CATATAN SUGIANTO S. HARTAWAN

Pemimpin Redaksi (Non Aktif) / Penggiat UMKM
0878 5249 7378

 

PEMILU kali ini bukan saja pemilu yang sangat berbeda dengan pemilu-pemilu sebelumnya. Selain karena dilaksanakan secara serentak pemilihan presiden dibarengkan dengan pemilihan legislatif.

Selain peserta partai politik yang sudah ada sebelumnya (pemilu 2014), juga muncul partai politik pendatang baru, seperti PSI, Partai Berkarya, Partai Garuda. Partai politik yang menjadi peserta pemilu adalah parpol yang telah memenuhi persyaratan sesuai UU Pemilu.
Bukan itu saja, berbagai issue juga muncul. Kali ini kata milenial jadi terdengar akrab di telinga masyarakat. Milenial seolah diidentikkan dengan kaum muda. Yang merasa muda, menganggap dirinya kaum Milenial.

Di jalanan umum, di Jakarta, Surabaya atau kota lainnya yang sempat didatangi penulis, aneka foto caleg berpose bak selebritis. Hasil foto bisa tampak berbeda dari aslinya. Yang kurang mulus wajahnya, bisa terlihat mulus wajahnya berkat rekayasa IT. Yang gemuk bisa tampak langsing. Yang kurang cantik, bakal kayak artis. Yang tua tampak jauh lebih muda usianya. Laki atau perempuan sama saja. Semua berbondong-bondong me-remake wajah supaya tampak menarik perhatian masyarakat.

Sementara itu ada yang terang-terangan menyatakan dirinya kaum Milenial, kaum muda yang berani berubah (atau mengubah).

Sejumlah parpol demi tuntutan harus memenuhi kuota caleg wanita memaksakan diri mencari caleg wanita yang bersedia dipoles menjadi caleg. Apalagi persyaratan untuk menjadi caleg sangat ringan minimal SMA. Bisakah Anda membayangkan seberapa besar pengalaman yang dimiliki caleg yang bersangkutan. Beda tentunya jika membandingkan dengan kinerja seorang Menteri Kelautan Ibu Susi yang sarat dengan pengalaman bisnisnya namun tidak lulus sarjana.

Hampir semua parpol memiliki ‘caleg pemenuhan kuota wanita’, sah-sah saja. Bukan pelanggaran.

Ada caleg usia muda dengan curriculum vitae dengan jabatan yang keren di bidang Finance dan marketing. Nampang dengan baliho besar-besar di pinggir jalan strategis.
Tidak penting bagi caleg yang ikut dalam kompetisi merebut suara masyarakat (pemilihan legislatif) harus pintar atau lulus setinggi mungkin di bidang akademis. Yang penting mampu meraih suara sebanyak mungkin agar lolos dan terpilih.

Ada teman pemerhati politik sempat mengatakan kepada penulis, hanya orang berduit saja yang mampu masuk ke lingkungan legislatif. Terus terang, saya membantahnya.
Selama sekitar 30 tahun saya aktif di media harian dan mingguan. Selama itu saya belum merasakan bebas mengekspresikan diri karena masih terjalin kerjasama yang ‘simbiosis mutualisme’ kedua belah pihak. Media berdiri di luar pemerintah. Jika menjadi anggota dewan, ia adalah bagian dan partner pemerintah yang secara bersama membangun kota/kabupaten/provinsi/negara ini.

Wartawan di era saat ini ada yang berkecukupan secara ekonomi, ada yang pas pas-an, ada yang yang minus ekonominya (mohon maaf). Saya termasuk golongan yang tidak berlebihan. Ikut maju caleg atas dasar niat idealisme untuk turut memajukan kesejahteraan masyarakat bersama pemerintah. Semoga saya tidak tergoda dan melenceng dari komitmen dan fokus saya (tidak korupsi; kesejahteraan veteran, lansia; pendidikan anak; kesehatan wanita; pemberdayaan UMKM). Ibarat model rumah masa kini yang berarsitektur minimalis, saya termasuk caleg minimalis yang bukan milenial. Hehehe.