MUDIK menjadi bagian rutin perjalanan pulang kampung akbar di setiap menjelang Hari Raya Idul Fitri. Tradisi mudik atau pulang kampung sudah menjadi tradisi bersama secara turun temurun bagi bangsa Indonesia. Bukan saja dari warga Indonesia yang beragama Islam dan tinggal di perkotaan, tetapi juga sudah menjadi bagian tradisi bersama baik yang non muslim maupun lainnya. Karena mudik seakan sudah menjadi kebutuhan spiritual bagi sebagian besar rakyat Indonesia yang masih mempunyai kampung halaman, atau hanya ingin bernostalgia dengan kampung yang membesarkannya.

Di samping mudik ada salah satu ikon tradisi keagamaan, yaitu ‘Ketupat Lebaran’. Perlu diketahui bahwa filosofis di balik ketupat lebaran adalah bahwa awal dakwah Islam melalui pemikiran bijaksana para Sunan dan Wali, dengan dipilihnya cara kultural sebagai manifestasi ajaran Islam yang membawa rahmat bagi semua alam, yaitu kasih sayang dan cinta yang menaungi seluruh komponen makhluk hidup di jagat raya ini tanpa terkecuali.

Sunan Kalijaga menginisiasi ketupat dalam sajian khas Idul Fitri yang melambangkan kesempurnaan anyaman dalam kebersamaan, yang kemudian menjadi tren kuliner ritual keagamaan yang sangat popular di Asia Tenggara.

Sementara Sunan Bonang, guru dari Sunan Kalijaga, menyebut Idul Fitri dengan Lebaran. Tujuannya agar agama Islam bisa diterima dalam pergaulan tradisi Hindu yang terlebih dahulu dianut oleh masyarakat Jawa Kuno.

Kupat adalah singkatan dari laku sing papat atau empat keadaan yang dianugerahkan oleh Tuhan kepada orang yang berpuasa dengan keikhlasan dan kesungguhan hingga masuk fase lebaran. Yaitu: lebar, lebur, luber, dan labur.

Lebar berarti telah menyelesaikan puasanya dengan melegakan. Lebur berarti terhapus semua dosa yang dilakukan di masa lalu, Luber berarti melimpah ruah pahala amal-amalnya. Dan labur berarti bersih dalam dirinya.

Islam masuk dan berkembang ke Indonesia sejatinya tanpa konflik, tanpa hentakan senjata. Ijtima para Sunan dengan mengharmonisasikan doktrin ajaran Islam dan budaya lokal tercatat paling sukses dalam sejarah peradaban Islam di dunia. Kehadiran Islam bukanlah menyapu rata budaya-budaya lokal yang ada di dunia manapun, tetapi mempertahankan budaya yang sejalan dengan nilai-nilai kemanusiaan dan tidak mencederai nurani penganutnya.

Islam hadir tanpa curiga, tanpa caci maki, tanpa dengki, dan tanpa permusuhan. Islam hadir adalah sebagai rahmat bagi semesta alam. Kehadiran Islam di Indonesia sangat memberi pencerahan dan warna baru bagi sekian banyak penganut aliran kepercayaan di masa lampau.

Indahnya mudik adalah ketika kita semua mampu mengambil mutiara di dalamnya, berusaha menghayati dan mengaplikasikannya dalam kehidupan. Mudik secara hakiki bukan hanya sekadar ajang pulang kampung untuk bersilaturrahmi berbagi cerita, berbagi pengalaman, berbagi kebahagiaan dan berbagi rezeki.

Namun yang hampir terlupakan adalah bagaimana kita bisa menggali informasi dan pelajaran tentang betapa indah dan luhurnya ajaran nenek moyang kita, yang mengajarkan tentang bagaimana hidup harmoni penuh rasa kemanusiaan, cinta damai, toleran terhadap sesama, tulus saling memaafkan, dan menyatu dengan alam sekitar. Semuanya itu dilakukan mereka penuh dengan ketulusan dan kesadaran religiusitas tanpa ada embel-embel apapun di belakangnya.(wwn)