Oleh: Prof. Dr. Gempur Santoso, M.Kes
Direktur LPIK Universitas PGRI Adi Buana Surabaya
Managing Director Asosiasi Pendidikan dan Sosial (APENSO) Indonesia, Penasehat Swaranews.

Kematangan seseorang dalam patriotisme membela negara. Peduli pada masyarakat lemah. Membela dari ketertindasan keadilan. Rasa sosisal hidup dalam kebersamaan. Perlu dipupuk dengan pendidikan, gemblengan metal yang kuat.

 

Saat dewasa. Memegang tapuk kepemimpinan. Jangan sampai hanyalah retorika semata. Sekadar mencari keuntungan pribadi. Terselubung retorikanya. Di balik itu “menjual negara dan bangsa ini”.

 

Organisasi mahasiswa luar kampus (pemuda), memiliki peran kaderisasi kebangsaan sangat kuat. Membentuk idealiame kebangsaan sangat kuat.

 

Organisasi kemahasiswaan luar kampus seperti: GMNI, IMM, HMI, PMKRI, GMKI, PMII dan sebagainya. Sangat diperlukan dan harus eksis. Kematangan kaderisasi sangat diperlukan. Secara sitematik dan metodis. Tingkat dasar, menengah, lanjutan dan seterusnya.

 

Organisasi mahasiswa luar kampus. Semakin banyak diskusi tentang keadaan politik, sosial, dan berbagai ideologi akan semakin baik. Agar memiliki  wawasan luas. Memiliki sensitifitas terhadap keadaan keadilan sosial. Jiwa tidak terjajah. Jiwa terlepas dari ketergantungan. Mampu rekayasa sosial. Komunikasi sosial masyarakat. Dalam memperjuangkan mencapai kedaulatan negara dan bangsa. Membela negara.

 

Gemblengan terhadap para mahasiswa dalam organisasi luar kampus. Dilakukan dirinya sendiri dalam kebersamaan. Berjuang bersama. Secara simultan. Akan menghasilkan politikus yang ulung.

 

Kita tahu, partai politik kurang mampu melakukan kaderisasi kebangsaan. Sehingga berpolitik diasumsikan berbisnis. Menjadi pekerja politik.

 

Para politikuslah yang mampu mempertahankan kedaulatan negara. Bukan para pekerja politik.

 

Kaderisasi yang tidak matang. Kadernya, akan lemah patriotis idealiame kebangsaannya. Justru nanti akan berbalik, menjual bendera premordialiame alumni untuk kepentingan pribadi. Bahkan “menjual negara”. Oportunis, dan menjadi brutus kekuasaan (tempat keputusan sumber dana/ada duwitnya). Kepentingan matrialisme.

 

Bukan berarti mengecilkan peran organisasi mahasiswa dalam kampus. Atau, organisasi profesi kemahasiswaan. Organisasi mahasiswa dalam kampus juga penting. Dalam hal keilmuan masing masing dan berorganisasi.

 

Organisasi dalam kampus. Dirasa masih kurang dalam hal diskusi kebangsaan. Diskusi penguasaan politik kebangsaan secara nasional maupun internasional. Kemampuan nembaca kesenjangan sosial kemasyarakatkan. Juga rekayasa sosial masih kurang.

 

Organisasi dalam kampus  disibukan berbagai dana yang disediakan kampus dan dikti. Mengejar pogram program kompetisi yang menjadi ikon prestasi.

 

Lemahnya berserikat berkumpul dalam mempelajari nuansa kebangsaan Indonesia secara nasional. Atau, masih berkurang. Rasa kebangsaan bernegara menjadi lemah.

 

Lemahnya organisasi mahasiswa luar kampus. Membuat nagara ini kurang melahirkan politikus. Akhirnya banyak lahir para pekerja politik. Indonesia menjadi kebobolan, membuat pasal hukum pun menjadi dijual belikan. Tentu dimenangkan kapitalis yang punya kapital besar, mendunia.

 

Dampak lemah kaderisasi, mengalami krisis politikus.

 

Tidaklah putus asa. Lemahnya kaderisasi partai politik. Dalam mengisi kekosongan kader. Para pansiunan guru, dosen, wartawan atau pansiunan wartawan. Biasa berkecimpung dunia intelektual,  pendidikan dan sosial. Sangat tepat untuk mengisi kesongan politikus selama ini. Agar kebangsaan Indonesia menjadi maju.

(GeSa)