Uang sudah mendarah daging di setiap manusia. Mengalir ke urat, syaraf dan tulang-tulang agar kuat untuk bertahan hidup. Sejak dini, selain warna pelangi kita juga diperkenalkan denga warna-warni nominal uang. Tidak kaget kalau lembaran kertas itu menjadi segala dan segala-galanya bagi orang yang masih sanggup menghirup udara segar. Mulai kelas pengemis recehan hingga mengemis uang rakyat Triliyunan, dari kelas gelandangan hingga meng-glandang uang Mliyaran, dari kelas pedagang asongan hingga aset negara di per-dagang-kan. Setiap kokokan ayam mulai terdengar, sampai senja menghilang bahkan berganti malam, manusia masih bertarung dengan waktu demi mengais uang. Semua dipertaruhkan-dikorbankandiberikan dan di-di yang lain. Hingga munculah kata bijak Fastabiqul Fulus” berlomba-lombalah demi mendapatkan uang.

Kerja kuli bangunan kepanasan, sedangkan kerja kantoran kedinginan. Para petani 6 bulan baru memanen, yang kalangan elite setiap hari panen. Pekerja buruh memeras keringat baru mendapat uang sedangkan pejabat hanya tanda tangan. Memang, itulah siklus. Semua orang pasti ingin hidupnya mapan, mempunyai uang banyak dengan kerja kantoran dan kedinasan. Tidak jarang manusia-manusia mengundi nasib untuk merubah puzle takdirnya, siapa tau bejo dan menjadi kaya. Analoginya, orang tua buruh tani kalau bisa anak-anaknya menjadi guru, orang tua guru kalau bisa anak-anaknya jadi dosen atau profesor, orang tua dosen kalau bisa anak-anaknya menjadi rektor, orang tua rektor kalau bisa anak-anaknya menjadi menteri, orang tua menteri kalau bisa anak-anaknya menjadi wakil presiden atau bahkan presidenya. Rumus dan statmen seperti itu selalu di orasikan, mau tidak mau kita ber-Embodimen dalam pola ke-cita-citaan yang benar namun tidak sebenarnya.

“Mbok yo o wong cilik di bagei duwek gambar Soekarno-Hatta”, (Kalau bisa rakyat kecil dikasih uang gambar Soekarno-Hatta). Begitulah kira-kira slogan pejuang desa, yang setiap hari merawat bumi pertiwi dengan gagang cangkulnya. Setiap ada rumput yang tumbuh di besik i (bersihkan), tidak kenal lelah membolak-balikkan tanah dengan cangkul kesayangan agar hasil panen melimpah. Entah, mencangkul di tegalan atau di sawah sama saja. Terlihat lebih ringan dan elegan saat membawanya, apalagi tanah-tanah diberi nutrisi pupuk kandang hasil ternak mereka, menurut saya itulah wakil rakyat yang sesungguhnya. Tidak ada niatan untuk merusak dan mengambil alih, selalu bertanggungjawab dengan tanah kelahiran dan sesekali tetesan keringatnya sebagai ganti air hujan, agar tanahnya selalu subur. Walaupun yang didapat hanya gambar pahlawan Ir. H. Djuanda Kartawidjaja dan teman-temanya. Sedangkan gambar sang proklamator masih berbau harum di saku-saku sang pejabat. Sungguh, raja dunia adalah nominal-nominal angka keuangan, walaupun kaki terdiam tapi ada uang yang berjalan, telapak tidak mau berjabat tangan ada uang yang menyatukan, apalagi ada uang yang menempel di lidah-lidah manusia yang bisa membuat lunyu saat berbicara.

Demi apa coba? Desepsi-desepsi yang selalu dilakukan atas nama kesejahteraan, kemakmuran dan kemajuan. Saling beradu mulut dan berani bertanding di kursi-kursi empuk, siapa saja yang oli dalam lidahnya bagus dan lancar itulah pemenangnya, sepak terjangnya paling lama dialah yang menguasai, loby-lobying dalam kobokan hitam selalu dijalankan untuk memenuhi dompet-dompet lipatan. Brangkas-brangkas mereka sudah penuh lalu pindah di Gong-gong yang kapasitasnya besar untuk menumpuk deret angka dan nol-nol yang berjumlah puluhan. Mungkin mereka ingin menjaga sang praklamator agar tidak lecet, kumuh, kusel karena terkena tangan-tangan buruh dan orang-orang desa setelah memegang gagang pacul. Mungkin mereka ingin menjaga keharuman dua tokoh legendaris tersebut agar tidak tercampur dengan bungkusan bako dan cengkeh di gulungan kresek kecil petani.

Bapak Dr. Ir. Soekarno dan Drs. Moh. Hatta terasa suntuk dan terbelenggu di balik jeruji sang kaya. Mana teman-temanku Oto Iskandar Dinata, Sultan Mahmud Badaruddin II, Moh. Hoesni Thamrin, dan lainya. Kenapa aku tidak pernah melihat dan bertemu dengan mereka, apakah nasibnya sama sepertiku. Ditumpuk, didiamkan lalu diberi tumpukan lagi. Aku juga ingin bercengkrama dengan rakyat-rakyatku, di elus-elus, di ajak minum kopi, keliling di toko sayuran, pedagang asongan, hingga semua rakyat Indonesia selalu mengenal dan mengenangku. Mereka memasungku yang sebenarnya aku menjadi hak-hak asuh rakyat kecilku.

Sedangkan kalangan rakyat biasa ingin sekali melihat senyum manis gambar Bung Karno dan Bung Hatta di telapak tanganya. Butuh berhari-hari untuk mengumpulkan 2 atau 3 lembar saja. Seandainya satu hari saja bertukar posisi, sang pejabat mencangkul ladang dan tegalan. Saya yakin, tentu saja kuat dong, kan katanya demi kesejahteraan rakyat. Untuk rakyat biasa, berganti posisi duduk di kursi, menikmati hembusan AC, tentunya jangan melakukan apa-apa nanti bisa jadi salah kaprah karena sudah terbiasa pegang pacul daripada pensil. Hanya saja rasakan uang di sana, gemetar atau tidak tangan dan kakimu saat menyentuh gambar Proklamator di sudut-sudut meja rapat, jangan-jangan sang rakyat jelata kencing di celana. Kalau begitu sudahlah kembali saja ke gubuk istana rumahmu dan istiqomalah dengan cangkulmu. Walaupun tidak dekat dengan Proklamator kamu tetap bisa mengaguminya kan? Toh, kamu bisa lebih akrab dengan Frans Kaisiepo, Dr. K.H. Idham Chalid, Tjut Meutia, Dr. Tjiptomangunkusumo, yang selalu menyambung hidupmu setiap hari.

Kalau saja uang ini dihapuskan dan di ganti dengan barter seperti zaman dulu, seru kali ya!. Manusia-manusia akan lebih berfikir kreatif dan menciptakan hal baru untuk menghasilkan peradaban yang layak jual. Pemuda-pemuda akan menjadikan gunung dan lembah sebagai kediaman elite mereka. Laut dan samudra yang ada di dalamnya tidak akan habis kalau hanya dimakan masyarakat Indonesia. Belum lagi buah dan ratusan jenis tanaman yang selalu tumbuh subur untuk lumbung pangan. Dulu juga tidak menggunakan uang bisa membangun tembok-tembok besar yang keindahanya melebihi bangunan sekarang. Aku tidak menyarankan kembali ke masa lalu hanya saja kita bisa belajar banyak hal tentang waktu-waktu yang sudah berlalu. Karena hidup di masa sekarang satu detik saja melakukan kesalahan seribu kebaikan akan hilang. M. Andik Susanto