Beranda blog Halaman 3

THE JOKER

Oleh: DR. Dhimam Abror Djuraid
Wartawan Senior
Penasehat Swaranews

 

Jokowi terbukti lucu. Sambutannya di acara Ulah Golkar (6/11) menyindir rangkulan Teletubbies Surya Paloh-Shohibul Iman lucu habis.
Harusnya momen itu menjadi momen cair yang bikin ngakak politik nasional. Momen itu bisa menjadi “the most hillarious political moment 2019”. Momen politik paling lucu 2019.

Andai saja Surya Paloh membalas humor satire itu dengan humor yang lebih cerdas, pasti momennya akan jadi lucu dan segar, hillarous..

Sayang, Paloh merusak momen itu. Reaksinya kurang segar dan terlalu serius, jadinya momen hilang dan tegang. Akhirnya terjadi saltum alias salah momentum.

Selera humor politisi negeri ini rendah, dan itu bikin suasana tambah spaneng. Yang terjadi sebenarnya bukan diskursus politik kita picisan, tapi diskursus politik kita kering, kekurangan humor. Kurang piknik, kata emak-emak.

Akhirnya terungkap fakta-fakta freudian dari bawah sadar. Emosi, mimpi, slip of the tounge, adalah luapan di luar kesadaran yang bisa mengungkap kenyataan. Apa yang selama ini menjadi rumor politik jadi terkonfirmasi. Ada keretakan koalisi di level elite. Jothakan politik Surya Paloh dengan Megawati membawa rentetan politik yang panjang dan serius.

Jokowi itu–dalam istilah Jawa–ndableg. Dia meledek Surya Paloh dengan gaya slengekan khas Solo, terbuka, tajam, dan penuh humor. Guyon parikena alias bercanda tapi mengena. Itu guyon khas ala Jawa.

Andai saja Surya Paloh punya selera humor bagus dia akan bangkit menyambut Jokowi di bawah podium dan memeluknya dengan erat melebihi pelukan ke Shohibul Iman.

Budaya politik kontek rendah (low context) ala Surya Paloh yang berlatar belakang Aceh, berbenturan dengan budaya kontek tinggi (high context) Jokowi yang berlatar belakang Jawa Solo.

Budaya slengekan Jawa bisa dijumpai di Solo maupun Jogja. Orang Jogja punya budaya plesetan yang bisa membelokkan suasana serius menjadi lucu. Itulah, kekira, yang membuat umur rerata orang Jogja terpanjang di Indonesia.

Rocky Gerung suka mengutip kisah K.H Agus Salim yang cerdas dan berhumor tinggi dalam berpolitik. Suatu ketika saat Agus Salim berpidato seseorang mengembik meledek Agus Salim seperti kambing. Alih-alih marah, Agus Salim menyahut, “Setahu saya acara ini hanya dihadiri manusia, tapi ternyata kambing juga hadir…”

Bung Karno punya selera humor kelas dewa. Tak tanggung-tanggung, dia mengusili dan mengerjai Dubes Amerika Serikat, Marshall Green, di depan umum pada 1965. Bung Karno penggemar durian. Green, seperti umumnya orang Barat, bisa muntah kena bau durian. Di sebuah acara di atas panggung terbuka Bung Karno menyuguhkan durian dan mengajak Green memakannya.
Inilah guyon diplomasi paling cerdas sepanjang zaman. Kapan lagi kita bisa mengerjai Amerika di depan umum.

Pak Harto. Siapa bilang tak punya selera humor? Dialah The Smiling General, senyum tak pernah lepas dari wajahnya. Dialah The Joker asli. Tak pernah terlihat beda antara marah dan senang. Tersenyum tapi mematikan. Mengangguk, belum tentu setuju, menggeleng belum tentu berarti tidak.

Kenapa politiknya tinggi, karena itu dibutuhkan interpretator politik tangguh untuk memahami Pak Harto. Toh, masih ada narasi lucu dari Pak Harto. Ia menggunakan diksi gebug untuk lawan-lawan poliknya. Lucu sekaligus mematikan.

Habibie, pasti lucu juga. Paling tidak kalau ditirukan oleh Butet Kertaredjasa. Setidaknya Butet jadi banyak job karena menirukan gaya komunikasi lucu pak Habibie.

Megawati? Presiden terlucu yang pernah dipunyai Indonesia. Mega diam saja sudah lucu, apalagi bicara. Tapi lebih baik dia diam supaya kelucuan terjaga.

Presiden ketujuh SBY ini juga lucu. Dia bikin partai sendiri, jadi presiden sendiri, dan sekarang bingung sendiri karena partai lagi nyungsep. Bingung mau mewariskan partai kepada siapa. Biasanya anak berantem berebut warisan. Tapi baru kali ini ada anak berantem karena menolak warisan..

Gus Dur…ngakak pol. Sayang Gus Dur jadi presiden setelah kena stroke, begitu kata salah satu orang dekatnya. Andai tidak, maka akan dahsyatlah Indonesia karena Gus Dur menguasai betul diskursus politik luar negeri Bung Karno, dan akan menghidupkan kembali kepemimpinan non blok dunia ketiga ala Bung Karno

Di Amerika pun Presiden Clinton ngakak kena humor Gus Dur. Asyik kan, punya presiden cerdas dan lucu. Kalau “Humor Mati Ketawa ala Gus Dur” dibukukan (sudah ada sebagian) tebalnya bisa segede bantal.

Sebenarnya Ade Armando lucu juga ketika menggambarkan Anies Baswedan sebagai Joker. Sayang Ade tidak lucu dan tak punya sense of joke. Seharusnya narasinya terhadap Anies bukan “Gubernur Jahat” tapi “Gubernur Lucu”, pasti efek komunikasi visualnya akan beda, dan Fahira Idris tidak bisa melaporkan ke polisi.

Kali ini Anies Baswedan memang lucu sekali, masak anggaran lem Aibon sampai Rp 82 Miliar. Apakah itu keteledoran, pembusukan, atau apapun, tetap saja bikin ngakak (itu Aibon sapi apa Aibon ayam…)

Tapi, jangan lupa, Anies punya mental Jogja yang kokoh tidak gampang ambyar seperti Didi Kempot. Mental toughness itu juga yang memenangkan Anies melawan Ahok pada 2017. Mental toughness itu juga yang (mungkin) jadi modal kuatnya pada pilpres 2024 (colek Om Surya Paloh). **

Garda Pangan Manfaatkan Makanan Hotel Sejahterakan Masyarakat Kurang Mampu

Eva Bachtiar, koordinator Garda Pangan

SURABAYA (Swaranews) – Pendiri yang juga koordinator Yayasan Garda Pangan Eva Bachtiar berkeinginan dapat menampung menu makanan dari hotel yang masih layak dikonsumsi untuk dimanfaatkan kepada kalangan masyarakat kurang mampu yang memerlukan.

Menurut Eva, sejak Garda Pangan berdiri dua tahun lalu hingga kini telah menjalin kerjasama dengan beberapa perusahan yang bergerak dibidang jasa akomodasi perhotelan terkait pemanfaatan makanan berlebih layak dikonsumsi. “Awalnya yang bergerak hanya sekitar 30 tenaga inti dan beberapa Relawan tapi sekarang kami mempunyai sekitar 1500 relawan ,” ungkap Eva yang juga mengatakan makanan berlebih dari hotel yaitu penyediaan menu makanan yang tersisa dan laik dikonsumsi baik berupa menu berat maupun ringan seperti Roti. “Dengan jumlah relawan lebih dari seribu pendustribusian makanan kesasaran yang ditentukan tidak ada persoalan,” kata Eva yang menyebutkan sasaran operasional Garda pangan kini hampir menggapai seluruh wilayah Surabaya.

Tantangan Garda pangan menurut Eva, perlunya sarana yang memadai utamanya unit transportasi yang mampu mengatasi perkembangan apresiasi hotel terhadap aktifitas Garda Pangan.

“Selama ini memang masih teratasi dalam pengambilan makanan di hotel untuk dikemas guna dikirimkan kepada kalangan masyarakat yang membutuhkan tidak terlepas dari jasa angkutan on line namun kedepan perlu dukungan sarana semacam mobil box,” beber Eva yang mengungkapkan dalam upaya mendapatkan sarana mobil box pihaknya menggelar Charity Night 2019 10/11/2019 lalu.

“Kami berharap melalui Charity Night dapat mengumpulkan untuk membeli sarana mobil box yang memadai guna mengangkut makanan dari hotel yang masih dapat dikonsumsi,” kata Eva Bachtiar yang belakangan merasa kewalahan mengkontribusikan makanan dari hotel bagi keluarga kurang mampu. Kris Marijono

Pelukis Hamid Nabhan Selain Aktif Berpameran Juga Menerbitkan Buku

SURABAYA (Swaranews) – Sosok Hamid Nabhan tidak hanya dikenal sebagai pelukis bercorak naturalisme yang penuh inovasi namun juga aktif menerbitkan buku baik karya sendiri maupun orang lain.

Melalui Nabhan Galery, Hamid tidak pernah jenuh membantu meningkatkan apresiasi kalangan masyrakat baik terkait aktifitas pameran maupun penerbitan.

“Tulisan yang dituangkan dalam buku di era sekarang memang tidak sedashyat disalurkan lewat media On Line,” ungkap Hamid sembari mengingatkan media buku bersifat monumental. “Buku dapat disimpan dalam waktu lama dan dapat dibaca oleh anak cucu ,”tandasnya penuh semangat. Latar belakang minat Hamid yang menggelora menerbitkan buku seni budaya, selain ingin mendokumentasi peristiwa kesenian dalam bentuk buku juga merupakan upaya memotivasi seniman muda berkarya secara optimal. “Sebagai contoh buku kecil tentang Sketsa IP.Ma’ruf sebenarnya memiliki arti penting dalam memberikan penghargaan kepada Pak IP Ma’ruf yang eksis dalam kreasi sketsa yang semakin hari semakin langka,” ungkap Hamid yang berkeinginan mendokumentasi seniman besar Indonesia dalam karya buku. Dalam menerbitkan buku seni budaya Hamid memiliki kesan tersendiri ketika menerbitkan buku Akademi Seni Rupa Surabaya dalam Sejarah dan Dinamika.

“Saya sebagai penyusun harus bekerja ekstra karena harus mengumpulkan materi baik data Perpus maupun mendapatkan dari pelaku atau peserta dan pengajar Aksera yang masih segar buku yang saya terbitkan benar-benar ilmiah dan valid sehingga tidak ada kesan rekayasa,” jelas Hamid yang juga menerbitkan buku mengenai Sketser bereputasi nasional Ip.Maruf.

“Melalui buku Aksera saya berharap agar generasi muda mengetahui di era 70 an di Surabaya sudah ada lembaga pelatihan dan pembinaan seni rupa yang mumpuni sehingga tumbuh motivasi untuk berkarya untuk berkarya secara gemilang,” tambahnya mantap.

Hamid Nabhan merupakan salah seorang pelukis Surabaya yang banyak membidik obyek tentang lingkungan. Kecintaannya mengenai lingkungan tidak hanya diekpresikan melalui karya -karyanya dalam media acrilyc dan water color melainkan juga diungkapkan dalam puisi karyanya yang termuat dalam bukunya “The Nature Harmoni In Color” (2011) dengan judul “Hijau Bumi Damai Dihati”
Tanamlah pohon
Dimuka bumi
Sebarkan benih
Jadikanlah hijau
Rumah burung bernyanyi.

Tanamkan pohon
Didalam hati
Sirami kasih
Agar tumbuh
Jiwa tentram nenaungi

Peliharalah pohon
Dibumi juga dihati
Agar damai
Dan teduh
Negeri kita ini. Kris Marijono

Karya Perupa Beni Dewo Dalam Gelar Pameran Monna Minkum Nusantara Di Galery AJBS Surabaya

SURABAYA (Swaranews) –
Puluhan lukisan, intalasi dan modern art tampil dalam balutan warna dan rupa mengungkapkan sebuah tajuk Nusantara yang indah pada gelar pameran Minna Minkum Nusantara di Galery AJBS Surabaya, 9-17/11/2019.

Menurut pengamat budaya Faisal Kamandobat yang memberikan pengantar pada pembukaan pameran prakarsa Talenta Organizer, Minna Minkum Nusantara itu berasal dari frasa judul lagu Leo Kristi. Minna dari bahasa Arab artinya dari kami, Minkum dari kalian,” ungkap Faisal yang menambahkan judul tersebut menjelaskan, Nusantara merupakan sebuah peradaban milik kita bersama bukan milik seorang dan kelompok. Dari jumlah 46 karya dari 23 seniman, satu diantaranya Beni Dewo dari Sidoarjo tidak hanya menghadirkan karya lukis diatas media kanvas namun juga instalasi berjudul Hero Garden.

“Karya Hero Garden yang memiliki makna kebun Pahlawan ini. Saya buat bersama Albert Wenas,” ujarnya
sambil memandu para pengunjung pameran lainnya.

Beni yang beberapa kali pameran tunggal dan pameran bersama ini juga mengetengahkan kreasi lukisan bertajuk “Agraris” yang dikemas dalam frame non proporsional secara apik dan unik.

“Karya Agraris ini saya persiapkan khusus untuk pameran minna minkum dengan bidikan obyek potensi lingkungan alam,” tandas Benni yang eksis dengan karya -karya bertemakan alam lingkungan termasuk flora-fauna. “Saya dulu pernah berpameran tunggal secara spesifik mengangkat kehidupan Semut,” kenang Beni yang pernah menghadirkan karya instalasi bertajuk petani. “Saya bersyukur dapat berpameran dengan pelukis seluruh Nusantara dalam Minna Minkum,” ujarnya merendah. Kris Marijono

Upacara Peringatan Hari Pahlawan Universitas PGRI Adi Buana (Unipa) Surabaya Momen Berpamitan Rektor Periode 2015-2019.

Marianus Soebandowo, Setijono, Joko AW (dari kiri ke kanan)

SURABAYA (Swaranews) – Rektor Universitas PGRI Adi Buana (Unipa) Surabaya Drs.Joko Adi Waluyo, ST, MM, DBA bertindak sebagai Inspektur Upacara dalam Peringatan Hari Pahlawan 2019 di Lapangan Olahraga Kampus Menanggal Surabaya, 10/11/2019.
Dalam upacara itu Irup Rektor Unipa membacakan sambutan tertulis Menteri Sosial RI yang mengajak kalangan masyarakat menghargai jasa para pahlawan. Melalui tema “Aku Pahlawan Masa Kini” Mensos mengharapkan generasi muda bangkit dengan semangat inovasi. Untuk menjadi pahlawan di era sekarang dapat ditorehkan melalui pencapaian prestasi di dunia internasional malalui bidangnya masing-masing.

Pada kesempatan tersebut Rektor Joko AW, panggilan akrabnya berpamitan dari jabatannya sebagai rektor sekaligus mengenalkan rektor baru Unipa DR. Marianus Subandowo, MS yang sebelumnya menjabat Kepala Lembaga Perencanaan dan Pengembangan Intitusi Unipa.

“Saya akan melaksanakan tugas sebagai Ketua Pengurus Besar PGRI di Jakarta,” kata Joko AW sambil berpesan pentingnya mempertahankan dan meningkatkan prestasi Unipa yang kini menempati peringkat 7 PTS terbaik LLDIKTI VII dan rangking 56 Kampus PTN-PTS kampus berbasis kinerja pada PKM.

“Prestasi tersebut sebagai hasil kerja keras dan komitmen bersama. Kedepan harus ditingkatkan dan lebih baik,” tandas Joko AW yang menghadirkan budaya muatan lokal pada upacara Hari Pahlawan.

“Teknologi tetap harus kita kuasai tapi jangan meninggalkan
budaya warisan leluhur bangsa,”imbuhnya penuh semangat. Kris Mariyono

Brawijaya Season II, Kodim dan Pemda Lamongan Pacu Ketrampilan Baris-Berbaris Pelajar

LAMONGAN  (Swaranews) –  Sebanyak 39 tim yang terdiri dari 25 tim pelajar SMA dan 14 tim pelajar SMP, adu ketrampilan baris-berbaris Brawijaya Season II yang digelar oleh pihak Kodim dan Pemda Lamongan.
Bukan hanya peserta dari Lamongan saja, ternyata, perlombaan tersebut juga turut diikuti oleh peserta dari luar Kabupaten Lamongan, diantaranya ialah Kabupaten Tuban, dan Gresik.

Dandim 0812/Lamongan, Letkol Inf Sidik Wiyono mengatakan jika perlombaan itu, sengaja digelar dalam rangka memberdayakan wilayah pertahanan melalui kegiatan pembinaan teritorial, salah satunya melalui perlombaan PBB saat ini.
“Terutama untuk memantapkan ruang alat dan kondisi juang yang tangguh,” jelas Dandim. Senin, 18 Nopember 2019.

Bukan hanya apresiasi dari para Guru saja, namun, kegiatan itu juga mendapat respon positif dari Bupati Lamongan, H. Fadeli. Ia mengungkapkan jika perlombaan itu, dinilai mampu meningkatkan kedisiplinan dan kekompakkan. “Sangat bagus untuk membentuk karakter pelajar,” bebernya.  (sub)

Dikelola Dengan Pola Good Farming Practices, Khofifah : Jangan Cemas Konsumsi Telur Jatim

MALANG (Swaranews) – Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa mengimbau masyarakat tidak perlu cemas dan khawatir mengonsumsi telur yang diproduksi peternak ayam petelur Jatim. Hal ini karena, telur yang beredar di masyarakat adalah telur yang sehat dan diproduksi dengan menerapkan pola good farming practices.

Good farming practices sendiri adalah tatalaksana peternakan yang meliputi segala aktivitas teknis dan higinis dalam hal pemeliharaan sehari-hari, cara dan sistem pemberian pakan, sanitasi, serta pencegahan dan pengobatan penyakit.

“Sebanyak 96,3 persen telur di Jawa Timur dihasilkan dari ayam ras petelur yang sudah menerapkan good farming practices, dan sisanya  3,7 persen telur dari ayam buras/kampung yang belum dikandangkan secara permanen, diantaranya ditemukan di  daerah Tropodo. Untuk itu, masyarakat jangan khawatir karena telur dari Jatim sehat dan tidak mengandung racun,” terang Khofifah saat melakukan kunjungan ke Kelompok Telur Intan di Kecamatan Tumpang, Malang, Minggu (17/11/2019).

Khofifah mengungkapkan, imbauan ini disampaikan sehubungan dengan adanya rilis hasil penelitian jaringan kesehatan global (IPEN). Yang menyebutkan bahwa ayam buras/kampung yang dipelihara secara umbaran dan mencari makan di tumpukan plastik di daerah Tropodo, Sidoarjo, memiliki tingkat kontaminasi dioksin terparah kedua sedunia.

Untuk memastikan bahwa peternakan rakyat sudah menerapkan good farming practices maka gubernur khofifah didampingi dinas peternakan provinsi Jatim, bupati Malang serta dekan fakultas peternakan Universitas Brawijaya melakukan kunjungan langsung ke daerah peternakan rakyat ayam petelur di Plumpang – Malang.

Kunjungan tersebut difokuskan di peternakan milik H Kholik yang memiliki populasi sekitar 300 ribu ekor ayam, dengan produksi telur sekitar 14 ton/hari atau setara 210 ribu butir/hari. Dimana, di peternakan ini quality controlnya sangat terjaga. Bahkan, telur-telur yang dipasarkan peternakan ini hanya yang Grade A atau kualitas terbaik.

“Telur-telur yang dipasarkan peternakan ini hanya yang Grade A dengan kualitas terbaik. Sedangkan yang Grade B tidak dipasarkan. Untuk itu, telur-telur ini sangat aman dikonsumsi masyarakat,” kata Khofifah.

Orang nomor satu di Jatim ini menambahkan, pemeliharaan unggas dengan penerapan good farming practices terhadap 92,5 persen unggas penghasil telur di Jatim telah menggunakan pakan yang memiliki Nomor Pendaftaran Pakan (NPP). Terlebih lagi, produksi telur unggas di Jatim pada tahun 2018 mencapai 543,56 ribu Ton atau setara 8,2 milyar butir telur. Serta berkontribusi sebesar 29 persen terhadap nasional atau peringkat 1 nasional.

“Jatim telah surplus telur unggas mencapai 2,8 milyar butir telur, dan telah mampu mensuplai provinsi lain di Indonesia,” urainya.

Untuk menjamin kualitas dan mutu telur di Jatim, Pemprov Jatim melalui Dinas Peternakan telah melakukan berbagai upaya. Salah satunya dengan sertifikasi kompartemen bebas penyakit flu burung di seluruh breeding farm yang memproduksi bibit untuk ayam petelur dan pedaging final.

Selain itu, dengan melakukan uji yang dilanjutkan sertifikasi bebas penyakit Pullorum untuk induk ayam yang menghasilkan bibit ayam umur sehari yang akan diedarkan ke masyarakat. Serta, melakukan pengambilan dan pengujian sampel telur dan daging unggas oleh Laboratorium Kesehatan Hewan secara periodik.

Bagi para peternak ayam petelur, Khofifah juga berpesan, agar tidak perlu resah karena telur yang diproduksi adalah telur yang berkualitas, di bawah pengawasan Dinas Peternakan Provinsi maupun kabupaten/kota. Sehingga, akan tetap dibutuhkan oleh konsumen.

“Para peternak ayam telur jangan resah, karena telur yang dihasilkan berkualitas dan tidak mengandung racun. Oleh sebab itu, konsumen juga masih sangat membutuhkannya,” terangnya.

Khofifah meminta, bagi masyarakat yang memihara ayam kampung dengan cara dilepas atau diumbar untuk segera beralih pemeliharaan unggas dengan skala bisnis dan dikandangkan. “Bagi masyarakat yang memelihara ayam kampung dengan cara diumbar, harap segera beralih dengan mengkandangkan ayam peliharaannya. Hal ini penting dilakukan untuk menjamin telur yang dihasilkan,” tuturnya.

Secara khusus untuk Pemkab Sidoarjo, pihaknya berharap agar segera melakukan koordinasi dengan camat,lurah dan kades setempat. Utamanya untuk melakukan pembinaan kepada peternak ayam petelur agar melakukan budidaya secara higienis.

“Saya harap Pemkab Sidoarjo segera koordinasi dengan seluruh jajarannya, agar bisa melakukan pembinaan untuk budidaya higenis maupun kandangisasi. Hal ini penting, karena tugas pemerintah adalah memberikan solusi terbaik bagi masyarakat termasuk peternak,” pungkas Khofifah.

Dekan UB Tegaskan Hasil Produksi Telur Malang Aman dari Kontaminan

Sementara itu, Dekan Fakultas Peternakan Universitas Brawijaya Malang, Prof Suyadi juga menyampaikan bahwa telur-telur yang dihasilkan di peternakan seperti milik H Kholik aman untuk dikonsumsi masyarakat. Apalagi, telur-telur di sini diproduksi dengan sistem industri yang mementingkan input, proses dan output.

“Ketika kita lihat di sini tidak ditemukan adanya proses pembakaran sampah plastik seperti yang ditemukan di Tropodo. Ditambah lagi karena disini menggunakan pakan komersial, sehingga terjamin mutu dan kualitasnya,” jelas Prof. Suyadi.

Produksi telur ayam di peternakan ayam untuk komersial selalu menggunakan sistem industri. Input pakan, air minum, dan juga udara sangat penting sebagai faktor output produksi telur.

“Teknik produksi antara ayam kampung dengan ayam komersial beda. Untuk ayam petelor komersial apa yang dihasilkan ayam adalah akumulasi yang masuk tubuh, pakan, air, dan udara. Kita lihat disini, tidak ada pembakaran signifikan,” urai Prof Suyadi.

“Pakan ayam petelor komersial selalu menjaga  mutu. Dan bahan-bahan yang digunakan mulai air minum, pakan ayam sangat dijaga hati-hati karena ayam sangat peka. Maka saya yakin peternak di sini juga tidak berani merubah kompoisisi air minum, vitamin dan pakan karena akan sensitif pada hasil telur,” lanjutnya.

Sedangkan untuk yang dirilis IPEN terkait temuan kasus di Tropodo adalah ayam kampung yang hasil telurnya non komersil. Yang di sana lokasinya dekat dengan pembakaran sampah.

Senyawa dioksin yang ditemukan di sana adalah senyawa yang merupakan racun karena sulit dicerna dalam metabolisme tubuh. Biasanya senyawa tersebut terkontaminasi dari hasil pembakaran yang tidak sempurna dari limbah plastik.

“Yang dari pembakaran itu, asapnya menguap, terhirup dan terakumulasi dalam tubuh. Nah untuk ayam komersial beda. Yang dalam tubuh adalah akumulasi yang masuk tubuh, lewat pakan, air, dan udara. Dari situ kami berikan informasi kondisi peternakan ayam di sini ini terpisah dari kontaminan. Maka hasil poduksi telurnya aman,” pungkasnya. (Msa)

Bukan Hanya Trend, Wagub Emil Minta Desa Wisata Harus Sustainable

SURABAYA (Swaranews) – Wakil Gubernur Jatim Emil Elestianto Dardak menghimbau agar keberadaan Desa Wisata tidak hanya sebagai trend, tapi harus sustainable atau berkelanjutan. Dirinya mengajak para akademis muda di bidang pariwisata untuk bersama pemerintah mewujudkan desa wisata yang lebih kreatif dan inovatif.

“Kita menghindari agar desa wisata hanya menjadi trend sesaat atau bahkan jargon semata,” tutur Wagub Emil dalam sambutannya di ruang Kahuripan Lantai 3 Gedung Rektorat Kampus C Universitas Airlangga Surabaya, Sabtu (16/11/2019) pagi.

Emil menjelaskan, sustainable yang harus ditekankan tak hanya soal pariwisatanya saja. Namun juga harus menjaga sustainable atau keberlangsungan ekosistem alam di sekitarnya. Pasalnya, banyak desa wisata tersebut yang mengandalkan alam sebagai sorotan utama. Sehingga menjaga ekosistem alam patutnya tidak dikesampingkan.

Selain faktor alam, maka faktor manusia menjadi yang kedua penentu kelanjutan desa wisata. Perlu ada komunikasi yang baik antara warga desa, Pemerintah Kabupaten/Kota hingga Pemerintah Provinsi. Menurutnya, keberadaan Desa Wisata utamanya diharapkan bisa menjadi roda penggerak perekonomian wilayah desa itu sendiri.

“Desa Wisata akan mengubah paradigma potensi sebuah desa,” imbuhnya.

Lebih lanjut, meng-upgrade sebuah desa menjadi desa wisata tidak semata-mata mengganti sebutan saja, namun diperlukan pemetaan merata mengingat setiap desa memiliki potensi tersendiri.

“Ada yang memang cocok untuk kawasan agrowisata, wisata pantai, atau bahkan yang tengah digandrungi yaitu wisata kulinernya,”

Dihadapan para akademisi muda pariwisata, dirinya berharap agar muncul ide dan inovasi terbaru khususnya tempat wisata di Jawa Timur. Seiring program Pemprov Jatim untuk meningkatkan Kawasan Lingkar Wilis, ia mengajak akademisi muda tersebut bersama dan bahu membahu meningkatkan bahkan membuat kawasan wisata baru di Jawa Timur yang bisa bertahan lama dan memberi dampak signifikan bagi masyarakat di sekitarnya.

“Yang terpenting adalah terbangun sebuah sinergi antar desa, seperti halnya di kawasan Lingkar Wilis, desa itu tidak berdiri sendiri, tapi satu paket,” jelas Wagub Emil yang hadir dalam batik warna biru.

Dengan terjalinnya sebuah koneksi antar wilayah, diharap bisa menjaga kelanjutan desa wisata, serta menarik wisatawan baik dari dalam maupun luar daerah. (Msa)

Ini Tujuan Pemprov Jatim Gagas Triangle KEK Singosari-BBIB-UB Forest

MALANG (Swaranews) – Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa menggagas konsep kerjasama strategis tiangle antara KEK Singhasari, Balai Besar Inseminasi Buatan (BBIB) Singosari, dan Universitas Brawijaya (UB) Forest, guna pengembangan sektor pariwisata puspa dan satwa  serta agropolitan.

Grand design-nya, Khofifah ingin mengembangkan penangkaran dan budidaya hewan langka dan dilindungi agar potensi satwa dilindungi di Indonesia tidak terus menurun tetapi sebaliknya justru jumlahnya bertambah.

Di antara satwa langka yang ingin dikembangkan jika segala proses perizinanya dapat disetujui adalah penangkaran sekaligus pembudidayaan  burung Cenderawasih dan juga burung Kakatua.

Konsep gagasan tersebut disampaikan Khofifah saat peringatan Hari Cinta Puspa dan Satwa Nasional (HCPSN) 2019 di UB Forest di Dusun Sumbersari, Desa Tawang Argo, Kecamatan Karangploso, Kabupaten Malang, Minggu (17/11/2019).

Dalam kesempatan itu, Khofifah juga melepasliarkan sebanyak 7 ekor rusa dan 5 ekor kijang di lingkungan penangkaran UB Forest.

“UB Forest ini luasnya lebih dari 500 hektar. Sekitar tiga kilo meter ada KEK Singhasari. Serta dekat juga dengan BBIB Singosari milik Kementan. Ini kita ingin jadikan titik-titik sinergitas. Antara KEK Singhasari yang punya kluster wisata dan UB Forest yang punya pengembangan wisata hutan, dan juga BBIB yang punya tempat penyimpanan semen beku,” kata Khofifah.

Khofifah ingin ada penangkaran yang lebih luas. Terutama untuk satwa langka yang statusnya dilindungi, agar jumlahnya terus bertambah. Seperti  burung Cenderawasih dan burung Kakatua.

Untuk itu, Pemprov Jatim akan kordinasi triangle BBIB-UB-KEK untuk mengurus perizinan dan berbagai persyaratan ke pemerintah pusat mengingat role model seperti ini belum ditemukan di Indonesia.

Dengan harapan, pemerintah pusat bisa memberikan izin budidaya burung Cenderawasih dan Kakatua di Jawa Timur selanjutnya mendapatkan izin untuk memberikan sertifikasi burung hasil budi daya tersebut secara legal dapat di jual sehingga secara ekonomi dapat ditingkatkan dan secara populasi juga makin bertambah.

“Secara scientific saya telah diskusi dengan rektor UB sekaligus Dekan Fakultas Peternakan UB yang telah melakukan berbagai riset tentang pengembangbiakan varian burung,” ujarnya.

Lantaran sistem yang digunakan adalah dengan sistem penangkaran dan budidaya, dipastikan tidak akan mengganggu habita hewan tersebut bahkan sebaliknya akan mengembang biakkan.

“Bahkan ini akan jadi sumber ekonomi baru. Karena jika ditangkar, dan dikembang biakkan serta disertifikasi maka secara regulasi bagi mereka yang mau memiliki hewan tersebut keabsahannya terjamin karena sah cara mendapatkannya,” kata Khofifah.

Teknisnya, Khofifah menjelaskan, semen beku untuk penangkaran bisa dititipkan ke Balai Besar Inseminasi Buatan (BBIB) Singosari. Untuk penelitian dan pengembangan bisa dilakukan oleh para dosen dan juga pihak dari UB Forest.

Sinergi ini, dikatakan mantan Menteri Sosial RI tersebut, sangat strategis. Khofifah bahkan menyebutnya adalah sinergi triangle lantaran juga jarak antar lokasi tiga instansi ini tidak terpaut jauh.

“Maka kita akan godok dan siapkan tim adhoc untuk triangle ini. Sementara ini kita telah membahas dengan Rektor UB dan Direktur UB Forest, selanjutnya kita perluas dengan BBIB dsn KEK,” ucap Khofifah.

Pihaknya optimistis penangkaran dan budidaya satwa langka khususnya Cenderawasih dan juga Kakatua selain melestarikan keanekaragaman hayati juga akan mendatangkan nilai ekonomi yang tinggi.

“Karena sekarang ini banyak orang cari burung Cenderawasih tapi malah di negara lain karena di negara tersebut di tangkar, di budidayakan dan dijual secara legal.  Kenapa nggak di Indonesia kita kembangkan, kita budidayakan,” tegasnya. (Msa)

Pemprov Jatim Komitmen Berantas Tambang Ilegal

SURABAYA (Swaranews) – Pemprov Jatim terus berkomitmen memberantas keberadaan tambang-tambang ilegal di daerah. Pasalnya, selain merusak lingkungan alam dan sekitarnya, keberadaan tambang ilegal juga membahayakan pelaku tambang itu sendiri.

Untuk itu, salah satu langkah yang dilakukan Pemprov Jatim yakni dengan mensyaratkan beberapa proyek infrastruktur harus menggunakan sumber material yang berasal dari proyek tambang legal. Hal ini menjadi salah satu upaya dalam mencegah kegiatan tambang ilegal di tengah masyarakat.

“Keberadaan tambang galian adalah untuk mensupport pembangunan yakni dengan menyediakan material bangunan seperti pasir dan batu. Sekarang bagaimana menyeimbangkan dengan alam dan keberlanjutan dengan pembangunan yakni kegiatan tambang yang dilakukan harus legal,” kata Wakil Gubernur Jatim Emil Elestianto Dardak di Hotel Fairfield by Marriot Surabaya, Sabtu (16/11/2019).

Emil mengatakan, pembangunan infrastruktur yang terus dilakukan Pemprov Jatim seperti bendungan untuk mendukung irigasi pertanian, pelebaran jalan sampai dengan pembangunan pelabuhan, tentunya membutuhkan material pendukung yang jumlahnya tidak sedikit. Dengan kekayaan sumber daya alam yang dimiliki, tentunya material pendukung tersebut bisa terpenuhi dari dalam daerah Jatim sendiri.

“Peluang inilah yang bisa dimanfaatkan oleh para pelaku usaha tambang legal di Jatim untuk bisa mensupport dan berpartisipasi dalam proyek pembangunan di Jatim sendiri,” katanya.

Menurutnya, hingga tahun 2019, sudah lebih dari 500 Izin Usaha Pertambangan (IUP) operasi produksi yang telah diterbitkan di Jatim. Hal ini menjadi tantangan tersendiri bagi semua pihak baik pemerintah, pelaku tambang legal, serta masyarakat agar kegiatan pertambangan ini dapat memberikan manfaat bagi semua pihak.

“Justru jangan sampai menimbulkan permasalahan sebagaimana konsep natural resources: blessed or cursed? Karena bila dikelola dengan baik, sumber daya alam akan menjadi berkah bagi semua, namun apabila salah kelola maka bisa menjadi petaka,” katanya.

Untuk itu, dirinya sangat mengapresiasi pertemuan ini sebagai bagian menyeimbangkan agar pembangunan yang dilakukan pemerintah berjalan lancar, pengusaha atau pelaku tambang legal untung sewajarnya, dan masyarakat mendapat manfaatnya.

“Kita harus balance di tengah. Maka forum seperti ini sangat penting. Membangun sinergi dari hulu hingga hilir. Kasihan yang legal, maka kita komitmen untuk sama-sama berjuang memerangi tambang ilegal,” tegasnya.

Di akhir, Emil mengapresiasi bagi para pengusaha yang telah memegang IUP legal. Ia pun mengajak semua pihak untuk berjuang bersama-sama membangun iklim sektor pertambangan yang kondusif sehingga dapat memberikan manfaat lebih baik bagi semua pihak ke depannya. (Msa)