SURABAYA (Swaranews) – Pemerintah Provinsi Jawa Timur terus berupaya mengembangkan berbagai sektor pembangunan untuk mendorong investasi di Jatim. Pengembangan tersebut berupa pembangunan konektivitas atau infrastruktur di kawasan utama (ring 1) dan wilayah lain agar berpeluang bagi dunia usaha dan dunia industri.

Emil mengatakan, pengembangan kawasan ring 1 seperti di Kab. Gresik, Kab. Bangkalan, Kab. Mojokerto, Kota Surabaya, Kab. Sidoarjo dan Kab. Lamongan dengan istilah Gerbangkertosusilo dilakukan dengan cara pemantapan infrastruktur dan pengembangan sumber daya manusia (SDM). Kemudian, di luar kawasan ring 1, Pemprov Jatim akan terus mengembangkan konektivitas antara satu daerah dengan daerah lain, salah satunya dengan infrastruktur jalan tol.

“Jatim ini benar-benar dikembangkan dari segala penjuru, baik di kawasan ring 1 yang sudah tumbuh sampai dengan daerah di luar ring 1,” kata Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak di Grand City Convex Surabaya, Kamis (12/9/2019).

Dirinya menjelaskan, realisasi investasi bidang usaha di Jatim dari tahun 2014 sampai dengan semester 1 tahun 2019 terdiri dari listrik, gas dan air (36,33 triliun rupiah), industri makanan dan minuman (29,38 triliun rupiah), dan industri kimia dasar, barang kimia dan farmasi (20,66 triliun rupiah). Kemudian industri logam dasar, barang logam, mesin dan elektronik (15,99 triliun rupiah) serta transportasi, gudang dan telekomunikasi (11,58 triliun rupiah).

Selain pengembangan konektivitas antar wilayah, lanjut Emil, Jatim juga memiliki kawasan industri yang eksisting sampai dengan kawasan industri yang tengah dikembangkan.

Saat ini, penyediaan kawasan industri di Jatim sendiri totalnya mencapai 36.851,28 Ha. Dengan rincian kawasan industri eksisting seluas 5.066,5 Ha yang diantaranya terdiri dari PT. Maspion Industrian Estate (341,5 Ha), PT. Surabaya Industrian Estate Rungkut (245 Ha) serta PT. Pasuruan Industrial Estate Rembang (563 Ha). Serta, pengembangan kawasan industri seluas 31.784,78 Ha yang tersebar di beberapa wilayah seperti Kab. Jombang, Kab. Tuban, Kab. Malang, Kab. Lamongan dan Kab. Banyuwangi.

Selain pengembangan konektivitas, infrastruktur dan kawasan industri, Pemprov Jatim juga terus memastikan proses birokrasi terutama perizinan baik di tingkat provinsi sampai dengan kab/kota dipermudah. Dan berbagai upaya ini menjadi bagian dalam mendorong investasi di Jatim agar terus meningkat.

“Intinya kami baik dari provinsi maupun kab/kota InsyaAllah semua memiliki komitmen yang sama terutama terkait pemberian kemudahan investasi di Jatim,” terangnya.

Sementara itu, Kepala Perwakilan BI Jatim, Difi Ahmad Johansyah mengatakan, kondisi inflasi Jatim selalu di bawah nasional. Sementara pertumbuhan ekonominya pun selalu di atas nasional. Sehingga bila ingin memajukan ekonomi Indonesia maka kuncinya di Jatim.

“Tingkat kemudahan berbisnis atau ease of doing business di Jatim sangat baik, mulai dari faktor memulai usaha serta pemenuhan kontrak di Jatim lebih bagus. Dan ini menjadi salah satu daya tarik investasi,” katanya.

Menurutnya, masalah perang dagang (trade war) dan resiko geopolitik berujung pada perlambatan perdagangan dunia dan penurunan harga komoditas. Dalam kondisi perekonomian saat ini, semua pihak harus berupaya membuat roda perekonomian berputar atau istilahnya uang berputar.

“Untuk itu mari berupaya mencari inovasi dan terobosan baru apalagi pertumbuhan ekonomi global membuat ketidakpastian selalu ada, sehingga susah memperkirakan outlook ke depan,” pungkasnya. (Msa)