Oleh: DR. Dhimam Abror Djuraid
Wartawan Senior
Penasehat Swaranews

Mr. W sedang jadi viral. Ia jadi korban penyerangan sepasang laki-perempuan yang menghadangnya di sebuah acara di Pandeglang.

Beritanya langsung heboh, mengalahkan semua trending topics maupun berita lain yang sebelumnya viral. Berita Ustad Abdul Somad yang dicekal di UGM langsung tenggelam. Trending topic “Universitas Gadjah Mati” seperti hilang tersapu gelombang.

Reaksi masyarakat terbelah, kira-kira persis di tengah-tengah. Kalau ada survei kilat, mungkin bisa terlihat hasilnya 55 persen percaya dan 45 persen tidak percaya, mirip hasil hasil pilpres kemarin.

Kubu yang percaya langsung menuding ada gerakan radikalisme yang sudah sangat luas skalanya dan sangat membahayakan, sehingga pemerintah harus bertindak tegas dan cepat

Kubu seberang hanya tertawa, menyebutnya rekayasa dan settingan. Berbagai meme bertebaran. Kasus penganiayaan Novel Baswedan sudah dua tahun tidak ketahuan juntrungannya. Kasus Ninoy Karundeng dalam sehari sudah diketahui pelakunya dan sudah ditangkap. Kasus penyerangan Mr. W? Tiga bulan sebelum terjadi sudah diketahui..

Apa kabar gerakan mahasiswa, apa kabar rencana demo besar-besaran? Apa kabar menjelang deadline perppu UU KPK? Apa kabar penanganan kerusuhan Wamena? Lupakan dulu. Berita Mr W lagi dahsyat-dahsyatnya.

Hanya beberapa hari jelang pelantikan presiden dan pengumuman kabinet baru Mr W bikin heboh jagat raya dan jagat maya. Apakah nama Mr W ada di daftar menteri di kantung presiden? You bet.

TNI ikut bereaksi keras seorang dandim dan seorang sersan dua sampai dicopot dan masuk sel tahanan gegara istrinya posting di media sosial mempertanyakan kasus Mr. W.
Reaksi keras Panglima TNI Jenderal Andika Perkasa ini memantik reaksi tak kalah keras dari netizen yang mempertanyakan sikap TNI yang dianggap berlebihan.

Ekosistem sosial-politik sudah berubah karena teknologi informasi. Old power sudah tidak dominan lagi karena ada tantangan dari new power akibat munculnya media digital. Tapi cara-cara lama masih tetap saja dipakai seolah dunia belum berubah.

Demokrasi sekarang ada di tangan netizen yang menjadi new power yang bisa menggerus old power.

Hanum Rais, putri Amien Rais, dipolisikan karena posting di medsos menyebut kasus ini settingan. Kita lihat sampai sedekat mana kasus ini bergulir.

Di balik layar spekulasi dan desas-desus politik bermunculan. Adu intrik dan saling jegal antar-elite kekuasaan sedang berlangsung. Mr BG kepala BIN sedang jadi sasaran tembak. Kompetensinya dalam mengendus penyerangan ini dipertanyakan. Lebih jauh lagi, kompetensinya memimpin lembaga telik negara ini dipertanyakan juga.

Ini bagian dari power play menjelang bagi-bagi kursi menteri. BG belakangan ini jadi bintang top karena manuvernya yang lincah meliuk-liuk bisa mempertemukan PS dengan Ibunda. PS pun manut, melepas sikap oposisi, dan mungkin dapat jatah beberapa menteri setelah beberapa hari lalu ketemu Jokowi (lagi). Ini, kabarnya, buah dari manuver Jenderal BG.

Counter-manouver
pun bermunculan supaya BG tidak terus-terusan menjadi bintang utama. Koalisi segitiga Bunda-PS-Istana tentu saja tidak boleh dibiarkan leluasa oleh lawan-lawan politiknya. Kasus Mr W ini, siapa tahu, salah satu dari manuver-manuver politik tingkat dewa. (*)