Oleh : M. Shohibul Anwar Swaranews

Millenial, akhir-akhir ini selalu muncul dan menjadi topik perbincangan publik. Bahkan, pemerintah pun turut memberikan perhatian khusus. Program-program berbasis digital banyak dicanangkan untuk memberikan pelayanan pada generasi Y tersebut.

Menurut para peneliti sosial, Generasi Y atau Millennial adalah orang-orang yang lahir pada rentang tahun 1980an hingga 2000. Atau bisa dikatakan generasi millennial terdiri dari anak-anak muda yang saat ini berusia antara 15-35 tahun.

Internet, sebagai produk zaman yang tak bisa dipisahkan dari millenial. Internet kini telah menjadi gaya hidup bagi para millenial (gaya hidup digital). Koneksi internet memang menjadikan pekerjaan apapun menjadi lebih mudah. Hal ini menjadi salah satu alasan mengapa teknologi diciptakan, yaitu untuk mendukung kegiatan sehari-hari.

Terlepas dari segala manfaat serta dampak positifnya, internet juga mampu menjadi boomerang bagi millenial jika salah dalam penggunaannya. Untuk itu, dibutuhkan sosialisasi serta pendampingan secara lebih kepada generasi ini. Karena, millenial lah yang akan memegang kunci ke-Emas-an bagi Indonesia dimasa mendatang.

Sesuai data BPS, pada 2045 mendatang Indonesia akan mendapat bonus demografi. Dimana, jumlah usia produktif yaitu usia 15-64 tahun lebih besar dibanding jumlah penduduk yang tidak produktif yaitu usia di bawah 14 tahun atau di atas 65 tahun.

Diprediksi, pada tahun 2020-2045, angka penduduk usia produktif dapat mencapai 70 persen, sedangkan 30 persennya merupakan penduduk dengan usia yang tidak produktif. Namun, kondisi tersebut tidak semena-mena menjadi masa keemasan bagi Indonesia. Sebab, fase tersebut dapat berdampak pada dua kemungkinan, yaitu bonus demografi dan bencana demografi.

Bonus demografi, dapat tercapai jika kualitas sumber daya manusia di Indonesia memiliki kualitas yang mumpuni. Sehingga, akan berimbas pada pertumbuhan ekonomi negara. Sebaliknya, bencana demografi juga tak segan-segan menyelimuti Indonesia ketika jumlah penduduk yang berada pada usia produktif ini justru tidak memiliki kualitas yang baik, sehingga menghasilkan pengangguran massal dan menjadi beban negara.

Langkah ciamik mempertemukan Millenial dengan dunia usaha dan Industri harus terus digalakkan pemerintah sebagai upaya mempersiapkan generasi muda menghadapi tantangan menuju Indonesia Emas.

Di Jawa Timur, Pemerintah Provinsi telah melaunching program Millenial Job Center (MJC). Dimana, program tersebut berfungsi untuk menghubungkan antara millenial dengan dunia bisnis. Program tersebut merupakan langkah Pemprov Jatim untuk mengurangi angka pengangguran yang realitanya dikuasai oleh millenial yaitu tingkat SMA keatas. Dalam program tersebut, nantinya akan menghubungkan millenial dengan IKM dan UKM.

Seperti diketahui, peran UKM dalam perekonomian nasional terhitung cukup besar, yaitu mencapai 99,9 persen dan penyerapan tenaga kerja mencapai 97 persen. Kendati demikian, hingga kini UKM Indonesia masih tertinggal dari beberapa negara anggota ASEAN lainnya.

Dilansir dari Liputan6.com, Presiden Joko Widodo mengatakan bahwa UMKM harus naik kelas. Tidak boleh hanya bertahan di usaha kecil saja. Levelnya harus naik seperti di sejumlah negara tetangga.

Secara tidak langsung, dalam hal ini millenial menjadi kunci untuk mendongkrak perekonomian nasional melalui Re-brandring UKM yaitu berbasis digital. Kebutuhan pasar memaksa UKM harus beralih kepada dunia digital untuk memperluas market.

Maka, langkah pemerintah dalam menggalakkan industri berbasis digital sangat perlu diapresiasi. Apalagi, ketika berhasil menjodohkan dunia industri dengan Generasi Millenial.

Di Era Revolusi Industri 4.0 ini, setiap manusia akan berhadapan dengan mesin sebagai “kompetitornya” dalam menguasai lapangan kerja. Maka, millenial harus mendapat arahan dengan langkah strategis agar lebih fokus terhadap dunia usaha dan dunia industri, terlebih UKM.

Sebagai generasi millenial yang telah bersinggungan serta menguasai dunia digital, kini sudah sepatutnya sedikit demi sedikit turut berperan dalam membangun perekonomian negara guna mewujudkan “Indonesia Emas 2045” mendatang. Siapkah ?