Jatim itu.

Dengan memperkuat program dual system SMK, Khofifah optimistis masyarakat lebih sejahtera, kemudian angka kemiskinan di Jatim dan angka pengangguran di Jatim bisa dikurangi, sebab program tersebut berada di daerah pinggiran, yang diasumsikan bahwa generasi mudanyatidak masuk ke Perguruan Tinggi (PT).

“Di pinggir-pinggir itulah sentra kemiskinan kita, sehingga adanya dual system ini bisa berdampak pada penurunan kemiskinan di pedesaan,” tandasnya. (Msa)