Beranda blog Halaman 90

Kebakaran Besar di Kapasan Dalam Surabaya

SURABAYA (Swaranews) – 17 rumah yang terbakar di Jalan Kapasan Dalam II dan III, Kecamatan Simokerto, Kelurahan Kapasan, Surabaya, Sabtu (8/12/2018) dini hari, tergolong dalam kejadian kebakaran besar.
Kabid Operasional PMK Kota Surabaya, Bambang Vistiadi, membenarkan hal tersebut.
Menurut penelusuran di lokasi seusai kejadian kebakaran, warga membenarkan api merambat begitu cepat.
Saat kejadian kebakaran, warga terlambat menghubungi telepon darurat 112.
Sehingga petugas pemadam kebakaran (damkar) datang selang beberapa menit terjadi kebakaran, dan beberapa rumah sudah habis terbakar.
Keterlambatan ini karena warga saat itu panik dan mencoba memadamkan api secara gotong royong.
Penyebaran api saat kebakaran di kawasan Kapasan itu cukup cepat.
Menurut Bambang Vistiadi, dari keterangan warga, api merambat cepat melahap 6 rumah, dalam waktu 2 menit saja.
“Dia sampaikan, setelah 2 menit kebakaran itu enam rumah terbakar. Saat PMK datang, rumah ke 7 baru saja tersulut api yang merambat dari kabel listrik. Itu hanya yang dia lihat, belum yang bagian belakang titik awal kebakaran,” kata Bambang, Senin (10/12/2018).


Warga juga menyampaikan Damkar datang cepat, namun api yang menyulut lebih cepat.
Bambang Vistiadi menjelaskan, lokasi kebakaran mayoritas dipenuhi bangunan tua yang banyak menggunakan material kayu.
Hal ini menyebabkan api cepat menyebar dan menghabiskan rumah dalam waktu singkat, apalagi desain pemukiman rapat.
“Anginnya juga cukup kencang, faktor radiasi panas dan jilatan api juga berpengaruh termasuk perambatan lewat kabel listrik. Sementara kabel listrik di sana semrawut sekali,” jelasnya.
Semrawutnya kabel PJU juga menyebabkan tidak dimungkinkannya penggunaan Bronto Skylift 104 untuk menyiram objek kebakaran dari atas bangunan.
Bambang Vistiadi mengaku kebakaran di Jalan Kapasan dalam II dan III menjadi satu di antara kebakaran terbesar sepanjang tahun 2018, selain kebakaran di gudang mainan Margomulyo Indah.
Bambang mengaku, biasanya sepadat apapun lokasi kebakaran, Damkar biasanya masih bisa meminimalisir penyebaran kebakaran.
“Biarpun gang sempit, biasanya kita bisa meminimalisir paling 2 atau 3 rumah,” ungkapnya.
Akibat kebakaran itu, 29 Kepala Keluarga (KK), dan 73 jiwa harus kehilangan rumah dan harta benda.
Tidak ada korban jiwa dalam peristiwa tersebut.
Saat ini, mereka tinggal di Posko Terpadu Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya dengan fasilitas lengkap dan bantuan makanan hingga 7 hari sejak kejadian.
Sekembalinya dari kota Guangzhou, China, Wali Kota Surabaya, Tri Rismaharini, langsung meninjau lokasi kebakaran di Jalan Kapasan Dalam II dan III, Kelurahan Kapasan, Kecamatan Simokerto, Surabaya, Minggu (9/12/2018) pagi.
Risma ingin memastikan para korban sudah tertangani dengan baik. Peristiwa kebakaran itu terjadi pada Sabtu (8/12/2018) malam dan menghanguskan 17 rumah.
Setibanya di lokasi kebakaran, Risma berkeliling meninjau rumah-rumah korban kebakaran dan mengunjungi posko terpadu yang berada di Kantor Kelurahan Kapasan. Risma kemudian memberi arahan kepada Ketua RW setempat, agar ke depan tidak lagi memasang kabel melintang di tengah jalan. Sebab, dari hasil laporan petugas di lapangan, pada saat kejadian, mobil pemadam kebakaran (PMK) kesulitan untuk masuk karena terhalang kabel lampu yang melintang. Tidak hanya itu, kendala lain yang dihadapi adalah banyaknya portal dan mobil warga yang terparkir di badan jalan.
“Jadi saya minta sekali lagi, nanti dibersihkan semua kabel yang di tengah (jalan) itu. Saya minta dibersihkan semua di situ. Nanti saya ganti PJU-nya. Yang kedua jalan utama itu harus bersih Pak, supaya ndak ganggu kalau ada itu,” imbau Risma kepada Ketua RW setempat.
Risma menegaskan, Pemkot Surabaya akan membantu meringankan beban korban kebakaran. Selama tujuh hari ke depan, pihaknya telah membuka Posko Terpadu untuk tempat tinggal sementara para korban. Risma juga memastikan bahwa para korban mendapat bantuan makanan selama tiga kali sehari
“Saya akan bantu, minimal akan bantu meringankan, tujuh hari akan kita rawat, makanannya dari kita semua. Nanti juga kita bantu pakaian,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala Bagian Humas Pemkot Surabaya M. Fikser menyampaikan, jumlah rumah yang terbakar mencapai 17. Sementara korban mencapai 29 Kepala Keluarga (KK), dan 73 jiwa. Saat ini, warga yang rumahnya terbakar, mengungsi ke Posko Terpadu yang didirikan Pemkot Surabaya.
“Untuk sementara, korban kebakaran saat ini tinggal di Posko Terpadu, beberapa dari mereka juga ada yang memilih untuk tinggal di rumah saudaranya,” kata dia.
Fikser mengatakan di Posko Terpadu, Pemkot Surabaya telah menyiapkan berbagai keperluan untuk para korban. Seperti kasur, bantal, selimut, peralatan mandi, obat-obatan, pakaian layak dan makanan. “Kami juga telah menyiapkan dokter untuk pemeriksaan kesehatan mereka dan psikolog untuk pendampingan,” ujarnya. Setelah tujuh hari ke depan, Fikser mengaku akan kembali mengkomunikasikan terkait tempat tinggal para korban. “Apakah mereka masih ingin tinggal di Posko Terpadu atau seperti apa,” sambung Fikser. sab

Komisi D Minta Masyarakat Tak Jauhi Penderita HIV/Aids

Reni Astuti

SURABAYA (Swaranews) – Dalam rangka Peringatan Hari AIDS Sedunia 2018 Legislator yang ada di Komissi D Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Surabaya turut meemberikan perhatian kepada penderita penyakit HIV/Aids.
Seperti yang diungkapkan oleh Anggota Komisi D DPRD Kota Surabaya, Reni Astuti bahwa pandangan negatif masyarakat kepada para penderita AIDS hingga saat ini masih sangat kuat.
“Padahal HIV bukan virus yang mudah menular, semisal influenza, yang memanfaatkan udara bebas,” ungkapnya, minggu lalu.
Oleh karena iti, pada momentum Hari AIDS Sedunia ini, Reni Astuti meminta agar masyarakat Indonesia dan khususnya Surabaya tak lagi menjauhi para penderita HIV/AIDS.
“Semangat jauhi penyakitnya, bukan penderitanya harus semakin menguat di tengah masyarakat. Para ODHA (Orang Dengan HIV/AIDS) membutuhkan support orang-orang terdekat mereka,” papar Reni.
Legislator PKS ini pun menjamin jika Pemkot Surabaya telah memiliki langkah strategis untuk menanggulangi HIV/AIDS. Bahkan, sudah ada Perda untuk hal tersebut.
“Perdanya adalah Perda Kota Surabaya no 4 tahun 2013 tentang Penanggulangan HIV/AIDS. Pada Perda itu, di pasal 7 terdapat langkah upaya penanggulangan AIDS. Ada empat langkah yakni promosi, pencegahan, pengobatan, perawatan, dan dukungan,” urainya.
Reni menghimbau agar masyarakat segera menginformasikan kepada Dinas Kesehatan setempat jika di wilayahnya terdapat ODHA. Karenaa pemerintah telah menyiapkaan segalanya.
“Begitu juga jika ada ODHA yang baru terdeteksi, harap segera melaporkan kepada Dinas Kesehatan. ARV gratis pun akan diberikan agar virus itu tidak semakin menyebar,” terangnya (Adv/mar)

Peringati Hari Juang Kartika dan HUT Kodam Brawijaya, Pangdam: TNI-AD Mengabdi dan Membangun Bersama Rakyat

SURABAYA (Swaranews) – TNI-AD, khususnya Kodam V/Brawijaya berkomitmen untuk terus bersinergi dengan masyarakat, hingga instansi terkait dalam upaya meningkatkan pembangunan di Jawa Timur.
Hal itu, diungkapkan oleh Pangdam V/Brawijaya, Mayjen TNI Arif Rahman, M. A, usai memimpin berlangsungnya upacara peringatan Hari Juang Kartika (HJK) ke-73 yang dibalut dengan peringatan HUT Kodam V/Brawijaya ke-70 di lapangan Makodam V/Brawijaya, Kota Surabaya. Sabtu, 15 Desember 2018, pagi.

“Dalam rangka Hari Juang Kartika ini, TNI melaksanakan kegiatan-kegiatan sosial di Jawa Timur. Terakhir kemarin, Kodam mengunjungi lokasi pasca gempa di Kepulauan Sapudi,” ungkap Pangdam.

Kunjungannya ke Pulau Sapudi, kata Pangdam, bertujuan untuk memastikan jika seluruh pembangunan di pulau tersebut berjalan dengan lancar, dan sesuai dengan rencana.

“Mudah-mudahan bulan ini sudah terselesaikan. Sehingga, nantinya masyarakat yang terdampak bencana di Pulau Sapudi, bisa kembali ke rumahnya masing-masing,” jelas Mayjen Arif. “Kegiatan sosial itu kita lakukan, sesuai dengan tema yang kita usung saat ini, TNI-AD mengabdi dan membangun bersama rakyat. Sebab, TNI lahir dari rakyat, dan berjuang untuk rakyat,” imbuh Pangdam.

Sementara itu, ditambahkan Gubernur Jawa Timur, Drs, H. Soekarwo, peringatan Hari Juang Kartika yang digelar di lapangan Makodam saat ini, memiliki arti yang sangat penting.

Peringatan Hari Juang Kartika, kata pria yang akrab disapa Pakde ini, menceritakan tentang perjuangan Jenderal Besar Panglima Soedirman kala itu, ketika berjuang bersama rakyat guna mempertahankan keutuhan dan kedaulatan NKRI.

“Terutama, pesan-pesan dari Panglima Soedirman. Beliau selalu di tengah-tengah rakyat. Menyelami dan berjuang demi rakyat,” ungkap Gubernur Jawa Timur ini.
Tak hanya itu saja, usai berlangsungnya prosesi upacara peringatan Hari Juang Kartika dan HUT Kodam V/Brawijaya, masyarakat yang hadir di lapangan Makodam, juga disuguhi dengan adanya beberapa hiburan.

Selain tarian khas Banyuwangi, warga yang sudah berkumpul di lapangan Makodam, juga dihibur dengan adanya Marching Band yang ditampilkan oleh personel gabungan dari Yonif Raider 500/Sikatan dan Batalyon Arhanudse-8/Sriti, sekaligus sosio drama perjuangan Jenderal Soedirman bersama masyarakat Ambarawa yang kala itu berhasil mengusir keberadaan Kolonial Belanda yang berafiliasi di Kecamatan Ambarawa, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah.

Hingga saat ini, peristiwa yang dikenal dengan sebutan Palagan Ambarawa tersebut, telah berhasil menorehkan tinta emas dalam perjuangan bangsa Indonesia. Terlebih, kesemestaan perjuangan kemerdekaan yang melibatkan para pemuda, serta masyarakat Ambarawa saat melawan Belanda. (mar)

Damkar Kota Surabaya Simulasi Kebakaran Di Lokasi Padat Penduduk

SURABAYA (Swaranews) – Dinas Kebakaran (Damkar) Kota Surabaya menggelar simulasi kejadian kebakaran di perkampung padat penduduk yang letaknya berada di tepi jalan besar menggunakan mobil damkar jenis bronto 55 dan bronto 104.

Plt Dinas Kebakaran Kota Surabaya Irvan Widyanto menjelaskan tujuan simulasi untuk mengetahui seberapa jauh jangkauan alat ketika terjadi kebakaran di dalam perkampungan penduduk yang memiliki karakteristik berada di jalan besar.

“Akan kita hitung semua jangkauan menuju perkampungan dan seberapa cepat petugas tiba di lokasi untuk bisa melakukan penanganan mulai kedatangan, persiapan memasang alat hingga eksekusinya,” ujar Irvan usai meninjau simulasi kebakaran di kampung Embong Malang Utara (seberang hotel JW Marriot) pada Sabtu pagi, (15/12/2018).

Selain melakukan simulasi, Irvan juga berkoordinasi sekaligus menghimbau kepada warga, lurah dan camat untuk membongkar gapura dan kabel-kabel yang melintang secara tidak teratur. Menurutnya, hal itu menghambat mobil damkar serta kerja petugas melakukan evakuasi saat terjadi kebakaran. “Saya sampaikan pemahaman agar warga sadar masalah kecil semacam ini. Lebih mementingkan harta atau nyawa?,” tutur pria yang juga menjabat sebagai Kepala Satpol PP Surabaya itu.

Disampaikan Irvan, sepanjang bulan desember 2018, jumlah angka kebakaran di Kota Pahlawan meningkat dibandingkan tahun 2017. Kurang lebih, lanjutnya sekitar 50 persen. “Jadi, kebakaran sepanjang tahun 2018 hingga bulan desember ada 800 kejadian sedangkan tahun lalu hanya 600 kejadian,” ungkapnya.

Mengingat angka kebakaran meningkat, Irvan bersama petugas terus menghimbau dan melakukan sosialisasi kepada seluruh masyarakat Surabaya utamanya mereka yang tinggal di kawasan padat penduduk. “Kita terus lakukan sosialisasi untuk menumbuhkan kesadaran dan tanggap kepada warga saat menghadapi kejadian kebakaran,” terangnya.

Kasi Pengendalian Dinas Kebakaran Kota Surabaya Gatot menambahkan, simulasi ini dilakukan untuk melakukan pemetaan sekaligus pengenalan wilayah padat penduduk apabila terjadi kebakaran menggunakan mobil damkar jenis bronto 55 dan 104.

“Kami ingin melihat seberapa jauh jangkauan titik terjauh dari jalan besar hingga ke dalam perkampungan ini,” terangnya.

Simulasi untuk melihat jangkauan alat dari jalan besar ke dalam kampung, Gatot menyebutkan ada dua cara yang dilakukan. Pertama simulasi kebakaran kering, kedua, simulasi kebakaran basah. “Setelah dilakukan simulasihasil jangkauan sekitar 50 meter dari tepi jalan,” sambungnya.

Ke depan, pihaknya intens melakukan simulasi kebakaran di kampung padat penduduk serta menggencarkan sosialisasi kepada RT/RW dengan memberikan pemahaman kepada warga saat memberikan pertolongan pertama ketika terjadi kebakaran.

“Jadi ketika terjadi kebakaran, yang pertama kali menjadi pahlawan dan melakukan pemadaman adalah warga sendiri. Maka dari itu, tahun 2019 kita sosialisasikan cara yang paling sederhana untuk memadamkan api,” jelasnya.

Mulyono (65) warga kebangsren gang 6 mengapresiasi simulasi yang dilakukan Damkar Kota Surabaya. Baginya, kawasan padat penduduk memang rawan terjadi kebakaran dan sulit untuk dipadamkan mengingat kondisi kampung yang saling berhimpitan.

“Simulasi ini bagus. Setidaknya, ketika terjadi kebakaran petugas PMK sudah mengetahui jangkauan kebakaran dari jalan besar sampai ke dalam kampung sehingga api cepat dipadamkan,” ungkapnya.

Petaling Jaya Malaysia Adopsi Pengelolaan Lingkungan Surabaya

SURABAYA (Swaranews) – Keberhasilan Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya dalam bidang pengelolaan lingkungan, banyak menarik perhatian dari sejumlah pihak. Salah satunya yakni Bandaraya Petaling Jaya Malaysia, yang datang langsung untuk melakukan studi banding terhadap capaian yang telah diraih kota terbesar kedua di Indonesia ini.

Ketua Penolong Pengarah Penghijaun Majlis Bandaraya Petaling Jaya Malaysia Marlena Binti Syafirudin dalam sambutannya menyampaikan kunjungannya bersama rombongan ke Surabaya ini, dalam rangka untuk mempelajari berbagai inovasi pengelolaan lingkungan yang telah berjalan di Kota Surabaya.

“Kedatangan kami ke sini (Surabaya) bersama rombongan untuk mempelajari terkait teknik-teknik pengelolaan lingkungan yang telah berhasil diterapkan oleh Surabaya,” kata Marlena saat menyampaikan sambutannya di ruang sidang wali kota, Rabu, (12/12/2018).

Menurut Marlena, Kota Surabaya dinilai telah sukses dalam bidang pengelolaan lingkungan. Berbagai inovasi pengelolaan lingkungan yang diterapkan Pemkot Surabaya, membuat pihaknya tertarik untuk diadopsi ke kotanya. Bahkan, kata dia, taman yang ada di Surabaya ini dinilai menarik, karena dirawat dengan menggunakan pupuk kompos hasil olahan sendiri.

“Kami telah mengunjungi Taman Bungkul dan Taman Harmoni, sangat kagum dengan taman di sini. Sebab, kalau taman di Malaysia, tidak menggunakan pupuk kompos sendiri, semua dibeli,” ujarnya.

Ia berharap dengan kunjungannya kali ini, pihaknya dapat mempelajari lebih dalam mengenai inovasi-inovasi di bidang pengelolaan lingkungan yang telah dilaksanakan di Kota Surabaya. Sehingga, nantinya dapat diadopsi dan diterapkan di Bandaraya Petaling Jaya. “Kami harap dapat belajar teknik pengelolaan lingkungan, supaya nanti bisa kita terapkan di Bandaraya Petaling Jaya,” terangnya.

Pada kesempatan ini, Wali Kota Surabaya yang diwakili oleh Asisten Perekonomian dan Pembangunan Pemkot Surabaya M. Taswin menjelaskan paparan terkait pengelolaan lingkungan di Surabaya. Dalam paparannya itu, ia menjelaskan inovasi-inovasi yang telah diterapkan pemerintah dalam mengatasi berbagai permasalahan bidang lingkungan.

“Pengolahan sampah di Surabaya dimulai dari rumah tangga. Jadi kami juga melibatkan warga untuk mengatasi masalah limbah rumah tangga ini. Kami menyediakan fasilitas pengelolaan sampah dengan kompos,” kata Taswin.

Taswin mengatakan, untuk mendorong masyarakat agar ikut peduli terhadap lingkungan, Pemkot Surabaya dalam tiap tahun juga mengadakan lomba kebersihan lingkungan. Dengan begitu, dalam tiap tahun volume sampah di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Surabaya semakin menurun. “Di Surabaya juga ada lomba bidang lingkungan. Mulai dari tingkat RT, RW dan Kelurahan. Tujuan kami untuk mendorong warga agar peduli terhadap kebersihan lingkungan,” ujarnya.

Ia mengungkapkan Pemkot Surabaya juga menyediakan fasilitas berupa taman aktif dan pasif yang tersebar di Kota Surabaya. Harapannya, dengan banyaknya ruang terbuka hijau ini, dapat mengurangi tingkat polusi udara. Selain itu, di taman-taman itu biasanya juga dimanfaatkan oleh warga untuk berlibur dan bersantai bersama keluarga. “Taman-taman di Surabaya ini, kami rawat dengan menggunakan pupuk kompos hasil produksi sendiri. Sehingga dengan begitu, kita dapat meminimalisir anggaran biaya untuk perawatannya,” pungkasnya. (mar)

Obituari Selamat Jalan Go Ioe Wan, Salah Satu Tokoh Tionghoa di Jatim

SURABAYA (Swaranews) – Satu lagi tokoh Tionghoa Jatim wafat. Go loe wan, mantan ketua Margo Oetomo 1990 meninggal dunia karena sakit. Semasa hidupnya, ia mengabdi pada masyarakat Tionghoa diantaranya menjadi ketua dewan penasehat perhimpunan tempat ibadah Tridharma Indonesia Jatim, ketua penasehat Shiang You Wei, dewan kehormatan klenteng Sam Poo Sing Bio Surabaya, penasehat yayasan Dharma Mulia, Paguyuban Masyarakat Tionghoa Surabaya dan dewan penasehat Paguyuban Sosial Marga Tionghoa Indonesia Jatim.
Ucapan dukacita datang dari berbagai yayasan Tionghoa se Jatim. Diantaranya Chung Hua Zhong Shiang Hwee Koan Jatim, Tjwan Siok Hwee Koan, Hua Jiao Ing You Se dan 7 yayasan disebutkan diatas.
Bagi keluarga mendiang sebagai sosok ayah yang menjadi teladan bagi anak, menantu dan cucu. “Beliau sosok yang bertanggungjawab terhadap keluarga. Selalu berbuat kebaikan membantu siapa saja yang membutuhkan iluran tangan ini yang perlu dicontoh oleh keluarga,” ujar Lanny Goenawan, putri mendiang.

Bagi ketua klenteng Sam Poo Sing Bio wafatnya Go Ioe Wan atau Ivan Goenawan merupakan kehilangan yang luar biasa. “Saya kehilangan sesepuh yang berjasa menyumbangkan kimsin makco thian shang sen mu dan fu de zheng shen di klenteng. Perjalanan spiritual ke Fujian Meico dan Hainan, kenangan terakhir kami bersama beliau,” kata Chen Ren Ij ketua Sam Poo Sing Bio.
Bagi warga Tambak Bayan, Ivan Goenawan dianggap sebagai dewa chai sen yek yang siap menolong warga Tionghoa. “Saya mewakili warga Tambak Bayan mengucapkan terima kasih atas jasa kebajikan pak Ivan memberikan sembako dan angpao. Hari ini pertemuan terakhir dengan beliau,” ucap  A Hang.
Kenangan bersama pak Ivan diungkapkan oleh kolega sesama marga Go. “Kami merasa kehilangan seorang sahabat yang telah mmeberikan sumbangsih begitu besar demi Margo Oetomo, diantaranya memberikan bea siswa kepada anak pengurus Margo Oetomo,” jelas Go See Djing, Ketua Margo Oetomo 2018.
Hasil sumbangan dari sahabat, kolega disumbangkan kembali ke yayasan Tionghoa melalui anak mendiang Ivan Goenawan. Selamat jalan Go loe Wan bersama Nyo Ai Tje istri tercinta, semoga berbahagia di nibbana! Sun

Niniek K. Rahadjeng (74), Atlet Master Berprestasi Internasional Yang Luput Dari Perhatian Pemerintah

SURABAYA (Swaranews) – 17 Desember ini merupakan hari spesial bagi Dra. Niniek Koesni Rahadjeng, SH. Ia merayakan ulang tahun ke 74 tahun, adalah peraih medali emas atletik PON 1969. Dalam usia lanjut , ia masih berprestasi meraih medali emas atletik master dari berbagai event internasional kategori master (baca lansia). Terakhir Niniek mengikuti event, diantaranya Asia Pasific Master Games di Penang, Malaysia 7-15 September 2018 lalu. Dan berhasil meraih 4 medali, 1 emas dari lempar cakram dan lempar lembing, 1 perak lompat jauh dan tolak peluru.
Dibalik prestasi mengharumkan negara di kancah internasional, tersirat kesedihan kurangnya perhatian pemerintah Indonesia terhadap prestasi atlet master. Niniek menggadaikan rumah dan medali demi ikut kejuaraan atletik master internasional ke berbagai negara diantaranya Bangkok Thailand, Brunei Darussalam, Seoul Korea, Dalian China, India, Paris Perancis untuk membiayai transportasi dan akomodasi yang mahal bagi kantong orang Indonesia.


Di sela kesibukan berlatih atletik, Niniek nyambi berjualan batik untuk menghidupi kebutuhan keluarganya di rumah keponakannya di kawasan Pucang Surabaya. “Meskipun saya atlet nasional namun tak punya rumah. Menumpang di rumah keponakan,” ceritanya.
“Saya prihatin bercampur bangga meski menggadaikan beberapa rumah dan medali namun berhasil mendapatkan medali lomba atletik master internasional demi mengharumkan Indonesia di dunia internasional meski hanya mendapatkan piagam saja dari KONI maupun Pemkot Surabaya tapi kebanggaan tersendiri bagi saya. Saran saya bagi generasi muda rajinlah, tekun dan giat berlatih olahraga sesuai kemampuan masing-masing melanjutkan perjuangan generasi tua demi untukmu Indonesia jiwa raga kami,” lanjut bu Niniek yang disampaikan kepada wartawan swaranews.
Di sela kesibukan berlatih atletik, Niniek nyambi berjualan batik untuk menghidupi kebutuhan keluarganya di rumah keponakannya di kawasan Pucang Surabaya. “Meskipun saya atlet nasional namun tak punya rumah. Menumpang di rumah keponakan.”
“Beginilah duka atlet masa lalu. Berbeda saat ini Presiden Jokowi mengapresiasi atlet peraih medali emas Asian Games diberi penghargaan bonus 1 Milyar,” ujarnya lirih. Sun

 

 

Ziarah ke Taman Makam Pahlawan, Wujud Penghormatan Kodam Brawijaya Terhadap Jasa Pahlawan yang Gugur

SURABAYA (Swaranews) – Serangkaian kegiatan mulai bergulir guna memperingati Hari Juang Kartika (HJK) ke-70, sekaligus menyambut datangnya HUT Kodam V/Brawijaya ke-73, tahun ini.

Pada kesempatan itu, seluruh unsur TNI-AD di wilayah teritorial Kodam V/Brawijaya, khususnya di jajaran Korem 084/Bhaskara Jaya, beramai-ramai mengunjungi Taman Makam Pahlawan (TMP) 10 Nopember, yang berlokasi di Jalan Mayjen Sungkono, Kecamatan Dukuh Pakis, Kota Surabaya. Jumat, 14 Desember 2018 pagi.

Ziarah yang dipimpin langsung oleh Pangdam V/Brawijaya, Mayjen TNI Arif Rahman, M. A tersebut, tak hanya diikuti oleh personel TNI-AD dan Persit saja. Namun, juga terdapat beberapa elemen masyarakat, para veteran hingga personel Polri yang ikut serta mengikuti prosesi ziarah dalam rangka memperingati Hari Juang Kartika, sekaligus menyambut HUT Kodam V/Brawijaya pagi ini.

Menurut Pangdam, acara yang diawali dengan penghormatan kebesaran itu, merupakan suatu bentuk pengabdian para prajurit terhadap para Pahlawan yang telah gugur dalam mempertahankan, sekaligus menjaga kedaulatan NKRI.

“Ziarah ini dimaksudkan untuk mengenang jasa para Pahlawan yang telah gugur memperjuangkan kemerdekaan. Kita juga mendoakan arwah para pahlawan yang telah gugur dalam menjaga keutuhan NKRI,” kata Pangdam usai memimpin prosesi berlangsungnya upacara penghormatan di TMP 10 Nopember, Surabaya.

Tak lupa, dalam ziarah tersebut, karangan bunga juga turut menghiasi TMP 10 Nopember. Menurut Pangdam, karangan bunga itu merupakan simbol penghargaan kepada para pejuang yang secara suka rela mengorbankan nyawanya hanya untuk mempertahankan keutuhan Indonesia.

“Tabur bunga di pusara makam para pahlawan, merupakan penghargaan terhadap perjuangan dan jasa-jasa yang diberikannya kepada nusa dan bangsa,” ungkap Pangdam.

Selain dihadiri Pangdam, berlangsungnya ziarah tersebut, juga diikuti oleh Kepala Staf Kodam (Kasdam) V/Brawijaya, Brigjen TNI Bambang Himawan, Komandan Korem (Danrem) 084/Bhaskara Jaya, para pejabat teras Makodam hingga para Dandim di wilayah Surabaya, Sidoarjo dan Gresik. (mar)

Pemkot Surabaya Sosialisasi Dan Edukasi Dampak Pemotongan Unggas

SURABAYA (Swaranews) – Pe66merintah Kota (Pemkot) Surabaya melakukan sosialisasi dan edukasi terkait dampak pemotongan unggas yang selama ini dilakukan di pasar tradisional Kota Surabaya. Hal ini dilakukan untuk mencegah penularan penyakit unggas kepada manusia dan pencemaran lingkungan.

Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kota Surabaya Joestamadji menuturkan, pemkot memiliki dua opsi untuk mencegah pemotongan unggas di pasar tradisional yang kemudian menimbulkan penyakit bagi manusia dan lingkungan. Pertama, memusatkan pemotongan unggas di satu lokasi dengan membangun Rumah Pemotongan Unggas (RHU). Kedua, pemkot menyediakan daging unggas dalam bentuk karkas sehingga siap diperjualbelikan di pasar.

“Dua opsi ini masih kita kaji, nanti tergantung opsi mana yang cocok untuk diterapkan,” ujarnya di Kantor Humas Pemkot Surabaya pada Rabu, (12/12/2018).

Menurut Joes – sapaan akrabnya, penting melakukan pemusatan pemotongan unggas. Sebab, kata Dia, sudah tertuang dalam Perda Kota Surabaya No 8 tahun 1995 tentang penampungan dan pemotongan unggas pasal 10. “Setiap pemotongan usaha pemotongan unggas harus dilakukan di dalam rumah pemotongan unggas yang memiliki izin dari kepala daerah,” terangnya.

Selama ini, pihaknya juga melakukan berbagai upaya pencegahan penyakit menular yang disebabkan dari unggas melalui vaknisasi terhadap unggas di beberapa sektor. Sektor 1 dan 2, lanjutnya, masuk dalam skala besar yakni perusahaan ayam kemudian sektor 3 dan 4 meliputi skala menengah dan kecil.

“Khusus di sektor empat, kami sudah melakukan vaknisasi 50 ribu ayam dan burung di bulan April dan oktober 2018,” kata Joestamadji.

Tidak hanya vaknisasi, Joes mengungkapkan bahwa pihaknya melakukan penyemprotan di kandang ayam serta unggas yang berada di pasar dan kampung-kampung. “Penyemprotan harus dilakukan untuk mencegah berbagai macam penyakit menular dari unggas,” sambungnya.

Ia berharap, dengan melakukan kegiatan vaksinasi setiap tahun serta rencana mendirikan Rumah Pemotongan Unggas (RPU) mampu membawa dampak positif bagi masyarakat. “Semoga bisa mencegah dan mengurangi penyakit menular dari unggas,” imbuhnya.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup (LH) Kota Surabaya Agus Eko menjelaskan, jika pemotongan unggas tidak dilakukan secara terpusat, maka dampak pemotongan unggas mencemari air limbah yang tidak terkelola dengan baik melalui IPAL dan akan tersebar ke saluran-saluran area pemotongan unggas.

“Selain itu, menimbulkan penyakit bagi manusia dan pencemaran udara berupa bau tidak sedap di sekitar area pemotongan unggas serta menggangu estetika kota serta kenyamanan warga kota,” jelas Agus.

Oleh karenanya, Agus merekomendasikan agar pemotongan unggas dilaksanakan secara terpusat di Rumah Potong Unggas (RPU) dengan IPAL yang memadai untuk mencegah timbulnya pencemaran lingkungan dari air limbah pemotongan unggas. “Jika pemotongan unggas tidak dilakukan secara terpusat, itu akan sangat membahayakan bagi kelangsungan hidup manusia,” terangnya.

Sementara itu, Kepala Bidang Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit Dinas Kesehatan Surabaya, Mira Novia menambahkan, lingkungan di pasar harus bersih. Pasalnya, lingkungan pasar yang tidak bersih akan menimbulkan berbagai macam jenis penyakit menular, salah satunya flu burung.

Kendati demikian, Mira menegaskan, penularan penyakit yang berasal dari unggas belum terjadi di Surabaya selama kurang lebih 4 tahun terakhir. “Terakhir penyakit flu burung menyerang manusia dan unggas tahun 2013-2014, tapi sejak itu sudah tidak ada sampai saat ini,” tuturnya.

Wali Kota Bogor Belajar Kampung Tematik dan Naturalisasi Sungai ke Wali Kota Risma

SURABAYA (Swaranews) – Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini menerima kunjungan kerja Wali Kota Bogor Bima Arya Sugiarto beserta jajarannya, kepala dinas, camat dan lurah di ruang sidang Wali Kota Surabaya, Rabu (12/12/2018). Dalam kunjungannya kali ini, Bima Arya dan jajarannya fokus belajar pada dua hal, yaitu pengelolaan kampung tematik yang menyebar di Kota Surabaya dan naturalisasi sungai.

Pada kesempatan itu, Wali Kota Risma menyampaikan bahwa kampung tematik di Kota Surabaya memang sengaja dirawat. Bahkan, sudah menyebar di berbagai kampung di Surabaya. “Yang paling penting adalah menumbuhkan kesadaran warga untuk sama-sama menjaga dan peduli pada kampungnya,” kata Wali Kota Risma saat pertemuan itu.

Saat itu, Wali Kota perempuan pertama di Kota Surabaya itu juga menjelaskan tidak ada hari tanpa mengeruk sungai, sehingga lama kelamaan sungai itu bersih dengan sendirinya. Ia juga mengaku memulai pengerukan itu dengan hanya dua alat berat, tapi sekarang sudah puluhan alat berat yang setiap hari bekerja mengeruk sungai dan saluran. “Jadi, tiap hari alat berat itu mengeruk, kemudian hasil kerukannya itu digunakan untuk membangun taman dan pemakaman di Surabaya,” kata dia.

Wali Kota Risma menyebutkan bahwa hingga saat ini pengerukan sungai dan saluran sudah mencapai 2.865.002 meter persegi. Bahkan, saat ini Pemkot Surabaya sudah tidak ada lagi anggaran untuk membeli ranah urukan. “Melalui cara ini, Alhamdulillah kita bisa menghemat sebesar Rp 14 miliar untuk urukan,” tegasnya.

Selain itu, Wali Kota Risma juga menyampaikan banyak hal tentang cara penertiban PKL dan pemberdayaan warga. Bahkan, pada kesempatan itu pula, Wali Kota Risma mengajak Bima Arya memasuki ruang kerjanya yang terpajang ratusan monitor CCTV. Saat itu, ia menjelaskan bagaimana mengontrol Kota Surabaya dari ruang kerjanya itu, mulai keamanan, pompa air dan arus lalu lintas.

Saat di ruang kerjanya itu, Wali Kota Risma juga menyarankan kepada Bima untuk membuat system pendeteksi angin dan hujan. Apalagi, Bogor saat ini tengah diterpa musibah angin putting beliung, sehingga cocok untuk menerapkan system itu. “Saya sarankan Pak Bima untuk membuat ini dulu, karena ini sangat penting menurut saya di Bogor,” kata dia.

Sistem itu merupakan pendeteksi angin dan hujan yang nyambung dengan sistemnya BMKG. Melalui system itu, pergerakan angin dan lokasi-lokasi yang hujan bisa diketahui dengan terdeteksi.

Sementara itu, Wali Kota Bogor Bima Arya Sugiarto manggut-manggut dan mengiyakan masukan Wali Kota Risma itu. Ia juga sangat tertarik untuk mengadopsi system itu untuk dibawa ke Bogor. “Jadi Bu Risma itu tahu apa yang dibutuhkan Bogor sekarang. Apalagi kita baru saja mengalami angin puting beliung. Memang tidak bisa dihindarkan, tapi kita bisa mengantasipasi itu dengan cara tanda-tanda alamnya. Bu Risma punya itu, kita akan minta itu untuk diaplikasikan nanti di Bogor,” kata Bima seusai bertemu Wali Kota Risma.

Menurutnya, yang paling penting sudah ada sistemnya, sehingga selanjutnya tinggal bekerjasama dengan instansi terkait (BMKG) dan stafnya bisa membaca system itu. Selama ini, kata dia, kalau cuaca belum sampai secanggih itu, karena selama ini hanya mendapatkan informasi dari BMKG, dan itu prosesnya agak lama. “Rencananya, system itu akan kami terapkan juga di Bogor, sehingga angin putting beliung bisa dibaca tanda-tanda alamnya secara cepat,” tegasnya.

Ia juga mengaku banyak sekali yang bisa diambil dari kunjungan itu. Bahkan, saran-sarannya juga sangat banyak didapatkan dari pertemuan itu, termasuk penertiban PKL, pemberdayaan ekonomi warga dan pelayanan publik. “Banyak tadi saran-saran dari Bu Risma, bahkan yang sangat teknis sekali. Saya ucapkan terimakasih banyak kepada Bu Risma karena saran-sarannya sangat aplikable untuk diterapkan di lapangan,” pungkasnya. (mar)

Ads