SURABAYA (Swaranews) – Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa meminta manajemen Rumah Sakit (RS) melibatkan dan mengajak para influencer media sosial (medsos) turut mengkampanyekan hidup sehat. Hal itu disampaikan usai acara Halal Bihalal di RSUD Dr. Soetomo, Surabaya, Kamis (13/6/2019).

Orang nomor satu di Jatim itu mengatakan, Influencer medsos tersebut merupakan para youtuber, blogger, dan faceboker.

“Saya minta pada kadinkes dan manajemen RS mulai dari dirut hingga divisi-divisinya bisa mengajak seluas-luasnya para youtuber, blogger, dan facebooker untuk mengajak orang berpola hidup sehat,” kata Khofifah.

Terlibatnya para youtuber, blogger, dan faceboker, dikatakan Gubernur Khofifah menjadi sangat efektif, karena hampir 70% masyarakat Jatim mengakses media sosial. Apalagi, para influencer medsos tersebut telah memiliki follower yang jumlahnya jutaan. Hal ini tentu akan bisa memberi pengaruh besar pada masyarakat tentang pentingnya menjaga pola hidup sehat.

“Undang mereka untuk visitasi rumah sakit, tunjukkan layanan yang dimiliki RS serta kenalkan mereka bahwa ada penyakit tidak menular yang harus diantisipasi,” ungkap Khofifah

Selain itu, para influencer medsos juga akan punya perspektif dan menyampaikannya ke masyarakat luas.

Mantan Menteri Sosial itu menyampaikan, saat ini pola layanan kesehatan lebih ditekankan pada promotif dan preventif. Oleh sebab itu, format yang diterapkan untuk kesehatan nasional lebih berkonsep pada gerakan masyarakat hidup sehat atau
Germas. Karenanya, para youtuber, blogger, dan faceboker tentu akan mempermudah
penerapan layanan ini pada masyarakat.

“Banyak hal yang harus disampaikan kepada publik tentang lifestyle yang tidak
sehat. Misalnya, jangan minum minuman keras serta jangan berganti-ganti pasangan
karena HIV di Jatim nomor satu,” tegas Khofifah.

Selain itu, Khofifah juga meminta agar pihak RS terus melakukan riset dan development di bidang kesehatan untuk memberikan layanan yang lebih baik untuk masyarakat. Untuk menunjang hal ini, selain update teknologi juga dibutuhkan kemauan dan kemampuan dari semua pihak.

“Sistemasi dan digitalisasi tersebut diharapkan bisa diimplementasikan di satu
lantai saja di Graha Amerta misalnya. Hal ini juga untuk menjawab tantangan adanya
revolusi industri 4.0 yang sering kita bicarakan,” tandasnya. (Msa)