Klangenan (menikmati bersama keadaan). Bisa menikmati tahta. Bisa menikmati status qou. Bisa menikmati pula senasib. Bisa juga menikmati kemapanan. Menikmati kesusahan maupun kegembiraan. Bersama sekelompok komunitas.

Klangenan, kata dasar “kangen”. Kumpul kangen kangenan. Tentu klangenan jangan sampai terhanyut “lupa” nasib. Bisa jadi lupa nasib pada diri sendiri, lembaga atau usaha/perusahaan. Bisa jadi nasib negeri ini, yg puluhan tahun tetap sebagai “negara berkembang” akibat terhanyut kenikmatan nasib. Kapan menjadi negara maju?

Nasib bisa dibentuk. Bentukan nasib diawali rencana. Di-treatment, kontrol,  evaluasi, goal. Manajamen negara, tata negara. Perlu “disegarkan”. Jika tidak. Tetap begini saja “negara berkembang”. Ketergantungan ke negara lain terus menerus, bahkan makin tinggi. Ditandai hutang dan impor makin tinggi. Ketergantungan ke negara lain melemahkan bargaining negara.

Sinergi tetap dibangun saling menguntungkan negara. Bukan negara konsumtif semata, tapi menjadi negara produktif. Rakyat diajari kerja produktif. Menjadi pengusaha besar. Sehingga mengurangi ketergantungan. Mengurangi hutang. Ekonomi negara menjadi kuat. Tanpa kekuatan ekonomi kedaulatan negara terganggu.

Kita harus yakin nasib bisa dibentuk menjadi lebih baik. Salah satu konsep dari agama “nasib suatu kaum akan berubah tergantung dari kaum itu sendiri”.

Beranikah Indonesia menjadi negara maju?. Beranikah Indonesia mengangkat pemimpin (termasuk menteri menteri) dari kaum muda yg cerdas dan piawai. Bukan lagi menteri/pemimpin yg sudah kakek nenek, bercucu bercicit. Agar tak terus menerus menjadi negara klangenan.

Tetap silaturohim, sinergi. Semoga Anda bernasib baik.

Ayo maju. Semangat.

 

(GeSa)