SURABAYA (Swaranews) – Terkait pembangunan pabrik pengolahan limbah bahan berbahaya dan beracun (B3) di Desa Tlogoretno dan Brengkok, Kec. Brondong, Kab. Lamongan, yang mendapat penolakan dari warga setempat, Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa mengatakan sektor industri dan pengolahan limbah harus berseiring.

Orang nomor satu di Jatim itu mengungkapkan bahwa pertumbuhan ekonomi Jatim sangat signifikan. Sementara itu, sektor industri merupakan penopangnya. Untuk itu, menurut Gubernur Khofifah, sektor industri dan pengolahan limbah harus berjalan secara beriringan.

“Sektor industri itu menghasilkan limbah. Jadi, harus berseiring antara pembangunan di sektor industri apapun dengan penyiapan pengolahan limbah,” kata Khofifah usai Rapat Paripurna Pengesahan Raperda Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) 2019-2024 Jatim, di Gedung DPRD Jatim, Rabu (10/7/2019).

Gubernur Khofifah menambahkan, dalam Indeks Kinerja Utama (IKU), menjaga lingkungan hidup juga harus berjalan secara beriringan. “Maka menyiapkan lahan untuk pengolahan limbah itu adalah sesuatu yang niscaya,” tegasnya.

Terkait penolakan oleh warga, Gubernur perempuan pertama di Jatim itu menegaskan bahwa komunikasi secara intensif harus dilakukan (pabrik yang akan mendirikan pengolahan limbah).

“Kalau kita sudah punya peta, pasti akan dikomunikasikan dengan warga dimana titik-titik itu disampaikan. ‘Oh ya, kalau ini tempat pengolahannya, maka sesungguhnya aman di olah disini,” tegasnya.

Mantan Menteri Sosial itu menyebutkan bahwa komunikasi harus dijalin dengan seksama lagi. Ia mencontohkan, jika menginginkan pertumbuhan ekonomi menjadi tinggi, maka penopang utamanya adalah sektor industri.

“Hari ini sudah hampir 29,03 persen sektor pertumbuhan ekonomi kita ditopang oleh industri,” pungkasnya.(Msa)