Oleh: Dhimam Abror Djuraid*
Wartawan Senior,
Doktor Ilmu Komunikasi

IBARAT balapan F1 atau Moto GP sekarang kita sudah memasuki lap terakhir. Ibarat lomba lari maraton sekarang kita sudah berada pada kilometer terakhir. Ibarat main bola kita sudah berada pada menit akhir. Ibarat balapan kuda kita sudah berada pada putaran terakhir.

Ini adalah balapan antara dua kuda saja, two horse race, antara 01 vs 02, dan hasilnya secara kasat mata sudah kelihatan. Sebagai inkumben 01 harusnya sudah leading ada di depan dan tinggal menjaga jarak aman. Sebagai inkumben seharusnya 01 sudah berlari 50 meter atau 100 meter di depan pesaingnya dan sudah tinggal berselebrasi menyentuh garis finis. Seharusnya inkumben sudah leading 2-0 dan menguasai pertandingan serta mendiktekan permainan dengan persentase possession 70 persen.

Tapi, yang terjadi malah kebalikannya. Inkumben 01 kancrit di belakang terengah-engah mengejar 02 yang steady berlari menjaga pace dan jarak. Sesekali 02 menoleh ke belakang untuk mengukur posisi 01 dan memastikan tidak ada akselerasi. Beberpa kali 01 melihat ke arah tribun yang penuh sesak dengan suporter yang berteriak-teriak histeris memberi semangat. Pasangan 02 tersenyum dan melambaikan tangan ke arah tribun. Garis finis sudah di depan mata dan 01 akan menyentuh garis finis dengan jarak yang cukup nyaman dari kejaran 02.

Inkumben 02 malah ketinggalan dua gol dan possession kalah 70 lawan 30 persen. Di sisa waktu pertandingan 02 malah mengurung ketat pertahanan 01 yang harus menarik semua pemainnya ke lini pertahanan. Tim 01 tidak bisa berbuat apa-apa selain bertahan total supaya tidak kebobolan lebih banyak gol. Tim 01 sering melakukan pelanggaran keras untuk merusak konsentrasi 02
Sayangnya, wasit tidak tegas. Meski begitu 02 tidak terpengaruh dan tetap konsentrasi terhadap pertandingan.

Itulah kondisi persaingan di etape terakhir pilpres 2019 ini. Secara kasat mata sudah diketahui 02 unggul mutlak. Di semua even kampanye terbuka terlihat jelas bahwa massa 02 selalu pecah membludak. Mereka datang secara sukarela, ikhlas membayar biaya sendiri. Mereka berpartisipasi tanpa dimobilisasi. Meskipun berbagai hambatan dilakukan oleh penguasa tetapi semangat tak pernah surut malah sebaliknya semakin membara.

Kampanye akbar di Gelora Bung Karno (GBK) Jakarta 7 April adalah contoh nyata. Meskipun berusaha dihambat dengan berbagai macam alasan perizinan tetapi massa tetap membludak. Semula 02 ingin kampanye dilaksanakan siang hari. Tetapi, penguasa tak mengizinkan dan memaksa kampanye dilaksanakan jam 06.00 sampai 10. 00. Harapannya adalah supaya massa gak bisa datang pagi-pagi dan kampanye sepi.

Tapi, ternyata keputusan itu blunder. Ibarat anak remaja yang cerdik. Ketika dilarang pulang malam justru pulang pagi. Dilarang kampanye siang massa justru berduyun-duyun hadir di pagi buta, bertahajud, shalat subuh berjamaah memecahkan rekor Indonesia, dan melantunkan doa-doa kemenangan. Penguasa pun gemetar sampai ke sumsumnya.

Inilah bukti nyata kuatnya arus perubahan yang diinginkan oleh massa. Sekuat apa pun sebuah rezim kalau massa sudah bergerak pasti akan ambruk. Ferdinand Marcos di Filipina atau Reza Pahlevi di Iran, dua diktator yang super-represif pun tumbang oleh gerakan massa. Apalagi cuma rezim 01 yang keropos dan tidak bertulang, pasti amblas diterjang arus perubahan massa.

Tidak ada yang bisa dilakukan kecuali serangan-serangan sporadis dengan lagu-lagu lama. Lembaga-lembaga survei bayaran istana masih terus-menerus mengeluarkan hasil survei abal-abal yang memenangkan petahana. Tidak ada satu pun yang mempercayainya. Media mainstream yang sudah menggadaikan diri juga terus menyuarakan berita-berita usang luntuk mendiskreditkan 02. Tidak mempan. Malah media mainstream kehilangan kredibilitas di mata massa.

Isu-isu dangkal murahan terus menerus digoreng. Prabowo gebrak meja digoreng terus meskipun publik tidak menggubrisnya. Isu khilafah yang usang terus disuarakan meskipun tidak ada yang mau mendengar. Putus asa 01 melempar isu kerusuhan 1998 akan terulang kalau Prabowo menang. Tidak ada yang percaya.

Rakyat sudah bergerak. Arus perubahan tak mungkin lagi bisa ditahan (*)