SURABAYA (Swaranews) – Hubungan baik antara Indonesia dan Tiongkok dalam berbagai sektor menjadikan keduanya saling terkoneksi dan saling memberikan pengaruh satu sama lain, terutama dalam isu keagamaan.

Kondisi tersebut menjadi alasan Zhenghe International Peace Foundation (ZIPF) menggelar Konferensi Internasional ‘The 15Th Zhenghe Internasional Peace Forum’ di Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA) Surabaya, pada 15-16 Juli 2019.

Ketika dikonfirmasi alasan memilih Indonesia, Direktur ZIPF Prof. Ma mengatakan, agama Islam di Indonesia mampu menampilkan ekspresi keberagamaan yang relatif damai, toleran, dan inklusif. Sebaliknya, fenomena tersebut tidak terjadi di dunia Arab. Di mana hari-hari ini banyak kejadian kontraproduktif bagi terciptanya perdamaian.

“Kita lihat di dunia Arab sedang banyak konflik kepentingan, kekerasan, bahkan perang saudara dan lainnya,” terang Prof. Ma saat konferensi pers di gedung Twin Tower UINSA, Surabaya, Jumat (12/7/2019) sore.

Lebih lanjut, Prof. Ma mengatakan, ‘The 15Th Zhenghe Internasional Peace Forum’ ini penting untuk diadakan di Indonesia untuk sebuah harapan dapat membangung tata hubungan perdamaian dunia yang baik di masa depan.

“Kita ingin ada relasi yang baik antara Tiongkok dengan dunia Islam, terutama antara Muslim Indonesia dan Muslim Tiongkok dalam berbagai aspek. Baik itu agama, budaya, sosial dan lainnya,” harapnya.

Tidak hanya itu, Prof. Ma juga menjelaskan bahwa forum tersebut merupakan jembatan bagi terwujudnya relasi atau tata hubungan yang baik antara Tiongkok dengan dunia Islam. Ia melanjutkan, forum yang sama sebelumnya juga telah terlaksana di empat negara yaitu Malaysia, Dubai (Uni Emirat Arab), Khazakhstan dan Pakistan.

“Untuk The 15Th Zhenghe Internasional Peace Forum ini kita pilih tempatnya di Jawa Timur, Indonesia,” katanya.

Konferensi bergengsi ini merupakan inisiasi dari Zhenghe International Peace FoundationFoundation (ZIPF), Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Uinsa, Yayasan Haji Muhammad Cheng Hoo Indonesia (YHMCHI), bekerjasama dengan Universitas Ma Chung, PWNU Jatim, PWMU Jatim, Yayasan Masjid Cheng Hoo Banyuwangi, dan Pemerintah Provinsi Jatim.

Rencananya, agenda ini akan menghadirkan empat pembicara utama, yakni Rektor UINSA Surabaya Prof. Masdar Hilmy, peneliti asal Lazau University China Prof. Zhou Chuanbin dan peneliti asal Central China Normal University Wuhan, China Prof. Song Xiuju, serta Independent Researchers asal USA Mark and Laurie Nickless. (Msa)